
Masih pagi-pagi buta, sekitar jam 4 dini hari. Yoo Ra terjaga karena ponsel yang masih berada di dalam sakunya bergetar terus menerus. Dengan posisi nyawa masih belum terkumpul penuh, ia melihat layar ponsel yang menyilaukan.
Tanpa melihat nama orang yang menelponnya, ia segera menjawab panggilan itu. “Halo... siapa ini?”, “Nona... Aku mohon nona segera pulang dan pergi ke kantor, ada masalah besar disini.” Mendengar suara kepanikan itu membuat Yoo Ra beranjak dari tidurnya, Yoo Ra menduga kalau masalah ini ada hubungannya dengan Kim Jae.
“Nona, kau masih disana kan. Aku akan menjemputmu sekitar jam 1 jam lagi, ini sangat mendesak.” Sungguh berita tak terduga dari sekretaris pribadi pamannya, meminta Yoo Ra untuk segera pergi dan meninggalkan acara ini. “Tidak usah repot-repot, sebentar lagi aku akan kesana. Aku juga bawa mobil sendiri ketika menuju kesini. Aku akan mengemudi.” Jawab Yoo Ra. “Baiklah, hati-hati.” Tutur sekretaris Min.
Yoo Ra bingung harus bagaimana, dengan terpaksa ia harus menyerahkan semua acara ini kepada seseorang yang ia percayai. Yeon Jin tertidur di kursi dan Yoo Ra tidak enak hati untuk membangunkannya, jadi Yoo Ra pergi ke tenda para senior untuk meminta bantuan.
Kebetulan para senior dan teman-teman panitia yang lain sudah terjaga untuk melakukan acara olahraga pagi. Udara dingin, Yoo Ra melipat tangannya dan mendekati mereka. Yoo Ra melihat seseorang yang sedang duduk di bangku dari batang kayu, orang itu menundukkan kepalanya.
“Itu, senior Jae Won...” Gumam Yoo Ra yang melihat kalau orang itu adalah Jae Won. Ia melihat sekitar, dan sangat terlihat sibuk untuk persiapan. Hanya ada satu orang yang bisa mengambil alih acara ini dengan baik, yakni meminta bantuan Jae Won.
Dipikir-pikir, tadi malam saat pertengkaran mereka, Yoo Ra agak canggung. “Lupakan saja, itu sudah berlalu. Ayo...” Ucap Yoo Ra yang berbicara sendiri meyakinkan dirinya melawan ketakutannya.
Yoo Ra mendekati Jae Won yang sedang tertunduk lelah, sepertinya dia tak bisa tidur semalaman, dan juga, tangannya terluka seperti sudah memukul tembok.
“Senior Jae Won...” Lirih Yoo Ra dengan menyentuh bahu Jae Won. “Sudah kubilang jangan ganggu aku, kamu cuman mahasiswa baru, kita aja baru kenal.” Jawab Jae Won yang membuat Yoo Ra bingung, Yoo Ra berpikir kalau ada salah satu junior yang sedang menganggu Jae Won.
“Ini aku...” Ucap Yoo Ra kembali. Perlahan Jae Won mengangkat kepalanya dan melihat seseorang yang berdiri di depannya. “Maafkan aku, ada apa?” Jae Won menatap Yoo Ra dengan penuh rasa harap, namun Yoo Ra berbalik dan duduk di sebelahnya.
Langit masih gelap, dan mereka duduk berdua diantara keheningan. “Untuk yang tadi malam, aku minta maaf.” Ucap Yoo Ra. “Tidak perlu, seharusnya aku yang meminta maaf. Aku hilang kendali.” Tegas Jae Won untuk segera menghilangkan keraguan pada diri Yoo Ra.
Daripada basa-basi, Yoo Ra langsung ke intinya bahwa ia sedang butuh bantuan. “Aku harus pulang lebih awal, sekitar 1 jam lagi aku akan kembali ke kota. Aku meminta bantuanmu untuk mengambil alih tugas-tugasku sebagai ketua panitia. Bisakah? Aku hanya percaya padamu, senior Do...”.
Jae Won melunak, dan pada akhirnya dia menyetujui permintaan Yoo Ra tanpa mempertanyakan sesuatu.
__ADS_1
Yoo Ra berterima kasih dan membungkukkan badan, kemudian mengucapkan selamat tinggal dan sampai jumpa di kampus. Saat berdiri dan akan pergi, Jae Won menahan lengan Yoo Ra, “Sungguh aku tidak diberi kesempatan?”.
“Aku tidak ingin membahasnya, tapi aku juga ingin meluruskan semuanya.” Jawab Yoo Ra. “Kalau begitu, lusa kita bertemu, jam 5 petang di taman dekat jembatan Banpo. Tempat yang dulu pernah kita kunjungi...”, “Di pohon janji? Aku akan datang.” Setelah mengatakan itu, Yoo Ra segera pergi dan meninggalkan Jae Won sendiri, sendiri...lagi...
Jae Won menahan air matanya, seseorang yang sudah ia sukai selama ini telah memilih orang lain.
---
Yoo Ra kembali dan mendapati Yeon Jin yang sudah terbangun. “Darimana? Dingin begini kok keluar?” tanya Yeon Jin yang sedikit khawatir. “Ada urusan sebentar, kok bangun? Lanjut tidur sana.”,”Kita... Harus pulang duluan. Sebentar lagi ada rapat darurat.”. Yoo Ra terkejut karena Yeon Jin mengetahui hal ini juga.
Yeon Jin menceritakan kalau ia juga mendapat panggilan dari dewan perusahaan, ada rapat darurat mengenai Nam Group. Kebetulan Park Group juga terlibat dalam hal ini, Nam Group dan Park Group adalah dua perusahaan yang sudah melakukan kerja sama besar, digadang-gadang suatu hari nanti perusahaan ini akan menjadi satu dan menalukan para perusahaan lainnya.
“Langitnya masih gelap, kalau nunggu matahari terbit juga bakal lama.” Gumam Yoo Ra, “Kenapa? Takut gelap?” Yeon Jin mulai menggoda Yoo Ra yang sangat tidak nyaman dengan kesunyian bukit.
Mereka berdua pergi dari camp dan turun, sepanjang perjalanan menuruni bukit, Yeon Jin tidak melepaskan genggaman tangannya. Entah apa yang membuatnya seperti ini, tapi dia tidak ingin terpisah dari gadis ini.
Setelah lebih dekat, Yoo Ra bukanlah gadis yang terkenal dengan sifatnya yang dingin, justru kepribadiannya sangat unik, dan juga bisa menempatkan diri sesuai suasana.
Yeon Jin sangat nyaman, dan juga terpana karena Yoo Ra adalah gadis yang sangat spesial. “Oke, aku bingung menyebutmu sebagai apa, peri atau princess itu juga sama saja. Intinya... Ayo pergi bekerja, terus jangan lupa berkencan.” Ucap Yeon Jin dengan menarik tubuh Yoo Ra dan menempatkannya di punggung lebarnya.
Yoo Ra tertawa melihat tingkah laku Yeon Jin yang lebih memilih menjadi pria humoris daripada romantis. “Ayo pangeran kuda... bawa aku turun ke bawah ya. jalan...” Yoo Ra berteriak dan menambah suasana menjadi ceria. Tawa mereka tak tertahankan. Tidak terlihat seperti pasangan kekasih, justru mereka saling memberikan kejutan-kejutan yang lebih romantis daripada sekedar bergandengan tangan.
-
-
__ADS_1
-
Rapat dewan sangat mencekam, bahkan Kim Jae sendiri gugup. Permasalahan intinya adalah, ketika Kim Jae mengambil alih, harga saham dari Nam group menurun drastis. Sudah sangat terlihat bahwa ini sepenuhnya bukan salah dari Kim Jae yang mengambil alih perusahaan, tapi ulah para direktur yang tidak berpihak kepada Kim Jae.
Yoo Ra dan Yeon Jin yang datang meghadiri rapat darurat ini, menyaksikan pertarungan antara jabatan yang mengerikan.
Kim Yoo bergantung kepada Yoo Ra, dengan menjadikannya sebagai salah satu direktur, demi voting yang memenangkan Kim Jae.
Semua dewan dan direktur tidak terlalu yakin kalau Yoo Ra bisa menjadi direktur komersial, mengingat usia Yoo Ra yang sangat muda membuat mereka ragu dan berpikir kalau ini hanya permainan Kim Yoo supaya Kim Jae bisa menjadi presdir, dan mereka juga sudah tahu kalau ahli waris yang asli adalah Kim Jae Rim.
Ada sebuah file yang menjadi syarat utama pengangkatan direktur baru. Tentunya haru memiliki pengalaman. Walau Yoo Ra terbantu dengan status nona besar yang ia miliki, tentu saja ia harus memiliki bukti kemampuannya.
“Baiklah, saya menyetujuinya. Selama program magang, saya bersedia menjadi sekretaris dalah satu direktur. Jika saya berhasil membuat kontribusi besar, saya akan mengisi posisi direktur komersial. Ada yang lain?” Ucapan Yoo Ra terdengar di seluruh ruang rapat, mereka tercengang dengan jawaban Yoo Ra.
Mereka tidak mengira bahwa sang nona bukanlah gadis yang kuliah dan menikmati kesenangan masa muda saja, pemikiran dewasa seperti ini jarang dimiliki oleh gadis seusianya. Mengemban tanggung jawab dengan ucapan seperti ini bukanlah isapan jempol belaka, nada tegas Yoo Ra sudah membuktikan kalau dia bisa menjadi direktur di perusahaan ini.
“Nona Kim, saya terkesan dengan keputusan anda. Saya sangat mendukungnya, namun ada satu perihal lagi yang sangat penting disini.” Salah satu direktur mengatakan hal itu, para dewan yang hadir saling berpandangan satu sama lain, bertanya-tanya apa ada satu hal lagi yang terlewat. Jelas-jelas ini sudah final.
“Nona tidak bisa magang di perusahan ini, nona harus magang di perusahaan lain. Kita ingat kembali, sebelumnya, nona selalu membantu para karyawan disini, terlebih lagi nona sudah paham mekanisme kantor Nam Group, saatnya anda keluar dari zona nyaman.” Sambung ucapan direktur itu.
Yoo Ra menghela napas, ia mengerti kenapa direktur itu berkata demikian. Kalau ia magang diperusahaannya sendiri, kemungkinan besar akan mendapatkan perlakuan khusus, jadi ia mendapat saran untuk magang di perusahaan lain. Dengan begitu, peluanya menduduki kursi direktur sangat besar dibanding magang di perusahaan sendiri.
“Nona Kim akan magang di perusahaanku, jabatannya juga sama, yakni menjadi sekretaris. Tapi... para direkturku sudah memiliki sekretaris pribadi, dan jika aku memecatnya akan menjadi sia-sia. Jadi, aku sendiri yang akan menjadi bosnya, noan Kim akan menjadi sekretaris pribadiku, bagaimana?” Ucap Yeon Jin yang mengejutkan.
Yoo Ra yang terdiam kini membelalakkan mata, dan tidak percaya kalau Yeon Jin adalah calon bosnya.
__ADS_1
Para dewan menyetujui pendapat Yeon Jin, dan mempercayakan Yoo Ra sebagai sekretaris pribadinya. Bukan lelucon jika menjadi sekretaris CEO. Yoo Ra sendiri berkaca kepada sekretaris pribadi pamannya, yakni seketaris Min. Yoo Ra melihat sekretaris Min yang selalu mengikuti bosnya kemanapun dia pergi.
“Baiklah, sudah final. Program magang musim panas besok, nona besar Kim akan mulai menjalankan tugasnya sebagai sekretaris pribadi CEO Park Yeon Jin.”