
Gemerlap lampu di taman, meja-meja tertata dengan sampanye, anggur, serta cocktail. Kudapan berlalu lalang dibawa oleh pramusaji, semua orang menyambut dan berjabat tangan menunjukkan kesopanan.
Dua orang keluar dari sebuah mobil tepat di depan gerbang taman, penyelenggara pesta membawa pasangannya dan masuk untuk menjamu para tamu yang sudah hadir. Pasangan itu mengalihkan semua kegiatan, dan tertuju hanya kepada mereka.
“Gugup?” tanya Yeon Jin kepada pasangan yang dia bawa untuk acara ini. Yoo Ra yang menjadi pasangannya menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak gugup, walaupun pesta ini adalah kali pertama yang pernah ia hadiri.
Yeon Jin kembali berbicara dan mengatakan bahwa dialah yang gugup saat ini, Yoo Ra mengerutkan dahi dan bertanya-tanya, mengapa bisa? Bukankah dia sering menghadiri acara seperti ini?
“Tentu aku sangat gugup, karena aku membawa pasangan di acara seperti ini.” Ucap Yeon Jin. Jadi selama ini Yeon Jin menghadiri pesta tanpa pasangan? Tentu ini membuat Yoo Ra sangat gemas, mengingat Yeon Jin sendiri tidak pernah gugup saat menghadapi banyak orang.
Sibuk dengan peran masing-masing, Yoo Ra dan Yeon Jin harus berpisah sementara setelah meletakan tas dan coat mereka di gedung untuk melakukan pembicaraan bersama lawan bicara mereka, membahas tentang pekerjaan tentunya. Bertemu banyak tamu dari negara asing, beruntungnya Yoo Ra bisa menguasai beberapa bahasa. Berkat kutukan yang istimewa ini.
Rupanya Kim Yoo dan Eun Jin menghadiri acara ini, mereka sangat serasi, bahkan Yoo Ra bertanya kapan mereka akan menikah, dan jawaban yang diterima hanyalah... segera.
“Selalu seperti itu, entah kenapa aku sangat ingin melihat kalian di altar.” Kata Yoo Ra. Eun Ji tersipu dengan kalimat itu, dan Kim Yoo mempererat genggaman tangannya. Sangat terlihat mereka berdua saling mencintai bukan?
Berjalan mencari seseorang dengan membawa satu gelas sampanye di tangan, Yeon Jin menghampiri mereka bertiga. Menyapa Kim Yoo dan Eun Ji, meminta mereka untuk menikmati pesta malam ini hingga ke penghujung acara nanti.
Langit yang cerah penuh bintang dan bulan sabit sedang tersenyum, sejenak Yoo Ra merasa lehernya seperti tercekik. Menapakkan tangan ke meja dengan memegang kepala, apa yang salah dengan dirinya?
Sama sekali tidak mabuk, anggur dan sampanye tidak berani disentuhnya, kenapa tubuhnya bergemetar. Yoo Ra berlari ke arah gedung di dalam taman itu untuk menenangkan diri, napasnya tidak teratur, kepalanya sangat sakit seperti baru saja dihantam oleh batu.
Pesta belum berakhir, tapi Yoo Ra menghilang begitu saja. “Permisi, anda melihat wanita yang bersamaku tadi?” tanya Yeon Jin kepada salah satu pelayan disana. Pelayan itu menunjuk ke arah gedung dan berkata bahwa Yoo Ra berlari ke arah gedung itu.
__ADS_1
Yeon Jin mendapati Yoo Ra yang duduk di kursi dengan tangan mengadah ke kepala, ada apa lagi? Apa yang terjadi dengannya. Saat mendekati Yoo Ra, Yeon Jin menanyakan apakah dia sedang sakit? Yoo Ra hanya berbicara bahwa kepalanya sangat sakit, wajahnya memucat, bahkan bola mata Yoo Ra yang putih mendadak berubah menjadi biru keunguan.
Yeon Jin bingung, apa yang harus dia lakukan, mengingat mereka tidak boleh sembarangan dirawat oleh dokter. Yoo Ra melirih, “Ponselku... tolong telepon Emma...”, Yeon Jin bingung, mengapa harus menelpon Emma? Biarlah, mungkin ini adalah solusi.
Emma yang sedang apel dan mengupasnya dengan pisau tajam yang sudah dipersiapkan para asistennya dan menonton serial televisi, ponselnya berbunyi dan langsung mengangkat tanpa melihat nomor siapa itu.
“Sakit kepala? Lalu apa hubungannya denganku? Minum obat dong...” kata Emma dengan ponsel yang terjepit diantara bahu dan telinganya. Yeon Jin sudah yakin bahwa Emma tidak akan menolongnya. “Apa yang akan terjadi dengan Yoo Ra yang separuh roh dan manusia tiba-tiba bola matanya membiru dan keunguan. Aku harap ini bukan hal serius, apa aku bisa membawanya ke dokter?” ujar Yeon Jin menjelaskan kondisi Yoo Ra.
Emma tersentak dan teringat sesuatu, dia berdiri dan pisau di tangannya terjatuh sehingga mengejutkan para asistennya. “Dimana dia sekarang? Bawa dia ke toko bunga Dal Rae... Cepat...” teriak Emma dan segera menutup flap ponselnya.
Tanpa menutup acara, dan menyerahkan semua kepada salah satu staffnya. Yeon Jin segera membawa Yoo Ra ke toko bunga itu, hanya Dal Rae yang tahu kondisinya. “Yoo Ra... masih sakit?” tanya Yeon Jin, Yoo Ra hanya terdiam dan mengangguk pelan. Sedikit sakit tapi tidak separah tadi, Yoo Ra mengambil kaca dan melihat bola matanya yang memutih dengan bintik biru yang sangat mengkilap, bahkan seperti galaksi yang memunculkan banyak bintang.
---
“Bagaimana ini? Ini cukup serius, tapi aku belum tahu pasti apa penyebabnya. Tapi... sejauh yang aku tahu... kau harus segera kembali.” ucap Emma yang berdiri di dekat Dal Rae. Dal Rae memeriksa apakah Yoo Ra baik-baik saja, dan Dal Rae mengeluarkan satu kalimat, “Liontin mawarmu sekarang ada dimana?” ucap Dal Rae dengan wajah sinis.
Bagaimana bisa? “Hilang...” ucap Yoo Ra yang mengangkat kantong biru itu dan melihat bahwa liontinnya sudah hilang. Bahkan ikatan yang biasa dipasang juga berbeda. Dal Rae mengembuskan napas berat, teringat kembali jika benda itu rusak atau kelopaknya beguguran, maka... perlahan-lahan ingatan Yoo Ra di kehidupan ini akan hilang dan jika kembali ia tidak akan bisa membawa pengetahuan apapun demi merubah hidup disana.
Emma terduduk lemas, sangat tidak ingin kalau Yoo Ra mengalami ini. Emma hanya bisa meminta Yoo Ra untuk menjaga diri, dan segera menemukan kembali liontin itu. Saat Emma, Dal Rae, dan Yeon Jin sedang membicarakan masalah siapa yang mencuri benda itu, Yoo Ra terdiam tanpa reaksi dan menatap ke bawah dengan pandangan kosong.
Kepalanya tidak sakit, begitu juga dengan matanya, sudah normal kembali. tapi telinganya berdengung, sama sekali tidak mendengar pembicaraan mereka, hanya dengungan dan mendengar suara tangisan.
“Ibu...” ucap Yoo Ra yang menghentikan pembicaraan ketiga orang itu. Mereka melihat Yoo Ra secara bersamaan, bahkan beberapa tetes air mata jatuh, mengalir sendirinya dan tanpa ekspresi.
__ADS_1
Sebuah tangan menepuk bahunya, seketika dengungan dan suara tangisan yang didengarnya menghilang. “Kau...kenapa? tanya Dal Rae kemudian menyambung, “Kau mendengar apa yang baru saja kita bicarakan?”
Yoo Ra mendongak, dan menatap ketiga orang di depannya, dan bertanya-tanya ada apa. “Ya?” Yoo Ra mengerutkan dahi, apakah mereka sedang membicarakan sesuatu dengannya?. Melihat ini, Emma mulai tersadar bahwa dia harus memeriksa seseorang yang tahu tentang Yoo Ra. Emma segera pergi dan terdengar dentingan lonceng pintu toko yang terhempas keras.
Emma bergumam sendiri dan akan mencari siapa yang sudah menyebabkan kekacauan ini, bukan hanya Yoo Ra yang akan menderita, tapi dimensi portal akan terganggu dengan hilangnya mawar putih itu.
---
Yeon Jin berada di luar pintu apartemen Yoo Ra, bertanya apakah Yoo Ra ingin ditemani untuk malam ini?
Saat membuka pintu dan mendengar hal itu, Yoo Ra menggeleng dan tersenyum masam, mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan ingin sendirian. Pikirannya sudah berkabut, beruntungnya masih mengingat semua yang ada disini.
Yeon Jin tersenyum, sedikit kecewa, “Selamat malam, besok aku jemput.” Kata Yeon Jin dengan melambaikan tangan.
Di tempat tidur, Yoo Ra memandang langit-langit yang berhiaskan lampu gantung. Tatapannya kosong, perlahan mendapat suatu gambaran. Seorang gadis terbaring dengan seluruh keluarga di sampingnya. Seketika dirinya tersentak dan bangun, “Separah itukah aku? Apa aku akan mati?” sangat jelas jantungnya berdetak dengan kencangnya, gambaran yang menakutkan, ingin sekali segera bertemu dengan keluarga disana.
Meringkuk sendirian, banyak sekali suara-suara yang terdengar, menutupi kedua telinga dengan sekuat tenaga, suara itu masih saja terngiang.
“Bisa gila aku.” ucap Yoo Ra sendiri, ketakutan...
Suaranya sangat menggema, Yoo Ra sudah menduga bahwa ini akan terjadi secepatnya jika ia kehilangan mawar itu.
Yoo Ra mengacak-acak tas yang dibawanya tadi, melihat kantongnya masih ada beserta cincin bulan itu. Yoo Ra kembali berpikir, mengingat kembali kejadian yang dulu, mawar itu bisa menarik cincin ini. Apakah ia harus mencobanya?
__ADS_1
Entahlah, jika mawar itu bereaksi dengan mengeluarkan cahaya terang, cincin ini akan ikut tertarik dan bersinar terang pula. Tapi apakah harus berkeliling untuk mencarinya? Tentu akan melelahkan.
Di kepala Yoo Ra saat ini adalah, siapa yang berani mencuri benda itu? Jika orang itu mencurinya, berarti dia tahu sesuatu tentang mawar putih ini. “Apa terjatuh? Tidak mungkin... sama sekali tidak mungkin.” Gumam Yoo Ra.