
Jelas-jelas Yoo Ra sudah menyadari kalau perasaannya yang bingung kini sudah memihak ke sosok pria yang bernama Park Yeon Jin, namun ia harus berhadapan dengan pria yang juga menyukai dirinya.
Di depan ruang rapat masih banyak orang yang keluar dari dalam ruangan, mereka berhenti sejenak dan menyaksikan tontonan drama kedua orang ini. Jae Won menarik tangan Yoo Ra dan berkata, “Aku rindu, aku rindu padamu.”. Orang-orang yang menyaksikannya semua kaget dan bengong, rupa-rupanya Jae Won berterus terang kepada seorang gadis.
“Bisakah tidak membahas itu disini?” Ujar Yoo Ra dengan menahan perasaan tidak enak.
Wanita manapun yang diperlakukan seperti itu dihadapan banyak orang memang sangat memalukan, bahkan ingin sekali mengubur diri. Yoo Ra menengok ke kanan dan ke kiri untuk melihat reaksi orang-orang disekitar dan berharap ada malaikat yang membantunya keluar dari situasi memalukan ini.
Beruntung sekali, ada malaikat yang bersedia membantunya. “Tidak baik untuk melakukan itu disini, ingat status tinggimu itu tuan asisten dosen.” Suara pria yang lembut dan dingin terdengar di telinga semua orang yang mendengarnya, berdiri di tengah-tengah Yoo Ra dan Jae Won dan membelakangi Yoo Ra. Wajah sang pria sama sekali tidak terlihat oleh Yoo Ra, karena topi dari hoodienya yang menutupi.
“Bukannya dia menolakmu ya? Sangat disayangkan, lain kali berusaha ya. Tapi dia targetku, biar aku membawanya dan jangan halangi aku atau kau mendapat konsekuensinya.” Suara itu terdengar lagi dan berusaha menampik tangan Jae Won yang sedang mengenggam tangan Yoo Ra. “Target?” Ucap dalam hati Yoo Ra yang sudah merasa kacau.
“Ayo pergi.” Ucap pria itu dan menarik Yoo Ra untuk ikut pergi bersamanya. Jae Won pasrah dan terpaksa melepaskan genggamannya.
Yoo Ra ditarik paksa untuk ikut dengan pria itu, berusaha keras untuk melepaskan diri, namun hatinya sangat ingin mengikuti pria itu. Tangan yang ditarik sekuat tenaga dan sangat terlihat kulit dipinggir genggaman itu mulai memerah. “Tunggu dulu... Hei!” Teriak Yoo Ra yang tak direspon. Jarak ke lorong itu lumayan jauh, berlari-lari kecil naik turun tangga menuju lorong yang sangat sepi.
“Kalau ini penculikan pasti tidak mungkin, mana ada penculik yang terang-terangan?” Gumam Yoo Ra. Sesampainya di lorong, tubuh Yoo Ra didorong perlahan ke dinding, pria itu membuka topi hoodienya dan mendekatkan wajah ke arah Yoo Ra.
“Tu...Tuan... aku mohon lepaskan aku, betapa bodohnya kau menculikku.” Yoo Ra memohon dan memjamkan mata supaya pria itu melepaskannya dan tidak melukainya.
“Jangan menanggapinya, aku mohon jaga diri baik-baik kalau tidak bersamaku. Apa katamu? Aku bodoh?” Ucap pria itu yang ternyata adalah...
“Senior Yeon Jin.” Yoo Ra terkejut dan ingin sekali menangis, perasaannya sedang tidak bisa dikontrol, karena takut akan terjadi hal buruk saat ia ditarik kesini. Yoo Ra takut kalau ia akan dilukai disini oleh seorang pria misterius. Melihat Yeon Jin yang seperti ini membuatnya berkaca-kaca dan tangannya mulai dingin karena cemas.
“Ini aku, maaf sudah dandan seperti ini, lain kali tidak aku ulangi.” Jawab Yeon Jin. Yoo Ra yang masih merasakan sesak karena cemas dan berlari-lari tadi, kini sudah agak lega walau mata sedikit berkaca-kaca. “Aku minta maaf, aku mohon jangan menangis.” Ujar Yeon Jin dengan mengusap pipi Yoo Ra.
“Aku pikir aku akan mati hari ini, tidakkah kau sadar kalau dandananmu mirip dengan gangster? Dan juga target, target apaan?” Jawab Yoo Ra dengan menenangkan diri, tidak heran Yoo Ra masih agak lemas karena ia mudah panik akan sesuatu.
“Kau sudah besar, tapi kenapa menggemaskan?” Kata Yeon Jin, “Minggir, aku tidak ingin bercanda.”
Saat Yoo Ra ingin melepaskan diri dari Yeon Jin, tubuh mungilnya tidak bisa pergi begitu saja. Saat ingin melepaskan diri, dengan cepat tangan Yeon Jin menangkap tubuh mungil Yoo Ra dan mendekapnya kepelukan Yeon Jin. “Iya... “ Dengan membelai lembut kepala Yoo Ra untuk berusaha meminta maaf.
Walau sudah ditenangkan, namun Yoo Ra masih merasa kesal karena candaan ini sudah hampir kelewatan. “Lepaskan aku...”, “Tidak, aku mau nanya.” Yoo Ra sudah paham, kalau Yeon Jin bertanya hal seperti ini, pasti ada hubungannya dengan perasaan.
(Yeon Jin)
“Aku siapamu?”
(Yoo Ra)
“Seniorku.”
(Yeon Jin)
“Selain itu?”
__ADS_1
(Yoo Ra)
“Temanku.”
Yeon Jin mulai kesal dengan jawaban Yoo Ra dan mempererat pelukannya supaya Yoo Ra peka dengan pertanyaannya.
(Yeon Jin)
“Selain itu? Tidak tidak , selain senior dan teman.”
(Yoo Ra)
“Tetangga yang menyebalkan.”
(Yeon Jin)
“Apa kau bilang? ”
(Yoo Ra)
“Bukannya cukup jelas?”
(Yeon Jin)
“Ckckck... Aku pacarmu kan?”
(Yoo Ra)
(Yeon Jin)
“Kapan kau mau menerimaku?”
(Yoo Ra)
“Gak tau. Mungkin enggak.”
(Yeon Jin)
“Yoo Ra-ssi, kenapa kau jadi gadis jahat, kalau tidak menjawab dengan jujur aku gak bakal lepasin.”
(Yoo Ra)
“Iya iya... “
(Yeon Jin)
__ADS_1
“Jadi... Kapan mau jawab iya?”
(Yoo Ra)
“Kalau sudah waktunya.”
Mendengar jawaban itu, Yeon Jin melepaskan pelukannya dengan perlahan-lahan, kalimat ini sudah membuat dirinya lega, karena jawaban ini merupakan hal yang pasti. “Dia berkata kalau sudah waktunya, berarti dia akan jawab iya?” Ucap dalam hati seorang Yeon Jin, pipinya memerah dan mulai timbul perasaan gembira.
Yeon Jin tidak bisa berkata apa-apa lagi, kalimat Yoo Ra sudah sangat jelas, dan kini dia hanya perlu menjaga hubungan ini sebaik mungkin hinggan tiba hubungan ini mengarah ke tingkat yang lebih jauh lagi.
“Kenapa terus-terusan tanya ini sih? Aku pasti jawab, aku itu orang yang konsisten dan pasti menepati ucapanku. Sangat menyebalkan.” Gumam Yoo Ra yang masih kesal.
Yoo Ra berjalan pergi menjauhi Yeon Jin yang sedang memandanginya, dengan sedikit menepuk-nepuk pipi untuk menyadarkan diri. Yeon Jin tersenyum lebar dan mengejarnya, sesekali merangkul bahu Yoo Ra dan pergi menjauhi lorong itu.
***
“Kelihatannya tidak ada kecurigaan, setidaknya memakai identitas sebagai penghuni apartemen diamond cukup membuatku tidak diremehkan orang lain.” Soo Ah berusaha membangun citranya kembali pasca Yoo Ra mempermalukannya. Soo Ah hanya bisa menggunakan tipuan murahan ini, pura-pura menjadi anak direktur dan tinggal di apartemen mewah.
Semua sandiwara yang dipersiapkannya akan mendramatisir keadaan yang sekarang, terlebih lagi hubungannya dengan Yoo Ra sudah perlahan membaik dan tidak lebih seperti teman sekelas (bukan musuh lagi), namun siasat ini juga digunakan untuk mendekati Jae Won dan menyingkirkan Yoo Ra perlahan.
Kring... Suara ponsel Soo Ah terdengar, “Halo...”.
“Soo Ah, bisa kita bertemu?” Suara laki-laki yang meminta Soo Ah keluar dan bertemu.
“Tentu saja, kita akan bertemu dimana?” Nada riang Soo Ah yang sangat bahagia dengan panggilan telepon yang baru saja dia terima.
---
Soo Ah menunggu di dalam cafe dan menunggu orang yang menelponnya, “Sudah lama menunggu?” tanya orang yang baru saja datang kemudian duduk di depan Soo Ah.
“Baru saja aku datang. Senior tiba-tiba menghubungiku, jadi aku harus bergegas, kita sudah lama tidak seperti ini kan?” Ucap Soo Ah kepada seniornya itu, Do Jae Won.
Jae Won mengambil inisiatif ini bukan untuk membuat Soo Ah menjadi pacarnya atau sejenis itu, namun dia datang dengan satu rencana lain yang membuat keuntungannya sendiri, yakni memanfaatkan pion yang sudah di depan mata dengan tujuan utama. “Jadi aku langsung keintinya saja, sekarang hubunganmu makin baik dengan Yoo Ra, bisakah kau membantuku?”.
“Membantu? Asal ada timbal baliknya aku akan bersedia.” Jawab Soo Ah dengan pasti. “Kalau begitu... berapa tahun kau mengejarku? Apa kau tidak ingin berdiri disampingku? Apa itu yang kau inginkan?” Pertanyaan Jae Won membuat Soo Ah bingung, Soo Ah merasa kalau Jae Won mulai membuka hati untuknya karena dirasa dia sudah berubah menjadi pribadi yang hangat dan sudah tidak bermusuhan lagi dengan Yoo Ra.
“I... Itu... tentu saja, apa senior tidak merasakan kalau aku sangat menyukaimu?”. “Baiklah, masih ada satu kesempatan untuk menjadi wanitaku, asalkan kau mau membantuku.” Kali ini Soo Ah tidak akan menyianyiakan kesempatan ini, dia beruntung karena Jae Won yang menawarkan ini.
“Katakan, aku pasti sanggup .”. “Bisakah kau mengambil liontin mawar milik Yoo Ra?” Itu dia permintaan dari Jae Won.
“Bentuknya bulat, dan jika kau bisa mengambilnya, aku akan memberimu kesempatan untuk mendekatiku lagi.”
“Mengambilnya? Bukankah itu sama saja dengan mencuri?” Jae Won yang mendengar ini seperti tidak percaya, hal itu sangat ahli dilakukan oleh Soo Ah, kedoknya yang berpura-pura polos tidak bisa ditutup-tutupi di depan Jae Won.
“Mau atau tidak itu terserah kau, secepatnya bawa barang itu kepadaku, kalau belum mendapatkannya... jangan pernah berkomunikasi denganku. Beda halnya kalau kau bisa membawanya, mengerti?”
__ADS_1
***