
Kampus lagi... suasana riuh yang dirindukan, lalu lalang mahasiswa dengan membawa tas kesana-kemari. Dimensi yang berbeda membuat Yoo Ra ekstra bersabar dan menyesuaikan diri.
Yoo Ra berada di perpustakaan, dengan membaca beberapa buku disana. Ia mengeluarkan buku catatannya, berisi berbagai macam materi tentang teknologi, ia merangkum materi itu untuk diingat, saat kembali nanti, ia bisa menciptakan kemakmuran dengan pengetahuannya dari dimensi ini.
Saat membalik beberapa halaman, ada sebuah kertas kecil yang jatuh. Kertas itu jatuh ke lantai, Yoo Ra melihat ke bawah dengan menarik rambutnya yang menghalangi pandangannya ke belakang telinga. Ia menunduk dan memungut kertas yang terjatuh dari bukunya.
Kertas itu berada di tangan Yoo Ra, Yoo Ra membaca dalam hati, “Dia yang benar-benar mencintaimu pasti mau menunggu, berapa lama pun itu.”. Sejenak ia menyadari bahwa kalimat itu tertuju pada seseorang, kekasihnya... lebih tepatnya, pacarnya yang saat ini.
Tiba-tiba, ia teringat dengan seseorang yang juga menunggunya. “Dia hanya terobsesi. Aku terjebak diantara dua pria, pada akhirnya aku lebih nyaman dengan Yeon Jin.” Gumam Yoo Ra menenangkan hatinya.
Yeom Mi masuk ke dalam ruang perpustakaan dan mendapati Yoo Ra yang duduk sendiri disana, Yeom Mi menghampiri Yoo Ra dan ingin ngobrol.
“Hei... Sudah lama gak ketemu, apa kabar?... Astaga... kok kelihatan kurus?” Yeom Mi mulai bersikap ramah, sebelumnya juga Yeom Mi sudah ramah kepada Yoo Ra, tapi saat ini Yeom Mi mulai memberikan simpati. Yeom Mi juga berharap bisa menjadi dekat dengan Yoo Ra.
“Aku jarang lihat kamu masuk kuliah, kemana aja?” Tanya Yoo Ra. Yeom Mi menggeleng dengan melontarkan sebuah senyuman, dan dia juga berkata bahwa selama ini dia mengambil cuti dan liburan ke luar negeri.
Bahkan Yeom Mi mengatakan bahwa dirinya juga liburan bersama dengan Moo Ra. Ayah Yeom Mi dan Moo Ra adalah sahabat dekat, tapi Yeom Mi sendiri tidak terlalu suka untuk berteman dengan Moo Ra, karena sudah terlanjur berteman dekat dengan Soo Ah. Sejak Yoo Ra datang dan memberikan saran dan juga pengertian, Yeom Mi berusaha menjadi orang baik.
“Pantas aja, Moo Ra gak pernah dateng ke apartemenku.” Ucap Yoo Ra. Yeom Mi bertanya-tanya tentang program orientasi kemarin, apakah berjalan dengan lancar atau tidak. Dan sesekali bercanda, beruntung perpustakaan tidak ada pengunjung dan petugas, sehingga mereka bisa leluasa tertawa disini.
Di luar ada suara keributan kecil, yah...sejenis perdebatan antara dua orang. Suaranya juga menuju ke perpustakaan, ternyata Moo Ra dan Jeon Ki. Mereka mendebatkan sesuatu, saat masuk, wajah mereka sangat lucu. Entah sejak kapan mereka mulai bersahabat, tapi kedekatan ini sangat menyegarkan mata.
“Oh... Yoo Ra-ya...Yeom Mi-ya... Aaaa....” Teriak Moo Ra menghampiri Yoo Ra dan Yeom Mi meninggalan Jeon Ki yang masih menggerutu.
__ADS_1
Moo Ra memeluk Yoo Ra dan berkata kalau dia merindukan sahabatnya ini. “Kau tahu, aku kemarin berlibur sama Yeom Mi. Kalau kau ikut, pasti seru.” Yoo Ra bahagia, kini dua orang yang dulunya tidak pernah akrab, sudah menjadi sahabat. Yeom Mi dan Moo Ra bergantian menceritakan pengalaman liburannya.
Setelah beberapa menit, obrolan mulai membosankan. Tiba-tiba Jeon Ki mengambil alih pembicaraan dan menanyakan dimana keberadaan Chae Soo Ah. Semuanya terdiam, seolah tak ingin membicarakan gadis itu.
“Maaf, aku tidak tahu kalau kalian masih tidak menyukainya. Jangan khawatir, aku lebih suka dia berada di bawah.” Ucap Jeon Ki dengan menggeleng kepala, berusaha meluruskan kesalahpahamannya.
“Gak apa-apa, biarin aja. Karena dia aku jadi tahu... Orang yang ceroboh sepertiku harus hati-hati terhadap segalanya, orang yang aku percaya bisa menghianatiku dengan mudah.” Sesal Yeom Mi.
Yeom Mi sudah melupakan hal-hal yang bisa membuatnya bergaul dengan banyak orang, yakni hanya menjadi budak Soo Ah. Semua yang mendengarnya juga mendukung Yeom Mi, “Hei...Kamu kira kamu sendirian, yang tertawa besamamu disini apa mau dibuang? Kita itu permata langka loh.” Gurau Yoo Ra.
Yeom Mi, Moo Ra, Jeon Ki, dan Yoo Ra tertawa bersama. Persahabatan mereka sangat unik, penuh lika-liku untuk menjadi satu. Semua itu butuh waktu, dan perlu proses untuk membentuk sesuatu yang istimewa.
“Sudah kelar ngobrolnya?” Yeon Jin tiba-tiba muncul di pintu perpustakaan dan menghancurkan suasana. Tawa mereka terhenti dan menjadi kebingungan. “Senior?” Moo Ra terkejut melihat Yeon Jin yang melepas jasnya.
Jelas-jelas Yeon Jin datang dengan pakaian kantor, dan dihadapan mereka jasnya dicopot, tak terkecuali dasinya. “Aku menjemput seseorang.” Kata Yeon Jin dengan menggulung lengan kemejanya. Yoo Ra heran dan segera bangkit dari kursinya dan memasukkan buku-bukunya kedalam tas. Ketiga temannya berbalik melirik Yoo Ra yang berdiri, seraya bertanya “Mau kemana?”.
Mereka bertiga merasakan suatu keganjilan, ada apa dengan Yoo Ra dan Yeon Jin?. Moo Ra terkejut dan menutup mulutnya, kemudian dengan keras mengatakan, “Kalian... Pacaran?”. Yeom Mi dan Jeon Ki juga ikut terkejut bukan main. Mereka bertiga melongo dan menyaksikan pasangan baru yang sangat tidak terduga.
“Baikah... besok malam kalian mau ke apartemenku kan, dan Moo Ra... Kau mau ngajak Jun Moo kan. Besok kalian bawa daging ya, kita panggang dan menikmati pesta disana. Sampai jumpa...” Ucap Yoo Ra yang meninggalkan mereka bertiga, kemudian Yoo Ra menyambung kalimatnya, “Oh iya... sebentar lagi ada kelas, aku bawakan sandwich kok.” Yoo Ra berjalan menuju pintu dengan memasukkan tangannya ke saku hoodie yang dipakainya. Yeon Jin yang masih berdiri di hadapan ketiga teman Yoo Ra sekaligus ditinggal Yoo Ra, dia langsung berlari dan menyusul Yoo Ra.
Moo Ra, Yeom Mi, dan juga Jeon Ki yang menyaksikan mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Mereka melihat pasangan baru itu bercanda, dan melihat Yeon Jin merangkul erat Yoo Ra dengan tertawa terbahak-bahak.
“Wah... cepet banget, mereka pasangan gokil yang pernah aku temui.” Ucap Jeon Ki yang kagum dengan hubungan mereka. “Aku kira, Yoo Ra bakal jadian sama senior Do. Lah, ini malah sama senior Park.” Kata Yeom Mi.
__ADS_1
“Aahhh... mereka berdua sangat cocok kok. Aku jadi iri, mereka pacarannya malah bergaya humor, bukan romantis. Tetep aja bikin iri.” Moo Ra menggigit bibirnya yang iri dengan gaya pacaran Yoo Ra dan Yeon Jin, dan berharap Jun Moo bisa sedikit humor seperti itu, mengingat Jun Moo adalah tipikal cowok yang adem dan sangat romantis.
“Cobalah gaya pacaran yang kayak gitu.” Sahut Yeom Mi.
---
Saat di kantin kampus, mereka segera mengantre mengambil makanan, kemudian berpapasan dengan Soo Ah. Anehnya Soo Ah hanya menyapa Yeon Jin saja, berpura-pura tidak melihat Yoo Ra di samping Yeon Jin. “Senior Yeon Jin, apa kabar? Sudah lama tidak melihatmu.” Sapa Soo Ah dengan gaya centilnya.
Yoo Ra tidak menggubris perlakuan Soo Ah dan asik memilih lauk. Yeon Jin tidak terlalu mengenal orang yang sedang menyapanya ini, bahkan Yeon Jin bertanya-tanya siapa dia.
Yeon Jin berbisiki kepada Yoo Ra, “Dia... Siapa?”. Yoo Ra melihat orang yang di samping Yeon Jin, dan memberikan senyuman serta sapaan, “Oh, Chae Soo Ah. Hai...” Ujar Yoo Ra.
Raut wajah Soo Ah mulai mengerut, dia sudah dipermalukan lagi. “Oh aku lupa, hai... Soo Ah.” Sahut Yeon Jin yang sudah mengingat kembali siapa itu Soo Ah. Yoo Ra berbalik dan mengambil makanan lagi, dan Yeon Jin juga. “Aku sudah bilang, lebih baik makan di luar. Enakan di restoku kan, Joan juga disana.” Yeon Jin mengomel kepada Yoo Ra. “Sama aja, yang penting makan.” Jawab Yoo Ra.
Soo Ah yang merasa diabaikan, akhirnya memainkan trik. Yeon Jin dan Yoo Ra pergi ke meja makan, untuk menikmati makan siangnya. Soo Ah melihat dan membuntuti mereka, saat keduanya duduk, Soo Ah ikut bergabung dan duduk di satu meja. “Boleh aku bergabung? Kalau makan sendiri rasanya tidak enak.” Senyum Soo Ah melebar penuh harap.
Yeon Jin duduk tepat di sebelah Yoo Ra, dan di depan mereka ada seekor rubah bermuka banyak yang siap mengacaukan mereka. Soo Ah masih belum mengetahui bahwa Yoo Ra dan Yeon Jin sudah berkencan (berpacaran), jadi Soo Ah akan berusaha menarik perhatian Yeon Jin.
“Saat kau mempermalukanku, saat itu juga aku ingin membuatmu jauh dari laki-laki yang menyukaimu Yoo Ra. Aku ingin mereka berpihak kepadaku, dan akan kubuat pria yang berada di sekitarmu menjadi tergila-gila padaku. Tunggu saja.” Ucap Soo Ah dalam hati.
Mereka bertiga makan dalam satu meja, tapi yang terlihat justru komunikasi antara Yoo Ra dan Yeon Jin. Keduanya saling bertukar pikiran, dan membahas kegiatan masing-masing. Yoo Ra menatap layar ponselnya, dan mendapati ada berita bahwa ada proyek pembangunan gedung yang akan dilelang, Yoo Ra menunjukkannya kepada Yeon Jin, “Ini...Bukankah akan menguntungkan? Kalau grup keluargaku bisa mengambilnya, sepertinya harga saham akan terpengaruh, dan juga perusahaan akan stabil.” Ucap Yoo Ra.
“Mau mengambilnya? Kebetulan dia rekan dekatku, kalau kamu mau akan aku diskusikan nanti dengan pemilik proyek itu.” Tanggap Yeon Jin. “Kalau begitu, tolong bantu kakakku ya.”, “Hem... akupun gak mau ngebantu dia, cuman kamu yang minta, jadi aku mau deh...” Ujar Yeon Jin dengan tersenyum lebar, terlihat mata sipitnya yang menyatu.
__ADS_1
“Dasar...” Jawab Yoo Ra. Soo Ah yang melihat ini merasa sangat dan sangat tidak dianggap keberadaannya, dia hanya mendengar obrolan bisnis. Pada akhirnya...
“Kak Yeon Jin, untuk program magang musim panas, apakah kamu bisa membantuku?” Tanya Soo Ah tanpa ragu.