
Dengan memasang wajah sedih, Yoo Ra berusaha tersenyum. Tanpa sadar dan peringatan, matanya mulai menangis.
(Kim Jae)
“Jangan menangis (mengusap). Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini.”
(Yoo Ra)
“Entahlah... aku merindukan keluargaku disana. Semalam aku memimpikan mereka.”
(Kim Jae)
“Itu mimpi yang bagus, setidaknya mereka menemanimu walau dalam mimpi.”
(Yoo Ra)
“Aku hidup disini hanya sampai 50 tahun, dan masih tersisa usia yang masih panjang. Walaupun disana aku hanya tertidur selama 3 bulan, tapi hatiku sungguh sakit.”
(Kim Jae)
“Hei... Jangan sedih, hidupmu disini adalah keajaiban. Kesempatan ini akan membuatmu menjadi sosok yang istimewa. Tatap aku... Disini, ada banyak yang menyayangimu, ada samchon, Eun Ji nuna, dan juga Min biseo.”
(Yoo Ra)
“Aku harus segera kembali. Jika aku terus disini, aku akan lebih susah meninggalkan hidupku disini.”
(Kim Jae)
“Ayolah... Tugasmu memang berat disana, tapi apakah kau tidak mau belajar di kehidupan ini? Membuat kepribadianmu lebih kokoh?. Saat kau kembali kesana, kau tidak hanya menjadi pecundang yang terkena kutukan. Tapi membawa sesuatu yang berharga.”
(Yoo Ra)
“Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung, dan seakan ada sinyal untuk membawaku kembali kesana.”
(Kim Jae)
“Pelajari apa yang ada disini, ingat dengan baik dan jangan pernah lupakan kejadian setiap detiknya. Hidup disini hanyalah mencari bekal, kau bisa bebas melakukan apa saja. Setidaknya buat perubahan di kehidupan aslimu, disana sangat kuno dan wanita yang berkuasa adalah hal tabu.”
(Yoo Ra)
“Maksudmu, disana aku harus membuat revolusi baru?”
(Kim Jae)
“Tepat sekali, jangan sia-siakan waktu ini. Hanya sampai purnama biru, 6 bulan lagi. Buatlah keputusan, dan pelajari buku DAL itu. Disana ada rahasia yang sangat besar, bahkan kau bisa membuat portal itu terbuka dengan sendirinya tanpa terjadinya bulan purnama.”
(Yoo Ra)
“Baiklah... Terima kasih, berkat perkataanmu aku merasa jauh lebih menghargai semua yang ada disini. Ini bukanlah opera atau drama, aku harus melaluinya, dan ini adalah materi untuk belajar.”
(Kim Jae)
“Aku juga bilang begini karena aku tidak mau kau terburu-buru untuk kembali ke asalmu.”
(Yoo Ra)
“Hah?”
(Kim Jae)
“Ah anak bodoh (senyum). Sudah jangan menangis.”
Kata-kata Kim Jae begitu tulus, sejak kapan dia mulai tidak rela untuk melepaskan Yoo Ra. Di dalam hati Kim Jae terbesit perasaan yang amat mendalam bagi gadis itu, dan saran yang ia berikan haruslah berguna dan bisa menjadi peringatan. Kim Jae pernah melihat sekilas peristiwa yang terjadi di kehidupan Yoo Ra. Sungguh kejam sekali orang yang berani membunuh tuan putri dengan bengis.
Sejak saat itu, Kim Jae melihat potongan-potongan peristiwa yang Yoo Ra alami di masa lampau. Kini, ia harus menempa Yoo Ra agar lebih berpengetahuan dan bisa menangani pemerintahan kerajaannya. Hanya ini yang bisa dilakukan Kim Jae.
---
Yoo Ra dan Kim Yoo pulang ke rumah, ini waktu yang tepat untuk menanyakan masalah liontinnya. Ia segera mengambil liontin, dal banji (cincin bulan), dan buku kuno yang berjudul DAL. Ia pun turun ke bawah menuju ruang keluarga.
Sudah dipersiapkan, kini ia menunggu Kim Yoo selesai bersih-bersih.
Pintu kamar Kim Yoo terbuka, dan Yoo Ra segera memanggil Kim Yoo untuk duduk dan menanyakan sesuatu.
(Yoo Ra)
“Samchon...”
(Kim Yoo)
__ADS_1
“Iya, ada apa?”
(Yoo Ra)
“Aku ingin menanyakan sesuatu dan membahasnya bersamamu, duduklah disini.”
(Kim Yoo)
“Hem... Pasti materi kuliahmu ya? Ada yang sulit?”
(Yoo Ra)
“Bukan... Jadi malam kemarin saat aku di rumah sendirian...”
Yoo Ra menceritakan semua yang terjadi pada malam kemarin. Mulai dari ia membawa mawar putih itu, menjadikannya liontin, dan memancarkan cahaya dengan sendirinya.
(Kim Yoo)
“Sungguhan itu yang terjadi?”
(Yoo Ra)
“Iya... aku juga ragu, apakah mawar ini penyebabnya.”
(Kim Yoo)
“Kau sembarangan membawa bunga ini. Aku juga belum pernah menemukan kasus seperti ini sebelumnya, dan mengenai mawar putih juga aku belum mendengarnya.”
(Yoo Ra)
“Samchon... Sebenarnya aku sudah mendapat... dal banji.”
(Kim Yoo)
“Apa? (terkejut)”
(Yoo Ra)
“Jangan terkejut, aku juga tidak percaya dengan ini. Tapi sungguh aku menerima cincin itu di dekat liontin ini.”
Yoo Ra menunjukkan cincin itu, dan Kim Yoo terbelalakn melihatnya. Ini benar-benar dal banji, cincin itu. Kim Yoo segera ke kamarnya dan mengecek dal banji milik Yoo Ra yang masih disimpannya.
(Kim Yoo)
(Yoo Ra)
“Jangan-jangan... Baiklah, ayo kita lihat.”
Kim Yoo segera membuka laci dan mengeluarkan sebuah kotak cincin. Kotak itu sangat cantik berpadu sengan ukiran vintage. Kim Yoo segera membukanya dan isinya kosong, sama sekali tidak ada cincin disana. Sudah diduga kalau cincin yang Yoo Ra dapatkan adalah cincin yang Kim Yoo simpan.
(Yoo Ra)
“Jadi... apakah cincin yang datang padaku itu berasal dari sini?”
(Kim Yoo)
“Bisa jadi begitu, di cincin itu sudah terukir namamu. Coba lihat lagi di cincinnya.”
Benar, di cincinnya ada tulisan “이유라” atau Lee Yoo Ra. Ini benar-benar miliknya, dan bagaimana bisa keluar?
(Yoo Ra)
“Ini pasti karena mawar ini. Kalau tidak, bagaimana bisa cincin itu berada di dekat liontin itu.”
(Kim Yoo)
“Aku akan mencari tahu tentang ini ke Dal Rae. Kau juga, cari tahu penyebabnya dan juga jangan sampai di hilangkan.”
(Yoo Ra)
“Pastinya, jadi... cincinnya bisa aku pakai?”
(Kim Yoo)
“Dia mendatangimu sendiri, tentu bisa langsung kau pakai. Cincin itu mendatangimu sendiri, dan saat kau pegang dia tidak menghilang. Jadi cepat pakailah.”
Yoo Ra memakai cincin itu, dan Kim Yoo memperingatkan supaya tidak sering memakainya. Kalau hilang, Yoo Ra tidak akan bisa menembus portal untuk kembali. Mereka berdua masih bertanya-tanya, mawar apa itu?
***
__ADS_1
Jae Won sudah mendapatkan kabar tentang tempat wisata musim panas di kelasnya. Dia sebagai pendamping kelas Yoo Ra, dan langsung memberitahu kabar tersebut ke Yoo Ra.
Ponsel Yoo Ra berbunyi, ada panggilan dari Do Jae Won. Yoo Ra nampak bahagia, karena Jae Won menghubunginya lagi. Sejak kejadian di karnaval itu, Jae Won tidak lagi menghubungi Yoo Ra.
(Yoo Ra)
“Halo...”
(Jae Won)
“Yoo Ra-ya. Aku memberi kabar untukmu.”
(Yoo Ra)
“Kabar?”
(Jae Won)
“Untuk wisata musim panas di kelas kita, tempatnya di Pulau Jeju.”
(Yoo Ra)
“Benarkah? Wah... aku sangat ingin pergi kesana. Itu berita bagus, seonbae belum share ke grup ya?”
(Jae Won)
“Aku ingin kamu dulu yang tahu.”
(Yoo Ra)
“Aigo... Gomawo (senyum). Kapan berangkatnya?”
(Jae Won)
“2 hari lagi, bersiap-siaplah. Akan aku bagikan perlengkapan yang harus di bawa.”
(Yoo Ra)
“Iya...”
(Jae Won)
“Ngomong-ngomong, disana juga ada kegiatan dansa yang harus berpasangan.”
(Yoo Ra)
“Daebak...”
(Jae Won)
“Jadi...Kamu mau jadi pasangan dansaku?”
(Yoo Ra)
“Ya? Pasangan dansa?”
(Jae Won)
“Aku mohon, mau ya?”
(Yoo Ra)
“Aku pikirkan dulu, lihat situasi disana saja. Asal seonbae bersamaku saat di dansa itu”
(Jae Won)
“Tenang saja, mulai dari berangkat sampai pulang pun aku selalu bersamamu.”
(Yoo Ra)
“Astaga... Seonbae, aku tutup dulu ya.”
(Jae Won)
“Baiklah.”
Jae Won bahagia, modus untuk mendekati Yoo Ra sudah dimulai. “Kali ini, aku akan menempeli dirimu seperti lem. Yoo Ra, kenapa aku bisa jatuh hati padamu?” Ujar Jae Won yang sedang berbunga-bunga.
***
__ADS_1