
Dalam satu meja dengan 5 buah kursi, alunan musik ballad di dalam ruangan penuh aroma kopi. Di dalam cafe, 5 kawan sedang berdiskusi, mengisi masa muda yang seharusnya seperti ini.
“Program magang? Jadinya gimana?” Jeon Ki membuka topik baru setelah membahas hubungan Yoo Ra dengan Yeon Jin. “Ya maganglah... Aku udah kirim lamaran magang ke perusahaan presdir Kim.” Sambung Jun Moo.
Moo Ra nampak mengkhawatirkan sesuatu, walau pacarnya berada di sampingnya, tapi raut wajahnya masih sangat terlihat cemas. “Ada apa? Tegang banget? Ada yang dipikirin?” Tanya Yoo Ra mengambil segelas cappuccino dingin di depannya.
Tatapan Moo Ra tertuju pada Yoo Ra, Yeom Mi juga begitu. Sementara Jeon Ki dan Jun Moo membunyikan sinyal tanda tanya, ada apa?
Mereka berdua sangat khawatir, kalau si rubah sialan itu akan mencampuri hubungan Yoo Ra dengn Yeon Jin. Tiba-tiba topik sudah beralih.
“Jangan khawatir, dia kan konsisten dengan satu cowok, yang dia kejar adalah senior Jae Won kan.” Ujar Yoo Ra dan ingin menghentikan percakapan ini secepat mungkin. Ia sudah tak tahan bila membicarakan semua tentang Soo Ah, wajahnya berubah menjadi pribadi kerasnya.
“Hei... Jangan pasang wajah begitu... Aku...Aku takut dengan ekspresi dinginmu ini.” Jeon Ki berkata demikian dengan menyenggol lengan Yoo Ra.
Yeom Mi menegaskan, bila dia sudah tak ingin menjalin hubungan apapun dengan Soo Ah, “Aibnya terlalu banyak, aku tak bisa menutup-nutupinya. Jadi... yang kupunya adalah kalian...”
Suara tawa kembali terdengar di kerumunan 5 orang kawan ini. Sesekali membahas program magang mereka. Yeom Mi, Moo Ra dan Jeon Ki akan magang di kantor administrasi rumah sakit milik ayah Yeom Mi. Jun Moo ingin sekali bergabung, tapi dia tidak terlalu suka dengan bau dari desinfektan rumah sakit.
Di luar jendela, tampak seorang pria dengan menggunakan mantel wol yang panjang menutupi lutut. Dia berdiri dengan melepas kacamata hitamnya. Melambai kepad seseorang yang di dalam cafe. “Hah... Itu dia kakakku.” Desah Yoo Ra yang segera pergi untuk menemui kakaknya.
“Kakak dan adik memang gak ada bedanya ya, sama-sama punya karisma yang kuat.” Geleng Yeom Mi yang mengagumi relationship dua orang itu. “Aku malah penasaran, apasih rahasianya mereka buat jadi ngetop? Jeon Ki dan Jun Moo juga ikut penasaran.
“Ada apa?” tanya Yoo Ra menghampiri, “Malam ini bisa pulang ke rumah?”
Ya...sudah lama tidak pulang ke rumah, merindukan kehangatan keluarga yang sebenarnya dibandingkan hidup sendiri. “Boleh, aku juga rindu orang rumah.”
Kim Jae memegang tangan halus adiknya, dan Yoo Ra pun mengajak Kim Jae bergabung dengan teman-temannya. “Sesekali, berkumpul sama temen-temen. Ayo.”
“Hai kak Kim Jae...” Sapa mereka di meja. Kim Jae melambaikan tangannya, mengarah ke meja dan ikut bergabung.
Kim Jae mulai membicarakan program magang, apakah ada diantara mereka yang akan bergabung di Nam Group. Jun Moo mengacungkan jari, memberitahu bahwa dia sudah mengirim lamaran. Kim Jae mengangguk, merebut gelas yang dipegang adiknya kemudian menyesapnya hingga isinya tersisa sepertiga gelas.
“Jun Moo, besok datang ke kantor langsung, mulai besok kau sudah di terima.”
“Senior... Bukankah masih ada 1 bulan lagi?”
“Lebih cepat lebih baik, lagipula kau teman dekat adikku, aku langsung percaya. Jadi... jangan kecewakan aku.”
“Terima kasih, senior.”
Jae Won melihat jam tangannya, sudah pukul berapa saat ini. “Ayo, waktunya pulang. Aku yang bayar.” Kim Jae pergi ke kasir, mengambil struk dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya,
Ada pelanggan yang datang, langsung menghampiri meja kelima orang itu, “Yeom Mi... Beginikah kau membalasku?” Soo Ah berkata seperti itu dengan memandang teman-teman sekitar Yeom Mi.
“Kenapa? Sakit hati? Ya... aku lebih baik bersama mereka, lupakanlah kalau kita pernah berteman. Bahkan aku sudah lupa siapa dirimu. Mau berkenalan?” Sedikit mengejek, tapi ini setimpal dengan apa yang sudah Yeom Mi rasakan.
__ADS_1
Kim Jae berbalik dan berjalan sembari memasukkan uang dan struk belanjanya, “Yoo Ra, ayo pulang... Kita ke apartemenmu du... Oh... Nona Choi? Cha?... Siapa namanya, aku lupa.”, “Halo senior Kim, Saya Chae Soo Ah, teman sekelas mereka.”
Ekspresi berubah 180 derajat, ratu drama ini mulai bertindak, memunculkan wajah penuh simpatinya. Karena sudah terlanjur bertemu, mungkin saja ini menjadi point plus baginya.
“Senior, apakah di perusahaanmu masih butuh pemagang? Kalau ada, bolehkah aku magang disana?”
“Magang?” Kim Jae melihat ke arah junior-juniornya, dan mengangguk tanpa mengeluarkan kata.
“Sepertinya masih butuh. Besok datang ke kantorku dan bawa beberapa portofolio yang kau anggap unggul dan menarik, kau tahu bahwa perusahaanku bukan tipikal kelas bawah.”
“Terima kasih, saya pamit dulu, ada kepentingan mendadak, maaf tidak bisa bergabung dengan kal.....”
“Sampai jumpa, aku dan Yoo Ra pulang dulu.”
Belum meneruskan kalimatnya, Kim Jae sudah bertindak angkuh dan mengabaikannya dalam beberapa detik. Soo Ah juga ingin cepat pergi karena ada Yoo Ra disana. Dia tak ingin malu karena berbohong tinggal di Diamond Apartement.
“Kak Kim Jae, terima kasih ya...” Ucap Jeon Ki, Kim Jae membalas dengan sebuah tepukan dibahunya, “Tidak apa-apa, kalian sudah bersedia menjadi sahabat adikku, sepantasnya aku bersikap seperti ini. Jangan menyakitinya ya, kalau tidak... dari kalian tak akan ada yang tersisa.”
Seperti ancaman, tapi bukan untuk orang-orang yang sedang duduk, melainkan seseorang yang baru saja datang dan membuat drama baru.
Setelah Kim Jae dan Yoo Ra pergi, Soo Ah masih berdiri dan menunggu mereka memasuki mobil.
“Pergilah, jangan merusak pemandangan.” Usir Yeom Mi.
“Yeom Mi, aku tak tahu kau bisa berubah secepat ini.”
“Sudahlah Moo Ra, dia terlalu naif, sampai-sampai berlaku seperti itu.” Tanggap Jun Moo. Jeon Ki juga merasa terganggu dengan kehadiran Soo Ah, sehingga dia berbalik dan mengajak teman-temannya menghabiskan pesanan mereka, mengabaikan seseorang yang pernah dia sukai dulu.
-
-
-
Akhirnya Yoo Ra menghirup udara khas rumahnya. Paman dan calon bibinya sudah menunggu dengan harap-harap cemas. Memasuki ruangan dari pintu depan, ada teriakan dari dua orang, “Yoo Ra datang... Yoo Ra...”
Sudah lengkap, satu keluarga beranggotakan 4 orang.
Melihat sekeliling, rumah ini banyak berubah, tapi keluarga tidak akan pernah berubah. Menonton televisi, ditemani kacang almond panggang dan teh panas. Kim Yoo dan Eun Ji duduk di sofa, sementara Yoo Ra dan Kim Jae duduk menyilakan kaki di karpet lembut dengan mengaduk-aduk toples almond.
“Kalian berdua sama-sama terlihat kurus. Makan yang banyak, jaga asupan nutrisi. Kondisi kalian mengkhawatirkan, jangan terlalu memaksa diri untuk bekerja. Kalian tahu, usa 20an adalah usia dimana kalian sedang belajar dan berkumpul bersama teman-teman.” Sahut Eun Jin menghidangkan sup jagung dengan irisan jamur di atasnya.
Kim Yoo menundukkan kepala, menyesali bahwa semua ini adalah ulahnya. Yoo Ra yang fokus menonton acara dan meraih satu demi satu almond dan masuk ke dalam mulutnya. “Lihat dirimu, sudah kakak bilang, anak perempuan harus kelihatan cantik walau di dalam rumah.” Eun Jin sangat kesal melihat tampilan Yoo Ra.
Menggunakan celana trainning senada dengan hoodie warna putih, rambut diikat kebelakang tak beraturan, kacamata baca yang masih melekat, sangat terlihat rambutnya yang keluar beberapa helai karena malas menyisir.
__ADS_1
Kim Jae yang di samping Yoo Ra mengulurkan tangan untuk memperbaiki ikatan rambut yang berantakan itu. Jika di dekatkan, Kim Jae yang memakai pakaian mirip dengan Yoo Ra hampir tidak bisa dibedakan. “Kalau gini terus lama-lama jadi anak kembar.” Gurau Kim Yoo.
“Kembar? Banyak yang bilang kita beda kepribadian, setidaknya aku masih baik, dan gak resek kayak orang di sampingku ini.” Timpal Yoo Ra.
“Ck. Apa? Kurang jelas kalau ngomong. Aku resek? Matilah kau...” Kim Jae membalas Yoo Ra dengan menggelitikinya, seolah tidak ada ampun, Kim Yoo dan Eun Ji tertawa dan melepas kerinduan, kembali menjadi keluarga yang penuh harmoni.
---
Kamarku? Terlalu besar. Desah Yoo Ra yang kembali ke kamarnya. Daripada sebelumnya, kamarnya setengah kali lebih lebar. Walau di kehidupan asli dia memiliki kamar yang lebih luas dari ini, tapi sejak dia disini, seleranya berubah. Kamar minimalis dan ringkas yang ia suka.
Lampu LED ponselnya terus berkedip, sejak siang hari ia tidak melihat ponselnya sama sekali. Pesan spam dan telepon yang tak terjawab memenuhi bar notifikasi, siapa lagi kalau bukan pacarnya. Membalas dengan menelpon balik, bersandar di dinding dekat pintu dengan memegang ponsel, hanya tiga kali suara tut... suara Yeon Jin sudah sangat jelas terdengar.
“Kapan kembali ke apartemen? Apa aku harus ke rumahmu biar bisa ketemu? Apa besok di kantor aja?”
“Aku belum menjelajahi rumah ini, 2 hari lagi aku ke apartemen.”
“Ck... lalu aku gimana?”
“Gimana apaan?”
“Ayo dong... Pacar...”
“Cih... Pacar ”
“Aku rindu... kita ketemu ya?”
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, bukankah ini terlalu larut untuk bertemu. Memang saat ini Seoul menjadi kota tanpa malam, tapi sepertinya tidak bisa. Ia sendiri sangat ingin bertemu dengan Yeon Jin, tapi apakah pamannya mengijinkannya untuk keluar sebentar?
“Itu... aku juga belum tidur, tapi... pamanku gimana?”
“Kita ketemu di Banpo, atau aku jemput? Sekalian perkenalan diri calon mantunya presdir Kim.”
Yeon Jin sudah mulai ngawur, Yoo Ra tak bisa menahan tawa malunya. “Nah!!!!” Suara yang mengejutkan Yoo Ra, untung saja ponselnya tidak jatuh ke lantai. Sangat jelas ada 3 orang yang membuka pintu kamar Yoo Ra. Bisa dikatakan... ini sebuah penyergapan.
“Siapa itu? Malam-malam masih teleponan.” Goda Kim Yoo yang penasaran padahal sudah mendengar semua percakapan mereka.
“Hei, kemarikan ponselmu.” Lagak Kim Jae menjadi preman.
“Ini? Oh tidak tidak... tidak boleh.” Yoo Ra menggenggam erat ponselnya yang masih terhubung dengan panggilan Yeon Jin.
Eun Ji melihat Yoo Ra dengan tatapan sinis, kemudian... “Hayo... pacarmu kan? Siapa dia?” Eun Ji bertingkah imut dan menggoda Yoo Ra. Selama ini Yoo Ra tidak pernah berbicara tentang pria yang sedang ditaksirnya, kenapa hari ini berbeda.
Suara dari ponselnya memberikan jawaban yang sangat jelas, “Halo... Yoo Ra sayangku...”
“Ck... pria ini.” Ucap Yoo Ra dalam hati dengan memejamkan mata.
__ADS_1
Dan mereka bertiga berteriak bersama atas keterkejutan mereka. “Suara itu... kayak kenal...” Gumam Kim Jae.
“Park Yeon Jin?!!!”