Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 43


__ADS_3

(Yoo Ra)


“Seonbae beli pakaian disini?”


Siapa pria itu? Seonbae? Ternyata... Astaga, dia adalah Park Yeon Jin. Yeon Jin agak gugup bertemu dengan Yoo Ra disini, tapi dia harus memberanikan diri.


(Yeon Jin)


“A...Aku... selalu memesan coat disini. Kamu memesan pakaian disini juga?”


(Yoo Ra)


“Ti... Tidak, kebetulan sedang ingin belanja disini.”


(Yeon Jin)


“Oh... Begitu ya .”


(Emma)


“Wah... Park Yeon Jin... Sudah lama kita gak ketemu.”


(Yeon Jin)


“Noona... Aku agak sibuk akhir-akhir ini, jadi tidak sempat membahas bisnis bersamamu.”


Emma memiliki kepekaan yang sangat tinggi, dan kini dia merasakan sesuatu. Emma merasakan kalau ada sesuatu diantara mereka berdua, jadi dia memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua. Ini adalah kesempatan yang langka, membiarkan Yoo Ra dan Yeon Jin berduaan. Membuat alasan yang tepat untuk kabur sendirian dari tempat ini.


(Emma)


“Yeon Jin-ssi, kau sudah ambil barangmu kan? Sekarang mau pulang ya?”


(Yeon Jin)


“Aku ingin jalan-jalan disini dulu.”


(Emma)


“Oke oke... Yoo Ra, aku ambil dulu belanjaanku ya. Kebetulan aku harus menemani Dal Rae mengirim bunga. Jadi maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang.”


(Yoo Ra)


“Aku ikut bersamamu, aku juga bisa membantu.”


(Emma)


“Tidak tidak... tidak perlu, saat ini aku juga ada pertemuan mendadak loh.”


(Yoo Ra)


“Aku numpang sampai depan saja. Kita satu arah kan? Lagipula eonni yang membawaku kesini.”


Emma melirik ke arah Yeon Jin dengan memberi isyarat lewat mulut “Anak bodoh, berkencan! Kencani dia!” Berkomat-kamit dan mata melotot, Yeon Jin langsung tahu apa yang diucapkan Emma padanya. Yeon Jin juga paham kalau Emma memberikan kesempatan untuknya.


(Yeon Jin)


“Ehem... pertemuanmu di perusahaan elektronik itu kan. Aku dengar pertemuannya jam 6 sore, dan sekarang sudah jam 17.50. Noona segera berangkat, nanti bisa telat loh.”


(Emma)


“Apa? Baiklah... aku akan pergi. Aku titip belanjaanku dan juga bocah ini ya . Sampai Jumpa!”

__ADS_1


(Yoo Ra)


“Eonni... Tunggu... Kenapa kau aneh begini?”


(Emma)


"Maaf ya, saat ini Moon Ae Ri alias Emma sedang buru-buru. Dadah... Aku sayang padamu Yoo Ra."


Emma segera lari dan meninggalkan mereka berdua di tempat itu. Yoo Ra kebingungan dan melirik ke arah Yeon Jin, seakan tahu apa rencana mereka berdua.


(Yoo Ra)


“Jadi... Apa yang kalian berdua rencanakan hah? .”


(Yeon Jin)


“Hehehe... Sudah tahu ya .”


(Yoo Ra)


“Auh... hari yang menyebalkan. Seonbae antar aku pulang ya. kalau naik bus juga gak bisa, kartu busku ketinggalan dan gak bawa uang lagi. Ini jalan satu-satunya.”


(Yeon Jin)


“Siap !!! ”


Belanjaannya sudah ditotal, Yoo Ra hendak membayar namun tidak membawa uang sama sekali. Pikirnya ia akan membayar belanjaannya dan Emma menggunakan kartu miliki Emma, tidak disangkan kalau hari ini akan menjadi hari penuh hutang. Memang terpaksa, namun tidak ada jalan lagi untuk membayar itu semua. Jadi sudah diputuskan untuk meminjam uang dari Yeon Jin.


(Yoo Ra)


“Seonbae, boleh aku pinjam uangmu? Aku tidak bawa kartu, dan Emma sajangnim juga sudah pergi.”


(Yeon Jin)


(Yoo Ra)


“Kalau sampai rumah akan aku kembalikan kok.”


Yeon Jin pergi ke kasir dan membayar semua itu, Yoo Ra melihat Yeon Jin. Dalam pikiran Yoo Ra, Yeon Jin adalah pria yang sangat boyfriendly, selain tinggi dan berwajah tampan, Yeon Jin memiliki senyuman maut yang membuat semua wanita tergila-gila dengan semua item yang dimilikinya, apalagi dia tipe pria tajir. “Mengapa aku baru sadar kalau dia memiliki semua itu, apakah selama ini aku hanya tertidur? Astaga Yoo Ra Fokuskan pikiranmu, apa yang sedang kau pikirkan...” Gumam Yoo Ra dengan menggeleng-gelengkan kepala seolah menolak pemikirannya dan memperhatikan wajah Yeon Jin.


(Yeon Jin)


“ Sudah selesai, ayo pergi .”


(Yoo Ra)


“Oh? Sudah selesai ya? Oke oke, ayo pergi.”


(Yeon Jin)


“Kau kenapa? Aku tampan ya? Jangan-jangan, sudah terpesona kan? ”


(Yoo Ra)


“Cih . Sudahlah, ayo pergi .”


Yeon Jin tertawa melihat Yoo Ra yang seperti itu dan mendorongnya keluar. Yeon Jin masih tidak ingin pulang dan mengajak Yoo Ra duduk sebentar di dekat air mancur. Saat berjalan menuju air mancur, Yoo Ra tak sengaja tertabrak anak kecil yang berlarian. Tepat mengenai lengan kirinya yang terluka, Yoo Ra meringis kesakitan tanpa berteriak dan mengusap lengannya.


“Sakit banget...” Gumam Yoo Ra dengan memegang lengannya. Yeon Jin menggerutu dan menahan bahu Yoo Ra supaya tidak jatuh. Yeon Jin melihat ekspresi Yoo Ra yang kesakitan.


(Yeon Jin)

__ADS_1


“Tidak apa-apa?”


(Yoo Ra)


“Em .”


(Yeon Jin)


“Lenganmu sakit karena ditabrak tadi ya? Sini aku lihat.”


(Yoo Ra)


“Tidak usah, tidak apa-apa kok .”


Yeon Jin sudah tidak tahan dengan sifat keras kepala Yoo Ra, dengan segera Yeon Jin membawa Yoo Ra ke dekat air mancur untuk istirahat.


Yeon Jin memegang lengan Yoo Ra dan ingin memeriksanya, Yoo Ra menolak dan tidak ingin Yeon Jin mengetahui kondisi lengannya. Yeon Jin menggulung paksa lengan kaos Yoo Ra.


(Yeon Jin)


“Kok pakai kasa? Ini kenapa?”


(Yoo Ra)


“Gak apa-apa kok.”


Yoo Ra menahan perih dari luka yang belum sembuh. Sudah berhari-hari bahkan hampir seminggu ini lukanya belum sembuh total, hanya saja lengannya harus dijaga dan tidak boleh terkena gesekan atau suhu yang tinggi. Lengannya seakan sensitif dengan memberikan tanda kulit memerah. Benar saja memerah, namanya juga kulit melepuh.


Yoo Ra perlahan membuka kasa itu dan menampakkan kulitnya yang sangat merah dan merasakan sensasi terbakar, ia meniupnya untuk meredakan sensasi itu. Melihat Yoo Ra yang tak mau jujur, Yeon Jin segera membeli ice pack.


Kembali dari membeli ice pack, tanpa berkata sepatah katapun, Yeon Jin segera meletakkan ice pack itu di lengan Yoo Ra. Ekspresi Yeon Jin saat ini adalah kesal sekaligus sedih. Melihat Yoo Ra yang seperti ini, Yeon Jin tak tega. Yoo Ra berusaha menahan rasa sakit ini, saat merasakannya pun ia teringat Soo Ah yang telah menciptakan luka ini.


Yoo Ra juga masih belum sembuh total dari sakitnya pasca wisata, wajahnya sudah terlihat memucat dan kedinginan.


(Yeon Jin)


“Dilihat dari lukanya, ini tersiram air panas?”


(Yoo Ra)


“Iya, tidak sengaja kesiram waktu memasak mie instan.”


(Yeon Jin)


“Ceroboh sekali. Wajahmu kok pucat. Kamu demam? . Tidak demam, kamu kelelahan?”


(Yoo Ra)


“Mungkin. Saat jalan kesini juga agak terengah-engah.”


(Yeon Jin)


“Istirahat disini dulu ya, setelah baikan kita pulang.”


Yeon Jin dan Yoo Ra beristirahat sebentar, dan moment ini seperti terulang kembali. Sesekali Yeon Jin mengajak Yoo Ra membicarakan sesuatu, seperti mencari tahu apa saja hal favorit Yoo Ra. Yeon Jin sedikit berharap, kalau Yoo Ra tidak lagi menganggap Yeon Jin sebagai senior atau teman baik, tapi melebihi itu. Perhatian yang sedari ditujukan untuk Yoo Ra sangat terekam jelas, tatapan Yeon Jin yang membuat Yoo Ra terpana. Selama ini ia belum pernah tertarik untuk menatap seorang pria dengan rentang waktu lama, meski pembicaraan mereka mebosankan.


Yoo Ra sudah baikan, dan lengannya perlahan tidak terasa panas berlebih lagi. Yeon Jin pergi membeli air mineral, dan Yoo Ra masih duduk manis sambil bermain ponsel menunggu Yeon Jin kembali. Terlihat ada pemuda yang sedari tadi mondar-mandir di dekat Yoo Ra dan membawa 1 kaleng minuman soda. Dari kejauhan, Yeon Jin melihat pemuda itu yang terus melirik Yoo Ra. Hebatnya, Yoo Ra tak merasa kalau sedang diperhatikan seseorang.


Yeon Jin segera membayar dan bergegas kembali. Saat setengah perjalanan, pemuda itu duduk mendekati Yoo Ra. Jealousnya Yeon Jin sudah mulai terlihat, pemuda itu menyodorkan minuman kaleng yang dibawanya.


“Boleh aku minta nomor ponselmu?”

__ADS_1


__ADS_2