
Jae Won kagum dengan penamilan Yoo Ra yang selama ini tidak pernah dia lihat, memakai setelan formal.
Rok pendek dengan atasan kaos dipadu jas yang senada dengan roknya, sepatu hak tinggi, rambut digerai dengan sentuhan gelombang. Cantik... dalam hati Jae Won.
“Besok sudah boleh pulang?” Tanya Yoo Ra yang memecah lamunan Jae Won. “Hah? Oh itu... Iya, besok pagi aku boleh pulang.” Jawab Jae Won.
Yoo Ra membawakan bubur dan potongan buah yang dipesan sebelum kesini, Yoo Ra meletakkannya di meja. “Terima kasih untuk yang kemarin.” Kata Yoo Ra lagi.
“Terima kasih lagi? Aku sama sekali tidak meminta balasan. Oh iya, buburnya masih panas? Aku ingin memakannya.” Ucap Jae Won
Yoo Ra segera bangkit dan membuka termos bubur dan menuangkannya ke mangkuk kecil, uapnya masih berterbangan dengan pekatnya, wangi rempah sangat terasa di indra penciuman Jae Won. Yoo Ra berpikir dua kali, apakah Jae Won bisa makan dengan lengan yang masih terluka.
“Jangan khawatir, lenganku yang terluka, bukannya tanganku.”
Jae Won turun dari ranjang dan duduk di sofa untuk menikmati bubur yang dibawa Yoo Ra. Yoo Ra yang sudah tidak nyaman dengan pakaiannya memilih untuk berdiam diri sebelum benang-benang pakaian yang feminim menusuk kulitnya.
“Enak, terima kasih sudah membawakan ini. Kakakku sendiri tidak peduli untuk membawakan makanan, dia bilang kalau rumah sakit sudah menyediakannya, jadi tidak perlu repot.” Kata Jae Won. Yoo Ra membalasnya, “Memang makanan dari luar lebih enak dibandingkan disini. Kak Seo Hyun tidak kesini?”, “Besok, saat menjemputku.”
Yoo Ra berdiri dan membuka bungkusan kedua, potongan buah dan menuangkan air mineral. Dia hanya ingin membalas budi, tidak lebih, suasana disini sangat menyesakkan, apalagi dia sudah tidak ingin berhubungan kembali dengan seniornya ini.
“Ah...” Suara yang mengejutkan Yoo Ra, tidak sengaja Jae Won menumpahkan bubur yang ada disendoknya dan mengenai lengan kirinya. Yoo Ra terbelalak dan khawatir, “Jangan paksa lagi kalau tidak kuat makan sendiri.” Sebenarnya Yoo Ra sendiri enggan untuk menyuapi, dia lebih memilih melayani Yeon Jin yang membuatnya jatuh cinta daripada pria brengsek yang pura-pura dia baiki.
Mengambil serbet yang sudah disediakan dan mengelap tangan Jae Won, tapi ada tatapan tajam yang menyorot mereka berdua. Dari arah luar, di jendela pintu ruangan itu. Sedari tadi Yeon Jin melihat apa yang mereka lakukan, tangannya mengepal, dan terlihat Jae Won menatapnya dengan hawa kemenangan.
Jae Won sudah tahu kalau Yeon Jin berada di luar, kali ini adalah siasatnya untuk mendapatkan perhatian dari Yoo Ra. Memaksa masuk dan pergelangan tangan Yoo Ra dicekal oleh tangan pria yang memanas.
“Ayo pulang, biar dia mengurusnya sendiri.” Suara Yeon Jin yang mulai berat, Yoo Ra terkejut dan kembali bangkit dari menyeka bubur di lengan Yeon jin. “Ada perbedaan antara sengaja dan tidak sengaja, jangan gunakan otak udang yang kau miliki.” Yeon Jin mengatakan itu dan Jae Won merubah ekspresinya menjadi kemarahan.
__ADS_1
Yeon Jin meraih tas Yoo Ra dan menarik Yoo Ra keluar dari ruangan itu, dengan paksa dan Yoo Ra sama sekali tidak menerima penolakan.
Mereka masuk ke dalam mobil Yeon Jin dan segera menjauh dari area rumah sakit. Yeon Jin berhenti di pinggir jalan dekat halte, Yeon Jin hanya menatap lurus kedepan, sementara Yoo Ra sangat merasa bersalah.
Yoo Ra memberanikan diri untuk menghadapi Yeon Jin yang sedang marah. Mengulurkan tangannya dan meraih tangan Yeon Jin yang sedang memegang kemudi. “Maaf, seharusnya aku menelponmu tadi sebelum ke rumah sakit.”, Yeon Jin bukan kesal karena Yoo Ra tidak menelponnya, tapi dia kesal karena Jae Won berani memanfaatkan perasaan Yoo Ra.
Yeon Jin mengembuskan napas panjang, tanpa berkata sepatah katapun dan mengabaikan Yoo Ra, dia menancapkan gas dengan kecepatan tinggi untuk pulang. Yoo Ra terdiam kaku, baru pertama kalinya ia diabaikan oleh Yeon Jin. Hanya memandang keluar jendela, menghindari untuk menatap Yeon Jin. Napasnya tidak teratur, jantungnya berdetak hebat, tidak tahu harus bagaimana lagi.
Yoo Ra merasa tersayat, sudah menyakiti seseorang yang dicintainya. Keluar dari mobil dan segera menuju ke apartemen mereka masing-masing. “Yeon Jin-ssi...” Sapa Yoo Ra kepada Yeon Jin, namun Yeon Jin mengabaikannya lagi dan segera pergi ke apartemenya. Lift terbuka dan Yeon Jin sudah naik dan meninggalkan Yoo Ra.
Yoo Ra terhenti di depan meja resepsionis, mendapati kakinya sangat sakit, ia melepas kedua sepatu hak tinggi yang dipakainya. Lecet???, memang belum terbiasa memakainya, seharian memakai ini dan berlari ketika ditari Yeon Jin tadi. “Kenapa luka kecil begini perih banget.”, Yoo Ra bergumam sendiri dan menenteng sepasang alas kakinya dengan satu tangan.
Yoo Ra mengambil sandalnya dan masuk ke dalam lift kedua untuk pergi ke apartemennya. Dengan melihat ke jari-jari kaki yang membengkak dan mengeluarkan darah, tak luput juga dengan pergelangan kakinya.
Segera masuk ke dalam apartemennya, Yeon Jin sendiri juga masuk ke apartemennya sendiri. Yoo Ra menutup pintu dan meneteskan air mata, menahan perihnya luka di kakinya dan juga... perilaku Yeon Jin. “Ah... Aku sama sekali tidak tahu resiko memakai sepatu seperti ini.” Yoo Ra mengusap air matanya dan segera merawat lukanya.
Setelah membalut luka di kedua kakinya, Yoo Ra segera pergi dan membunyikan bel, bodohnya dia yang tidak tahu password apartemen Yeon Jin selama ini. Apa boleh buat, dia terus membunyikan bel, dan sesekali mengetuk pintu supaya Yeon Jin mendengar penjelasannya. “Yeon Jin-ssi... Tolong buka pintunya.”
Sekitar hampir sepuluh menit ia berdiri, Yeon Jin tak kunjung membuka pintu, kakinya sudah terasa kesemutan, dan berpikir bahwa Yeon Jin sangat marah.
Yoo Ra kembali dan sangat merasa lelah, beban pikirannya tidak terkendali. Dan terpaksa harus beristirahat karena kepalanya mulai berat, tak lupa ia mengunci pintu dari dalam, sudah dipastikan Yeon Jin tidak akan kemari.
---
“Selamat pagi nona Kim...” Lambaian dari skretaris Kang di mejanya, nona Kang melihat ada yan berbeda dengan Yoo Ra hari ini. “Nona Kim, kemarin kamu memakai hak tinggi kan? Kok sekarang pakai sneakers?”
Memang janggal, Yoo Ra memakai sepatu yang comfortable, tidak memiliki look yang feminim. Dan lagi, ia memakai celana pendek dan juga jas, bukan rok. Memakai rok pendek sangat menyulitkannya, dan lebih nyaman seperti ini. “Ah itu... aku lebih suka seperti ini, yang terpenting aku nyaman saat memakainya.” Jawab Yoo Ra. “Wah... aku suka melihatmu seperti ini. Serba putih semua, kamu terlihat seperti malaikat loh.” Yoo Ra hanya membalas dengan senyum terima kasih atas pujian dari nona Kang.
__ADS_1
Dari sepatu hingga setelan, semuanya putih. Kecuali kaos yang dipakai, warna hitam legam.
Setelah menyapa, kakinya melangkah ke ruangan CEO dan bersandar di kursinya. Sesekali memijat keningnya, kepalanya serasa pecah, ia bangun sekitar jam 3 pagi demi mengecek dan menyalin data. Jam kantor 10 menit lagi, tapi ia tidak melihat Yeon Jin ada disini.
Telepon kantornya berdering, dan menerima panggilan itu. “Setengah jam lagi?” ucap Yoo Ra dengan membelalakkan mata. Yoo Ra menutup telepon itu dan melihat kembali jadwal Yeon Jin hari ini, ternyata semua jadwal dari pagi hingga siang harus dikosongkan, diganti dengan rapat di gedung A. Yoo Ra harus kesana dengan membawa file yang dibutuhkan Yeon Jin untuk rapat.
Gedung A terletak sedikit jauh dengan kantor Park Group, naik taksi mungkin bisa, tapi jam kerja seperti ini lalu lintas sedikit padat. “Bagaimana ini...” Yoo Ra buru-buru dan segera keluar, kemudian memberitahu ke pusat informasi bahwa tuan CEO sedang rapat dan jika ingin bertemu harus datang sang hari.
Mengetahui Yoo Ra tergesa-gesa, ada salah satu direktur yang turun dari mobilnya dan bertanya, “Oh... Nona Kim... Mau kemana?”
“Saya harus ke gedung A direktur Lia, saya permisi dulu.”
“Tunggu sebentar, saya minta tolong untuk mengurus dokumen ini, dan temui Mr. Yang disana. Silahkan nona memakai mobil saya, sopir saya yang akan mengantar nona.”
Syukurlah, walau ada tugas tambahan, setidaknya ia akan sampai tepat waktu. “Terima kasih direktur Lia...”
Sesampainya di gedung A, Yoo Ra segera mencari Yeon Jin. “Ah... disana.” Yoo Ra terburu-buru dan menghampiri Yeon Jin yang sedang duduk di kafetaria dengan membaca sebuah buku. Benar-benar CEO yang mandiri, bahkan sekretarisnya yang siap sedia pun diabaikan. Mungkin... masalah tadi malam berlanjut sampai sekarang? Bodohnya aku, ini masalah pekerjaan dan harus profesional.
“Tuan Park... Ini file yang anda minta, saya sudah kosongkan jadwal. Nanti siang harus kembali dan menerima laporan keuangan.”, Yeon Jin mengambil file dari Yoo Ra dan memperhatikan penampilan Yoo Ra yang berbeda dari kemari. “Setelan yang aku berikan, kok gak dipakai? Kamu sudah resmi menjadi pegawai kantor, bukan pegawai magang. Sekretaris pribadi pula, pakai sepatu? Kim Yoo Ra-ssi, disini wanita karier harus memakai sepatu hak tinggi, aku harap kamu bisa menyesuaikannya.”
“Maaf, saya kurang nyaman dengan sepatu seperti itu.” Bantah Yoo Ra yang membungkan Yeon Jin. Perlahan hati Yeon Jin perih, dia sudah tahu kalau Yoo Ra kurang nyaman dengan sepatu seperti itu. Tapi dia belum luluh atas kejadian kemarin yang membuatnya bad mood. Yoo Ra segera undur diri dan menemui Mr.Yang, “Saya izin menemui Mr.Yang, sebentar lagi saya akan mendampingi di luar ruang rapat.” Yoo Ra berbalik dan meninggalkan Yeon Jin, Yeon Jin melirik plester yang merekat di leher Yoo Ra, dan ada plester di pergelangan kaki yang memikat perhatian Yeon Jin.
“Dia... kenapa lagi... Kamu gak tahu aku sangat ingin memelukmu? Jaga diri memang gak bisa?” Gumam Yeon Jin dengan desahan.
Mr.Yang berada di lantai 3, parahnya lagi, gedung ini tidak memiliki lift. Pantas saja, gedung A ini mirip dengan aula pesta yang sangat megah, tanpa lift dan hanya tangga vintage yang elegan. Yoo Ra merasakan jari kakinya mulai nyeri.
---
__ADS_1
Sudah hampir 6 kali Yoo Ra naik turun tangga demi mengurus dokumen direktur Lia, sekarang ia sudah di luar ruang rapat dengan sekretaris yang lainnya, pembatasnya hanyalah sebuah kaca besar. Disana ia bisa melihat Yeon Jin yang sedang megikuti rapat, tanpa sadar ada seorang perempuan yang menepuk bahunya dari belakang. “Permisi nona, ada apa dengan sepatumu?”