
“Diamlah!” Seru Jae Won kepada Kim Jae.
Yoo Ra menahan tawa dengan sikap mereka, bagaikan kucing dengan tikus. Ternyata Kim Jae sama-sama menyebalkan entah itu dengan Yoo Ra maupun dengan temannya. Jae Won menoleh ke arah Yoo Ra yang sedang fokus membaca, "Perkenalkan namaku Do Jae Won, aku mahasiswa semester 5 juga asisten dosen disini. Kalau boleh tahu siapa namamu? (mendekat ke Yoo Ra).”
“Namaku Yoo Ra, Kim Yoo Ra.”
“Oh Yoo Ra, kebetulan juga nanti kita akan berada di kelas yang sama. Kalau kau merasa kesulitan, kau bisa mencariku. Dan mungkin sampai kamu lulus aku akan menjadi pengajar di kelasmu.”
“Hah? Kok bisa begitu, berarti kalau lulus bakalan jadi dosen disini dong?”
“Tepat sekali, hehehe...”
"Kenapa seonbae langsung tahu kalau kita ada di kelas yang sama?"
"Tadi, aku melihat lembar profilmu di kantor administrasi."
“Oh, begitu ya. Lain kali aku akan bersikap baik deh, biar nilaiku tidak berada di level bawah.”
“Ahaha... kau lucu juga. Oh iya, kalian pacaran ya?” Tebak Jae Won kepada mereka berdua, sontak keduanya berteriak, “Apa???”
Dengan sigap, Jae Won sedikit menjauh dan berkata, “Oh, maaf aku mengganggu kencan kalian (tersenyum) kalau begitu, aku akan segera pergi ya.”
“Dia adikku, jangan berpikir macam-macam. Memang pantas kalau disebut pacar, usia kita juga terpaut 2 tahun saja.” Kim Jae segera memperjelas tentangnya dengan Yoo Ra, supaya Jae Won mengerti dan tidak salah paham nantinya.
Saat itu juga Jae Won terbelalak, dan mendekat kembali ke arah Yoo Ra, bertanya apakah Yoo Ra tidak menyesal memiliki kakak seperti Kim Jae.
Dengan ekspresi nakal, Yoo Ra menjawab, “Sejujurnya, agak menyesal sih.”
“Yoo Ra... kau memang ratunya bericara jujur ya..." kata Kim Jae yang kesal, tapi dalam hatinya dia sedikit terhibur karena Yoo Ra sendiri sudah sedekat ini dengannya
“Kim Jae oppa sangat beruntung mempunyai adik yang jujur seperti aku. Hahaha...”
Tut... bunyi ponsel Kim Jae membekukan suasana sebentar.
Ternyata telepon dari sekertaris Min yang menyuruhnya untuk pergi ke kantor Kim Yoo karena ada urusan mendadak. Kim Jae memberitahu Yoo Ra untuk ikut bersamanya. “Jae Won, kapan-kapan kita kumpul lagi ya. Aku dan adikku punya urusan sebentar."
Kim Jae berdiri dan bergegas pergi, segera keluar dari ruangan itu.
“Oh baiklah, hati-hati di jalan ya. Tunggu sebentar..." tangan hangat Jae Won menahan lengan Yoo Ra, memberhentikannya sejenak. "Yoo Ra, kemarikan ponselmu.”
“Hah?”
__ADS_1
“Untuk bertukar nomor ponsel.”
“Oh, ini." Yoo Ra menyerahkan ponselnya tanpa bertanya mengapa Jae Won ingin bertukar nomor dengannya?
Dan...Jae Won langsung megetikkan nomor ponselnya di ponsel Yoo Ra, ponsel Jae Won pun berbunyi sebab misscall dari ponsel Yoo Ra. Jae Won pun mengembalikan ponsel Yoo Ra dan melambaikan ponselnya untuk menunjukkan misscall dari nomor Yoo Ra.
“Sudah, kalau butuh apa-apa nanti kau bisa menghubungiku. Nanti aku kirimkan pesan padamu ya." Ucap Jae Won dengan senyum puas. “Heem, nanti kalau ada waktu ya. Sampai jumpa seonbae.” mengangguk dan segera pergi menyusul Kim Jae.
Aksi dari Jae Won yang tiba-tiba meminta ponsel Yoo Ra dan memberikan nomor teleponnya bisa dibilang sangat berani, wanita manapun yang dibegitukan pasti juga merasa deg-degan dan mengira kalau sedang diincar. Beda dengan Yoo Ra, ekspresinya biasa saja tanpa ada kecurigaan maupun perasaan lebih.
Sepertinya Yoo Ra memang sosok wanita yang tidak mudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Disisi lain, Jae Won merasa senang menyimpan nomor Yoo Ra. Entah dia sedang jatuh cinta atau tidak, yang terpenting saat ini ia dicap sebagai senior yang bersedia kapanpun Yoo Ra membutuhkannya.
***
Saat ini kantor Nam Group dibawah kepemimpinan Kim Yoo sedang mengalami puncak kejayaan, Kim Yoo memanggil kedua keponakannya untuk memberikan beberapa bonus.
“Gimana suasana kampus? Kau nyaman tidak?” Tanya Kim Yoo kepada Yoo Ra, sejujurnya Kim Yok sedikit khawatir kalau Yoo Ra sedikit tidak nyaman, tapi Yoo Ra berkata bahwa sudah cukup nyaman dan berharap bisa betah nantinya.
Kim Yoo mengangguk dan bersyukur atas itu, dan memberikan semangat, dan meminta Yoo Ra untuk tidak memikirkan soal kaoan dia kembali ke kehidupan lampaunya dan lagi Yoo Ra harus menikmati masa-masanya disini.
“Samchon tenang saja, aku akan menikmati ini dulu.” kata Yoo Ra setuju dengan pendapat Kim Yoo.
“Ini bonus dari perusahaan, untuk kalian berdua. Beberapa setel pakaian, sepatu, dan uang.”
“Jangan banyak memuji, pikirkan kuliahmu. Seharusnya kau seangkatan dengan Jae Won. Jangan gunakan uang itu untuk pergi ke pub, kalau kau bermain disana lagi akan kupotong lehermu dan kucabik-cabik isi kepalamu.”
“Iya iya..." Kim Jae segera turun ke bawah sambil membawa barang pemberian Kim Yoo.
Yoo Ra masih belum ingin pergi dan malah menanyakan sesuatu kepada Kim Yoo, “Samchon kenal dengan Jae Won?”
“Tentu saja, grup kita termasuk donatur di kampusmu, jadi aku kenal setiap pengajar dan staf disana. Kenapa memangnya?”
“Oh begitu, tidak ada. Dia adalah seniorku di kampus. Ya sudah, aku pulang dulu.”
“Jangan lupa makan ya. Nanti malam aku tidak pulang, Eun Ji juga sedang study ke luar negeri untuk beberapa minggu. Untuk makan malam, nanti sekertaris Min akan membawakannya untuk kalian berdua.”
“Tidak usah, nanti aku makan di luar.”
(Kim Yoo)
“Kalau mau pergi sendiri bawalah mobil.”
__ADS_1
“Aku akan naik bus saja.”
“Jaga dirimu saat naik bus nanti ya!”
***
Malam sudah tiba, Yoo Ra berniat untuk jalan-jalan di sekitar tempat kaki lima. Kim Jae juga memberi tahu kalau disana makanannya enak-enak dan cukup santai untuk menikmati malam kota Seoul.
Yoo Ra segera naik bus dan pergi ke tempat itu, sesampainya disana ia mulai menjelajahi setiap kuliner yang ada. Tak hanya kuliner saja, tapi ada barang-barang seperti asesoris yang dijual. Di seberang jalan juga ada toko, tepatnya adalah toko bunga. Yoo Ra melihat ke arah toko bunga dan terheran, kenapa toko bunga itu belum tutup, padahal sudah hampir larut malam. Yoo Ra bertanya kepada salah satu pedagang didekatnya.
“Permisi... Ahjumma, saya mau bertanya.”
“Oh... Silahkan nona, ada apa?” Ucap bibi penjual keramik kuno yang menjawab Yoo Ra dengan nada lembut.
“Disana ada toko bunga, kenapa belum tutup?”
“Katanya disana bukan toko bunga biasa, toko bunga itu juga kadang buka kadang tutup.”
“Ini sudah malam sekali, sebentar lagi akan tutup ya?”
“Kalau nona penasaran, silahkan nona kesana dulu.”
“Baiklah, terima kasih.”
Tanpa pikir panjang, Yoo Ra langsung menghampiri toko bunga itu karena rasa penasaran. Sampailah di depan toko bunga itu, lonceng pintu berbunyi dan pintu toko bunga itu terbuka. Ada seseorang laki-laki paruh baya yang keluar dari toko bunga itu, Yoo Ra hendak bertanya sesuatu.
“Permisi, Ahjus...”
Yoo Ra tak melanjutkan kata-katanya, dia melihat pria itu seperti bukan manusia. Ada aura hitam disekeliling pria itu, Yoo Ra dibuat merinding olehnya. Saat diperhatikan, pria itu membawa satu tangkai bunga peony berwarna merah. Yoo Ra juga merasakan kalau pria itu adalah arwah orang yang sudah mati.
“Agassi... ada yang bisa saya bantu?” Suara seorang wanita tua dari pintu toko itu. Yoo Ra terkejut mendengarnya.
“Sa...Sa... Saya hanya lewat, permisi.” Yok Ra sudah merasa hawa dingin menusuknya hingga ke tulang, hendak buru-buru meninggalkan tempat karena takut, betapa sesaknya harus berada di situasi macam ini.
“Kemarilah, berkunjunglah sebentar kesini.” Wanita tua itu berkata demikian dan langsung menarik tangan Yoo Ra dengan perlahan untuk masuk ke dalam tokonya.
“Ta... tapi...”
***
Seonbae (선배): Senior
__ADS_1
Ahjumma (앟줌마) : Bibi
Agassi (아가씨) : Nona