Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 70


__ADS_3

Entahlah apalagi permainan barunya, Yoo Ra sudah muak dengan semua kepribadian Jae Won. Seminggu yang lalu, Yoo Ra mendapatkan semua kebenaran tentang siapa Jae Won yang sebenarnya.


Tepat seminggu yang lalu mereka tidak sengaja bertemu di kantor Kim Yoo, pada akhirnya melanjutkan makan siang bersama di kafetaria kantor.


“Seminggu lagi, camp orientasi akan dimulai. Aku harap tidak ada kekacauan, dan semoga acaranya tidak gagal.” Percakapan dimulai dengan membahas topik ini yang keluar dari mulut Jae Won.


Yoo Ra mengangguk dan mengatakan kalau ini adalah acara pertamanya, dan juga pertama kalinya dia menjadi ketua panitia. Ada seorang staff yang menghampiri mereka ketika sedang makan, dan meminta Yoo Ra untuk datang ke kantor salah satu direktur. “Nona besar, ini tidak lama, hanya perlu tanda tangan saja.”. Yoo Ra mengiyakannya, kemudian memberikan pengertian kepada Jae Won.


“Kak Jae Won, aku pergi sebentar, tolong jaga tasku sebentar.” Yoo Ra pergi dengan meninggalkan makanan sekaligus tas miliknya.


Saat kembali, Yoo Ra menyadari kalau Jae Won sudah pergi, dan ada karyawan kafetaria yang menyerahkan tasnya. “Nona besar Kim, ini tasmu, pria yang bersamamu tadi pergi dengan terburu-buru lalu menitipkannya kepada saya. Makananmu sudah dingin, boleh saya hangatkan lagi?”. “Oh, begitu rupanya. Terima kasih, dan tolong hangatkan lagi ya. Maaf sudah merepotkan.”.


Yoo Ra kembali duduk dan berniat memasukkan ponselnya ke dalam tas. “Kok, kebuka?” Yoo Ra terheran dengan sesuatu yang ia lihat. Saat membuka tas, kantung warna biru tua miliknya terbuka, dan liontin mawar putih yang seharusnya berada di dalam kantong, kini berada di luar kantong.


“Aku sama sekali tidak pernah membuka kantung ini.” Ucap Yoo Ra dengan menahan kesal.


Pasalnya, Yoo Ra sendiri tidak pernah membuka kantung itu, hanya saja selalu membawanya supaya tidak hilang. Ia mengrenyitkan dahi, siapa yang berani merusak benda berharga miliknya. Namun ia masih bisa bernapas lega, karena liontinnya tidak hancur.


Saat itu juga, Yoo Ra mencurigai dua orang, dan beranjak menuju ruang cctv tanpa menunggu makanannya. Yoo Ra menemui petugas yang bersangkutan untuk mencari rekaman yang menunjukkan siapa pelaku yang sebenarnya.


“Tolong tampilkan rekaman yang berada di kafetaria, sekitar 30 menit yang lalu.” Saat mencari, Sekretaris Min mencarinya, rupanya ada sesuatu yang darurat, mengharuskan Yoo Ra untuk datang.


Tanpa melihat rekaman yang masih ia cari, Yoo Ra bergegas pergi dan akan mencari rekaman itu lagi saat sudah selesai dengan urusannya. Tapi, Yoo Ra sudah berubah pikiran, kerusakan kecil seperti ini mungkin karena ia kurang berhati-hati. Jadi ia meutuskan untuk segera pulang dan melupakan kejadian ini.


Selang beberapa hari, Yoo Ra melihat seorang wanita yang sedang duduk menangis di lorong yang sepi. Karena khawatir, Yoo Ra mendekati dan bertanya apa yang tengah terjadi.


Wanita itu mendapat sebuah luka sayatan di lengannya, dan menggerutu sendiri, “Aku salah, aku salah mengatakan aku menyukainya, dia... dia pria jahat.” Tegas wanita itu dengan menutupi wajahnya. “Ayo aku antar ke rumah sakit, kalau tidak diobati nanti makin parah.” Bujuk Yoo Ra dengan mengeluarkan tisu dari ranselnya, berusaha mengelap rambut wanita itu yang basah karena disiram dengan minuman soda.


“Apa kau bertengkar dengan pacarmu? Ini keterlaluan, dia juga menyiramkan minuman soda. Ayo bangun.” Yoo Ra memapah wanita itu dan segera memanggil taksi. Yoo Ra kembali melihat kaleng soda itu, “Aku sering melihat minuman ini, siapa yang sering minum ini ya?” Gumamnya.

__ADS_1


Menuju rumah sakit dan mendapat perawatan, Yoo Ra masih menunggu wanita itu dan berusaha menenangkannya. Dari identitas wanita itu yang tertempel di bajunya, sangat terlihat kalau dia adalah asisten dosen dari kampus tetangga.


Setelah tenang, dia mulai menceritakan semua yang terjadi padanya hari ini. Cukup terkejut dan tidak percaya siapa pelaku dibalik ini, Yoo Ra sudah mulai merasakan ketidaknyamanan bahkan ketakutan tersendiri. Orang yang sudah dicurigainya akhirnya menampakkan wajah yang sebenarnya.


-


-


-


Setelah kejadian itu, Yoo Ra hanya ingin menjauhkan diri dari nama DO JAE WON. Ia sudah tahu dibalik pria halus lembut dan berprestasi, rupanya ada pria brengsek dan kriminal. Saat ini pria yang menunggunya di gerbang dengan penuh kecemasan, harus ia jauhi sejauh mungkin.


“Aku sudah lama menunggu disini, sudah lama kita tidak ngobrol.” Ucap Jae Won dengan menghampiri Yoo Ra, meraih tangan yang sepenuhnya sudah menjadi milik Yeon Jin.


Yoo Ra menarik tangannya dan mundur perlahan menjauhi pria brengsek di depannya. “Tidak ada topik yang perlu dibahas, aku ingin istirahat. Sekarang juga sudah malam, lebih baik senior juga segera tidur. Selamat malam.” Kata Yoo Ra dengan pergi meninggalkan Jae Won, ia menuju ke arah Yeon Jin, dan terdengar...


“Dia lagi dia lagi... aku sudah menyukaimu selama ini, aku berusaha menyenangkanmu, aku ingin mendekatimu, apakah aku salah jika aku menyukaimu? Kim Yoo Ra, tidakkah kau merasakan kalau aku benar-benar menyukai dan mencintaimu?” Teriak Jae Won yang menghentikan langkah Yoo Ra.


Yoo Ra tahu kalau Jae Won cukup sensitif, tapi dia tidak ingin membuat wanita lain terluka karenanya. Bukti dari wanita yang pernah Yoo Ra bawa ke rumah sakit sangatlah kuat, wanita itu berkata kalau Jae Won sangat menyukai seseorang sehingga menolak wanita itu dengan cara kekerasan.


“Apa yang kau katakan, aku sama sekali tidak mengerti. Ini aku, sama seperti kita bertemu dulu.” Bantah Jae Won.


“Hei brengsek, jangan mengelak lagi. Siapa yang berani dengan psikopat seperti dirimu? Sadarlah, kau hanya merasakan cinta yang sepihak. Apakah kau yakin kalau kau cukup baik dengannya?” Ucap Yeon Jin yang menarik Yoo Ra kedalam pelukannya.


“Ka...Kau... Yoo Ra...” Lirih Jae Won yang sudah tidak berdaya.


Yeon Jin pergi dengan menggandeng tangan Yoo Ra dan meninggalkan Jae Won sendirian di gerbang. Jae Won emosi, kemarahannya tidak terkendali, bahkan dia memukul gerbang itu. “Sial, aku yang menyukainya dulu kini sudah berada dalam genggaman orang lain. Sekalipun aku menginginkan debu, aku akan mendapatkannya. Yoo Ra, akan kubuat kau menyesal dan kembali kepadaku. Akan kubuat kau kembali kedalam pelukanku.” Ucap Jae Won yang menggerutu karena kesal.


Jae Won sudah mengambil inisiatif untuk mengubah kepribadiannya, menjadi orang yang dulu dikenal oleh Yoo Ra. Menjadi pria pintar dan lembut, keramahan yang sedang dirindukan oleh gadis pujaannya.

__ADS_1


-


-


-


“Sebaiknya tidur disini, aku akan mengambilkan minuman hangat untukmu.” Kata Yeon Jin dan bergegas mengambil minuman hangat.


Malam ini Yoo Ra mendapat bukti kalau Jae Won lah yang sudah merusak liontinnya, dan Yoo Ra sudah sepenuhnya yakin kalau Jae Won bukan orang biasa. Mungkin Jae Won mengetahui tentang siapa Yoo Ra sebenarnya.


Mereka berdua tidak pergi ke camp, tapi beristirahat di dalam kantor pengelola. Untungnya petugas disana memberikan ruang tamunya untuk mereka pakai. Tiba-tiba ada seseorang masuk, “Kim Yoo Ra-ssi, boleh aku masuk?”.


Yoo Ra melihat ke arah pintu, ternyata senior yang membantunya membuat liontin itu, Jang Im Tae. Kebetulan Im Tae satu tenda dengan Yoo Ra, kemudian dia mendengar dari Yeon Jin kalau Yoo Ra akan istirahat di kantor, jadi Im Tae merasa kalau Yoo Ra sedang tidak enak badan.


“Aku membawakan minuman herbal, ini... minumlah.” Ucap Im Tae. “Terimakasih senior Jang. Maaf sudah membuatmu khawatir, aku tidak apa-apa kok.” Sahut Yoo Ra.


Seperti mengetahui sesuatu, Im Tae memberitahu sesuatu. Rupa-rupanya, dia sudah mendengar pertengkaran anatar Yoo Ra dan Jae Won tadi. “Dia memang seperti itu, kelihatan bermuka dua. Aku akui dia adalah pria normal, tapi emosinya sangat buruk, baik-baiklah dengan Yeon Jin. Aku harap kau bisa dijaga dengan baik, jangan sampai lengah.” Im Tae sangat mengenal Jae Won, dan ucapan Im Tae akan terus diingat oleh Yoo Ra.


“Aku menemukan senior yang sangat pengertian, sekali lagi... Terima Kasih ya.” Yoo Ra sudah merasakan lega, dan kini ia hanya bisa meluruskan permasalahan, dan membuat Jae Won tersadar kalau yang disukai Yoo Ra bukanlah dia, dan tidak bisa menerima JaeWon.


Sihir Yeon Jin sudah mengenai Yoo Ra, entah sihir apa yang dipakainya sehingga membuat Yoo Ra mendapatkan kenyamanan. Ini bukan sesuatu yang berbau mistis, tapi inilah naluri manusia. Bukan perhatian lebih atau barang-barang mewah, tetapi... sebesar apa kenyamanan yang diberikan, hanya dengan itu sebuah hubungan bisa terjalin.


“Oh, Jang Im Tae... Biar aku yang menjaganya disini. Kau kembalilah ke tendamu.” Kata Yeon Jin yang melihat kedatangan Im Tae.


“Yang bener mau ngejaga? Kau siapanya?” Im Tae menuai rasa curiga yang menekan Yeon Jin. Gaya Yeon Jin yang suka to the point, mulai mengejutkan partner kuliahnya itu, “Aku pacarnya.” Jawab Yeon Jin dengan tegas.


“Apa???” Im Tae tercengang, seolah tidak percaya. Im Tae mengatakan kalau dia tidak mempercayai Yeon Jin bisa menyukai seseorang. “Kalau begitu, aku permisi dulu tuan CEO...” Kemudian Im Tae buru-buru pergi dan meninggalkan mereka berdua dengan raut wajah yang senang.


Yoo Ra tertidur di sofa, dan Yeon Jin duduk di kursi dekat jendela dengan memikirkan kembali kedekatan mereka, apalagi saat perburuan malam. “Astaga... Aku sangat bahagia, Ya Ampun...” Gerutu Yeon Jin dengan tersenyum sendiri. Pipinya memerah, kebahagiaan yang sangat memuncak.

__ADS_1


“Tentu aku akan menjaga seseorang yang sangat berharga ini, tetaplah disisiku ya...” Ucap Yeon Jin di dekat Yoo Ra dengan memberikan usapan lembut di kepala si gadis. Tatapan yang sangat menggetarkan hati, Yeon Jin tidak ingin meninggalkan wanita yang berharga ini, bahkan lebih berharga dari 10 nyawa manusia.


__ADS_2