
“Lelahnya...” Berbaring di tempat tidur dan melepaskan penat dari perjalanan panjang ini. Tertidur pulas dan segera menyegarkan pikiran.
Yoo Ra tertidur, Kim Jae yang ingin menemaninya pun harus mulai bekerja. Pergi ke studio dan mulai pemotretan, Kim Yoo sendiri juga belum pulang karena harus menjemput Eun Ji di bandara.
---
(Kim Jae)
“Sudah selesai? Kalau sudah selesai pemotretan ini aku akan segera pulang.”
(Staff)
“Kenapa terburu-buru, ayo kita ke cafe dulu.”
(Kim Jae)
“Tidak perlu, aku harus menemani seseorang.”
(Staff)
“Siapa dia? Jangan bilang kalau kau sudah pacaran?”
(Kim Jae)
“Benar sekali . Hyeong, aku pulang dulu...”
(Staff)
“Kalau mau berkencan jangan sampai ketahuan paparazi ya...”
Kim Jae yang sudah tidak sabar segera pulang dan menemui adik yang sekaligus kekasihnya itu. Ia ingin memberikan sebuah informasi kepada Yoo Ra, tentang sebuah barang yang diminta untuk diselidiki.
Membuka pintu kamar Yoo Ra dengan perlahan, mengingat kalau gadis itu kelelahan dan tertidur. Rupanya sudah bangun dan merawat lukanya.
(Kim Jae)
“Sudah membaik?”
(Yoo Ra)
“Sudah, sekarang hanya memerah dan bengkak. Kemarin masih parah, sekarang sudah mendingan.”
(Kim Jae)
“Ceritakan kenapa bisa seperti ini.”
Yoo Ra tak mau menceritakan cerita konyol yang membuat lengannya seperti ini, kalau diceritakan bukannya menarik simpati nantinya akan mengundang emosi. Terpaksa berbohong karena ketumpahan air panas saat akan menyeduh mie instan. Melihat Yoo Ra yang berkata begitu, Kim Jae sangat tidak percaya. Kim Jae sangat mengetahui kalau adiknya ini sama sekali tak bisa berbohong. Apalagi dengan alasan seperti itu.
(Kim Jae)
“Jangan berbohong kalau tidak mau cerita.”
(Yoo Ra)
“Oppa-ku sangat peka ternyata... Oppa, kau bilang dulu pernah satu sekolah dengan Chae Soo Ah. Apa itu benar?”
(Kim Jae)
“Benar, kenapa?”
(Yoo Ra)
“Apa dia punya kepribadian ganda?”
(Kim Jae)
__ADS_1
“Konyolnya...Ada hal aneh tentang dia?”
(Yoo Ra)
“Tidak, aku hanya penasaran.”
(Kim Jae)
“Jauhi ratu operasi plastik itu. Tidak tahu bagaimana nanti kalau kau akrab dengannya, dia itu bermuka dua. Setiap waktu saat terancam bahkan rela berbohong dan mengarang cerita.”
(Yoo Ra)
“Pantas saja, aktingnya luar biasa. Ngomong-ngomong... Aku sudah tahu permasalahan Jae Won seonbae dengan Soo Ah, tentang balas budi itu.”
(Kim Jae)
“Syukurlah kalau sudah tahu. Karena itu, jauhilah Jae Won sebisamu.”
Peringatan Kim Jae yang sudah berkali-kali diucapkan ini semakin hari semakin misterius. Apakah Jae Won adalah orang yang tidak baik? Mengapa Kim Jae melarang Yoo Ra dekat dengan Jae Won? Yang pasti ini untuk melindungi Yoo Ra, karena asalnya bukan dari kehidupan ini.
(Yoo Ra)
“Oppa... Tentang liontin mawarku gimana? Sudah dibawa ke Dal Rae?”
(Kim Jae)
“Oh itu, aku akan memberitahumu bagaimana hasilnya.”
Mawar putih itu berasal dari Dal Rae, Yoo Ra juga sengaja mengambilnya karena dianggap sebagai bunga biasa. Awalnya Dal Rae selalu meletakkan mawar putih itu di belakang atau di kebun miliknya, karena bunga itu tidak pernah mekar dan merupakan bunga yang memiliki sihir yang kuat. Siapapun yang memilikinya akan mendapat keuntungan, yakni bisa melintasi dimensi kehidupan dengan mengajak 1 rekannya.
Saat Yoo Ra datang ke toko Dal Rae, bunga mawar putih yang semula berada di kebun mendadak menghilang dan menempatkan diri di toko. Ternyata mawar itu sudah tahu akan pemiliknya, ternyata Yoo Ra lah yang akan menjadi tuannya. Mawar itu hanya bisa dimilki 1 orang saja selama 1 windu sekali, dan tepatnya 1 windu itu menampakkan diri dan menarik perhatian Yoo Ra.
Yoo Ra berasal dari kehidupan lampau, karena sudah menjadi pemilik mawar itu tentu memiliki fungsi tersendiri. Mawar itu akan menjadi keuntungan untuknya. Saat Yoo Ra ingin kembali ke kehidupan aslinya, mawar itu bisa mengantar 2 orang sekaligus. 2 orang itu adalah si pemilik dan rekan yang dipilih oleh si pemilik. Dengan bergandengan tangan menuju portal bulan purnama, mawar itu akan membuka 2 lorong sekaligus. Oleh karena itu mawar ini juga disebut mawar keabadian, dan merupakan harta karun yang harus dijaga oleh pemiliknya.
(Yoo Ra)
(Kim Jae)
“Jangan pernah memetik kelopaknya, kalau tidak ingatanmu akan hilang sedikit demi sedikit.”
(Yoo Ra)
“Karena mawar ini sudah aku jadikan liontin, maknanya aku tidak boleh merusaknya atau menhancurkannya.”
(Kim Jae)
“Tentu, kalau sampai rusak, kau tidak akan bisa mengingat semua kejadian disini saat kembali nanti. Dan juga itu akan berpengaruh kepada kehidupan reinkarnasimu.”
(Yoo Ra)
“Maksudnya, kalau aku bereinkarnasi selanjutnya akan menjadi orang yang aneh?”
(Kim Jae)
“Ahahahaha... Bisa jadi begitu. Jangan dipikirkan, nyawa orang hidup beserta jalan hidupnya adalah misteri. Kita hanya perlu bertahan dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.”
(Yoo Ra)
"Benar..."
(Kim Jae)
"Kalau masih penasaran, tanya sendiri ke nenek tua itu."
Mendengar perkataan Kim Jae, Yoo Ra merasa lega. Tapi Yoo Ra membuat komitmen untuk tidak menggunakan mawar putih itu, saat ini hanya bisa menjaga barang itu supaya tidak hancur atau jatuh ke orang yang salah.
__ADS_1
***
Eun Ji sudah kembali dari studynya, tapi belum berkunjung ke rumah Kim Yoo. Padahal, Eun Ji sudah merindukan Yoo Ra. Beberapa hari ini kesehatan Yoo Ra memburuk pasca wisata, dan beristirahat total di dalam rumah. Tanpa mengecek ponsel, berapa banyak pesan dan notifikasi yang tertimbun. Min biseo dan Emma yang merawatnya, Kim Yoo sibuk dengan pekerjaannya yang keluar kota, Kim Jae juga memiliki jadwal pemotretan yang padat.
Emma menyadari sesuatu, Yoo Ra sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya stress dan sakit seperti ini.
Saat ditanya, Yoo Ra tidak menjawab sepatah katapun. Seolah masalah yang dihadapinya tidak boleh diketahui oleh siapapun.
(Emma)
“Perasaanmu sudah membaik kan? Hampir seminggu hanya bisa terbaring di ranjang.”
(Yoo Ra)
“Siapa bilang hanya terbaring di ranjang.”
(Emma)
“Aku tahu... Hei, aku kagum padamu. Saat sakit saja pekerjaanmu hanya membaca buku seharian di dalam kamar, menatap keluar jendela dan menikmati udara sejuk. Memangnya dikehidupan aslimu kegiatan sehari-hari cuman begini?”
(Yoo Ra)
“Tidak...”
(Emma)
“Terus?”
(Yoo Ra)
“Aku selalu membaca buku di taman istana saat pagi dan sore hari. Saat siang, biasanya aku berlatih memanah dan pedang. Setiap 3 hari sekali aku belajar obat dan racun. Disana hidupku selalu banyak tantangan.”
(Emma)
“Uwah... Bukankah tuan putri disana selalu diajari etika kerajaan sampai mereka tua ya? Kok beda denganmu?”
(Yoo Ra)
“Dihitung mundur dari sekarang, sepertinya aku termasuk keluarga kerajaan yang sudah cukup modern. Sebagai keluarga kerajaan, aku sudah diberi kebebasan. Dalam ikrar disebutkan kalau wanita juga diberi kebebasan, tapi itu hanya berlaku bagi putri raja dan kerabat dekatnya. Sementara rakyat biasa, wanita masih dianggap barang murah dan tidak punya kebebasan.”
(Emma)
“Jadi ini termasuk keuntungan bagimu? Hidupmu sepertinya menyenangkan dan sangat bebas. Usiamu yang menginjak 25 tahun juga tidak menjadi masalah bahkan menjadi tuan putri lajang.”
(Yoo Ra)
“Eonni hanya memandang status, sejujurnya disana sangat terancam. Kalau tidak bisa melindungi diri dan hanya menjadi wanita lemah, saat satu hembusan nafas tidak akan terjadi hembusan kedua. Hanya bunuh dan bunuh, dibunuh atau membunuh, bisa dibayangkan berapa banyak dosa mereka.”
(Emma)
“Begitulah... Aku juga memiliki nasib yang sama sepertimu. Aku jadi teringat masa laluku yang membuatku menjadi seperti ini, membunuh manusia yang bernyawa. Menjadi mata-mata yang bertujuan membunuh semua keluarga bangsawan dengan menyamar sebagai pelayan mereka. Pada akhirnya aku terkena karmaku sendiri dan menjadi anak buah dewa seperti sekarang. ”
(Yoo Ra)
“Eonni masih diberi kesempatan membunuh orang, berbeda denganku. Selama aku bertarung dan mengayunkan pedang selama 25 tahun itu, aku sama sekali belum membunuh orang, aku meninggalkan sebuah sayatan yang melumpuhkan otot dalam beberapa durasi tanpa menyebabkan kematian.”
(Emma)
“Kau bego banget, ahaha... Seharusnya bunuh saja, membiarkan mereka hidup hanyalah keuntungan bagi mereka. Kau berencana untuk berubah atau tetap seperti ini?”
(Yoo Ra)
“Mungkin aku akan mengambil langkah yang sepantasnya.”
(Emma)
__ADS_1
“Sudahlah, cerita ini hanya membuat kita bersedih . Ayo kita keluar, berkunjung ke toko nenek tu itu dan jalan-jalan ke mall . Lihat dirimu, sudah sehat dan obat selanjutnya adalah belanja. Ahahaha...”
***