Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 57


__ADS_3

Emma menunggu Kedatangan Kim Jae, karena sebentar lagi purnama biru akan terjadi. Emma menjamin kalau proses ini tidak akan mencabut nyawa Kim Jae, karena Yoo Ra yang memiliki mawar putih sudah memberikan sebagian energi ke dalam jiwa Kim Jae.


Peti kristal sudah siap, dan jendela bulan juga memliki koordinat yang pas dengan sinar bulan. Langkah demi langkah yang Kim Jae lalui kini sudah mendekati peti yang akan mengubah takdirnya.


“Aku sudah siap, kalian lanjutkan prosesnya.” Perlahan peti ditutup, penutup peti yang terbuat dari kaca transparan akan memperlihatkan kepada Emma dan asistennya betapa murni jiwa yang Kim Jae miliki ketika melewati proses menjadi goblin.


---


Yeon Jin yang berada di rumahnya berusaha mengajak Yoo Ra pergi ke suatu ruangan. Rupanya ruangan itu adalah ruangan khusus milik Yeon Jin yang berada di lantai 50, ruang pribadi yang menjadi taman. Salju pertama akan turun, biasanya sepasang kekasih akan menikmatinya dengan berdua saja. Yeon Jin akan mengajak Yoo Ra untuk melihat salju pertama yang turun di balkon taman pribadinya.


Yoo Ra tercengang dengan ruangan itu, dekorasinya sangat memanjakan mata. Walau memakai bunga plastik dan bunga kertas, ruangan ini disulap menjadi taman rahasia seperti di negeri dongeng. Yeon Jin menariknya ke arah balkon dan menempatkan Yoo Ra disebuah kursi kayu.


“Kita tunggu saljunya turun, musim ini akan menjadi musim yang indah. Jangan buru-buru pulang karena kedinginan, aku punya sesuatu dan ada hal yang ingin aku tanyakan.” Ucap Yeon Jin yang sangat serius. Yoo Ra bertanya-tanya kenapa Yeon Jin semakin hari semakin terbuka untuknya, hal itu juga terjadi padanya. Bahkan Yoo Ra merasa kalau hubungan mereka sudah sangat akrab.


Yeon Jin membawa kantung biru milik Yoo Ra yang dititipkan oleh Min biseo beberapa hari yang lalu, belum sempat diberikan karena ada maksud tertentu yang diinginkan oleh Yeon Jin. Kantung itu digenggam dengan kuat oleh Yeon Jin dan berusaha mengumpulkan keberanian untuk bertanya mengenai benda itu.


Kini saatnya, dan tidak boleh disia-siakan, jika menunggu salju turun akan membuang banyak waktu dan kesempatan.


(Yeon Jin)


“Aku ingin menanyakan sesuatu.”


(Yoo Ra)


“Akan aku jawab.”


(Yeon Jin)


“Ini benar milikmu?”


Yeon Jin menunjukkan kantung itu kepada Yoo Ra. Dan Yoo Ra terkejut, mengapa kantung miliknya yang berisi benda penting itu ada pada Yeon Jin.


(Yoo Ra)


“Kok...Kok bisa ada pada seonbae?”


(Yeon Jin)


“Ceritanya panjang, aku akan langsung ke intinya saja. Cincin itu milikmu?”


(Yoo Ra)


“Tentu, ini milikku.”


(Yeon Jin)


“Jadi... namamu yang sebenarnya siapa? Kenapa nama yang terukir kelihatan samar sekali? Sepertinya ada inisial Lee. Siapa namamu... Yang asli...”


(Yoo Ra)


“Tentu saja L...”


Yoo Ra terkejut, sepertinya Yeon Jin mengetahui sesuatu mengenai dirinya. Hampir saja ia keceplosan. Yeon Jin diam dan menunggu jawaban pasti dari Yoo Ra. Memang agak lancang, namun kalau tidak begini pasti Yeon Jin akan mendapat kesalahpahaman lagi. Lebih baik memastikan identitas daripada tertipu seumur hidup.


(Yeon Jin)


“Siapa?”

__ADS_1


(Yoo Ra)


“Ah i...ini...”


Yeon Jin merasakan kalau Yoo Ra tidak nyaman dengan pembicaraan ini, dia juga tidak ingin menyinggung Yoo Ra.


(Yeon Jin)


“Jangan dijawab kalau tidak ingin menjawab.”


(Yoo Ra)


“Kenapa seonbae ingin tahu?”


(Yeon Jin)


“Tidak apa-apa. Nama Lee Yoo Ra mengingatkanku pada seseorang.”


Tiba-tiba Yoo Ra merasakan hal aneh disekitarnya, seperti merasakan kejanggalan yang membuatnya tidak nyaman. Terlintas di dalam pikirannya, dan melihat sesuatu dengan jelas. Tubuh Yoo Ra sedikit bergetar dan terhuyung hampir jatuh dari kursi ketika menerima gambaran itu. Gambaran yang terlihat di pikirannya adalah...


“Yeon Jin seonbae juga punya cincin seperti milikku ini?” Gumam Yoo Ra yang mendapat kiriman. Layaknya anak indigo, Yoo Ra bisa mengetahui kalau Yeon Jin juga memiliki dal banji seperti miliknya.


Pria itu membuka laci dan mengeluarkan kotak cincin, lalu mengeluarkan cincin itu kemudian memakainya. Wajah sang pria sangat jelas, dia adalah Yeon Jin. Namun nama yang terukir di cincinnya samar. Begitulah gambaran yang diterima Yoo Ra.


(Yoo Ra)


“Seonbae...”


(Yeon Jin)


Yeon Jin panik saat menangkap tubuh Yoo Ra. Yoo Ra menatap Yeon Jin seakan tidak percaya dengan penglihatannya tadi. Yoo Ra beterus terang saat mengatakan ini.


(Yoo Ra)


“Seonbae punya dal banji kan? Sama persis dengan punyaku?”


(Yeon Jin)


“Apa...”


(Yoo Ra)


“Seonbae punya itu kan?”


(Yeon Jin)


“Itu...”


Telinga Yoo Ra mendadak berdenging, dan Yoo Ra merasa pusing sekali. Yeon Jin yang mengetahui ini langsung menyarankan untuk pergi ke taman yang di luar saja, sekaligus mencari udara segar.


Yeon Jin membawa Yoo Ra pergi ke taman belakang apartemen dan menghentikan topik pembicaraan yang tadi. “Lupakan yang tadi, kita bisa bahas lain kali. Sekarang nikmati dulu salju pertama disini ya.”


Yoo Ra mengangguk dan menuruti kata Yeon Jin, ia juga tidak ingin membicarakan benda itu lagi. Duduk berdampingan dan memandangi satu sama lain, mencoba meluruskan masalah yang tadi. “Jangan dipikirkan, benda itu juga bukan apa-apa.” Ucap Yoo Ra untuk menyudahi ini, “Baiklah, Hah... . Kita tunggu saljunya turun, kalau sudah turun nanti kita kembali ke apartemen.” Ucap Yeon Jin yang mendinginkan suasana.


Yoo Ra mengalihkan pembicaraan dengan bertanya makanan apa yang cocok menyambut musim dingin ini, Yeon Jin menjawab kalau dia ingin makan mochi. Menggelikan sekali, biasanya makanan berat yang paling diinginkan, tapi kata “mochi” membuatnya ingin memakannya. Tidak buruk kalau hidangan manis dan hangat baik untuk hari ini, dengan menyamut musim penuh kedinginan.


Yoo Ra dan Yeon Jin bercanda, butir demi butir salju mulai turun dari atas. Yoo Ra mengadahkan tangan dan tersenyum melihat salju yang putih dan bersih ini. “Putih, kecil, dan rapuh.” Ucap Yoo Ra yang berbicara sendiri. Tangan Yoo Ra masih mengadah, dan yang satunya masih berada di dalam saku.

__ADS_1


Secara langsung Yeon Jin menggenggam tangan Yoo Ra yang memegang salju. “Ini dingin, sudah puas melihat disini kan, ayo masuk ke dalam.” Yeon Jin mengajak Yoo Ra masuk ke dalam apartemen dan kembali ke ruangan itu.


Balkon yang luas dan cocok untuk bernaung menikmati salju yang turun. Yoo Ra bersandar di pagar balkon dan mengulangi kegiatannya, yakni mencoba mengenggam kembali salju yang turun seperti gerimis. Yeon Jin berada di belakangnya, sangat pas sekali. Tinggi badan Yoo Ra hanya sebahu Yeon Jin membuatnya terlihat sangat mungil sekali.


(Yeon Jin)


“Sudah cukup, apa gak kedinginan?”


(Yoo Ra)


“Menikmati salju pertama haruslah serius. Ini adalah yang pertama, tidak boleh disia-siakan.”


Yeon Jin menggenggam tangan yang sudah dingin itu, dengan berdiri di belakang untuk memberikan kehangatan. Yeon Jin sudah tidak bisa menahan lagi, ingin merubah statusnya sebagai orang terdekat Yoo Ra.


Masih berada di belakang Yoo Ra dan ikut memegang salju, Yeon Jin berterus terang kepada seorang gadis yang membelakanginya.


(Yeon Jin)


“Bolehkah aku mengatakan sesuatu?”


(Yoo Ra)


“Silahkan.”


(Yeon Jin)


“Masih ingat dengan pertanyaan dan pilihan yang aku ajukan dulu.”


(Yoo Ra)


“ Yang itu ya... Aku ingat dengan jelas kok.”


(Yeon Jin)


“Mau berkencan denganku?”


Yoo Ra terhenti, dan terkejut bukan main. Baru pertama kali ada seseorang yang mengatakan hal ini kepadanya. Yeon Jin mendekat dan menempatkan dagu di kepala Yoo Ra, dengan memeluk pinggan gadis muda itu.


“Aku sudah lama menyukaimu, waktu itu aku melihatmu di kantor presdir Kim Yoo. Aku hanya punya urusan di hari itu dan tidak ada jadwal lagi untuk mengerjakan proyek disana. Tapi setiap hari aku mengunjungi kantor pamanmu, dan hanya ingin melihat dirimu. Pertemuan kita yang tidak disengaja, aku diam saja seolah tidak pernah melihatmu sama sekali. Aku merasa kalau ini takdir, wajah dan senyumanmu membuatku bingung, malam hari juga tidak bisa tidur.”


Yoo Ra tidak menyangka kalau CEO yang pernah terlibat perdebatan dengannya ternyata sudah tertarik padanya bahkan sebelum mereka bertemu untuk pertama kali. Jantungnya berdegup sangat kencang, mendengar pengakuan dari Yeon Jin secara langsung ini.


“Aku ingin menjadi kekasihmu, kau mau menerimaku atau tidak? Aku tidak ingin menanyakan apa kau mau jadi pacarku, tapi aku sendiri yang ingin menjadi orang spesial, pria yang selalu ada dan melindungimu.”


Biasanya si pria yang memberikan tawaran kepada wanita pujaannya, namun Yeon Jin malah sebaliknya, menawarkan diri untuk menjadi kekasih Yoo Ra. Pria yang luar biasa dan beda dari pria manapun, posisinya yang tinggi akan menjadi rendah dihadapan Yoo Ra.


“Sekali lagi... Aku ingin menjadi kekasihmu... Yoo Ra-ssi, apapun identitasmu aku tidak peduli. Kau mau menerimaku atau tidak?”


Pertanyaan ini sangat membuat Yoo Ra bimbang dan bingung, masih ada Jae Won yang terbayang. Tapi selama ini dirinya sangat nyaman dengan keberadaan Yeon Jin, tapi Jae Won masih menjadi pemisah diantara itu.


“Bagaimana ini... Aku bingung, dan aku takut.” Suara hati Yoo Ra berteriak dengan keras, dan masih tidak ingin menjawab pertanyaan dari Yeon Jin.


“Aku masih bingung dan tidak tahu apakah harus menerima dirimu, hatiku bingung mencari pintu siapa yang layak untuk diberikan perasaan milikku.” Jawab Yoo Ra dengan pasti untuk menjelaskan semua yang Yeon Jin tanyakan.


“Jawablah dengan kata IYA atau TIDAK... Aku juga bersedia kalau kau mengatakan BELUM, aku akan menunggu.” Yeon Jin mempererat pelukannya.


“Jawaban untuk saat ini...”-Yoo Ra

__ADS_1


__ADS_2