Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 50


__ADS_3

Setelah semalaman menginap di jjimjilbang, waktunya pulang ke rumah. Sebelum pulang ke rumah, mereka berdua mampir ke sebuah restoran untuk sarapan. Yeon Jin memilih restoran bergaya Inggris, letaknya tidak jauh dari sauna.


Memesan 2 porsi sarapan, dan duduk bersebrangan. Yoo Ra nampak memiliki sedikit beban di dalam pikirannya saat ini, mengenai gosip yang beredar dan meledak-ledak antara Yoo Ra dengan Kim Yoo. Saat membuka forum online pagi ini, banyak sekali artikel yang membahas hubungan antara Yoo Ra dengan pamannya.


Tak banyak yang tahu kalau Yoo Ra sudah menjadi kerabat Kim Yoo, lebih tepatnya adalah hubungan darah paman dengan keponakannya. Yeon Jin membaca artikel demi artikel saat menunggu sarapannya, Yoo Ra hanya terdiam dan memfokuskan diri menatap keluar jendela kaca. Melihat mobil dan para pejalan kaki yang melintas, cukup membuatnya tenang sejenak dan melepaskan beban.


Yeon Jin bersedih bukan karena rasa iba, selama ini gadis yang tidak banyak bicara, dingin dan terkesan polos sedang tertimpa masalah besar, hal ini Yeon Jin bisa merasakannya. Betapa buruk namanya hari ini, artikel yang dimuat di internet juga menyebar luas.


(Yeon Jin)


“Hei, sarapannya sudah datang. Ayo makan.”


(Yoo Ra)


“Oh? Baiklah.”


(Yeon Jin)


“Jangan dipikirkan, sudah kubilang tunggu beberapa hari lagi. Oke?”


(Yoo Ra)


“Aku hanya ingin ketenangan, seperti orang biasa.”


(Yeon Jin)


“Cepat makanlah, sebentar lagi kita pulang.”


Yeon Jin tidak tega mendengar 2 kata “orang biasa” yang keluar dari mulut Yoo Ra. Wanita yang berasal dari keluarga terpandang memiliki reputasi yang mudah jatuh karena gosip dibandingakan laki-laki.


---


Yoo Ra mendapat pesan dari Min biseo, saat ini di rumah sedang banyak pelayan yang membersihkan rumah, dan Kim Yoo mengadakan renovasi. Sekitar 2 bulan lagi rumah mereka akan selesai, dan untuk sementara mereka akan tinggal di villa milik Kim Yoo yang berada di luar kota.


“Agassi, presdir juga memintamu untuk tinggal di vila, tapi agassi harus kuliah, jadi presdir juga sudah mempersiapkan apartemen untukmu dan juga Kim Jae karena dekat dengan kampus, presdir. Barang-barang milikmu juga sudah kita kemas, sekarang agassi bisa langsung ke gedung Diamond Apartement.”


Diamond Apartement? Itu gedung apartemen elit kedua yang ada di kota ini, dekat dengan kampus dan juga sangat strategis. Yoo Ra juga ingin tinggal sendiri disana, dan meminta Yeon Jin mengantarnya kesana.


(Yeon Jin)


“Diamond? Kau mau tinggal disana? Kim Jae juga?”


(Yoo Ra)


“Iya, tapi kita tinggalnya terpisah.”


(Yeon Jin)


“Yoo Ra... . Aku juga tinggal disana.”


Wah... antara kebetulan dan juga takdir, siapa sangka mereka akan satu lingkungan. Menjadi tetangga sekaligus rekan kampus.


“Ya Tuhan... terima kasih atas berkatmu ini, mimpi apa aku bisa mendapatkan ini?” Hati Yeon Jin menjerit kegirangan, ini sebuah takdir baginya. Peluangnya jadi semakin besar, dan Yeon Jin juga sangat bahagia hingga tersenyum sendiri.


(Yoo Ra)


“Seonbae jangan senyum sendiri, aku jadi takut.”


(Yeon Jin)


“Jadi jadi... kau tinggal di lantai berapa? Nomor rumahnya?”


(Yoo Ra)


“Tidak tahu, makanya aku minta seonbae mengantarku kesana. Itung-itung juga seonbae ikut pulang.”


(Yeon Jin)


“Betul sekali... Ah... aku senang ”


(Yoo Ra)

__ADS_1


“Aku hanya 2 bulan tinggal disana, mungkin juga sampai musim dingin selesai.”


(Yeon Jin)


“Apa? Kok...Kok... bisa begitu? Bukan tinggal disana terus?”


(Yoo Ra)


“Rumah kami sedang direnovasi, makanya pindah sebentar.”


Yeon Jin harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, dan tidak boleh terlewat dengan sia-sia.


***


Sudah sampai di depan Diamond Apartement, di depan gedung sudah ada 2 mobil pengangkut barang, mereka memindahkan barang ke atas. Nampak beberapa pelayan Kim Yoo yang bertugas untuk menata barang-barang milik Yoo Ra dan juga Kim Jae. Min Biseo sedang berdiri di depan pintu dan mengawasi mereka dengan teliti sambil mengecek ponselnya.


Kim Jae baru datang, dan segera naik ke atas untuk segera melihat rumah sementara miliknya. Yoo Ra yang berdiri di depan gedung menyaksikan betapa sibuknya orang-orang yang sedang mengurus pindahannya ini. Mendekat dan bertanya kepada Min biseo berada di lantai berapa dia tinggal dan berapa nomor rumahnya.


(Min biseo)


“Agassi tinggal di lantai 24 nomor 242, dan Kim Jae tinggal di lantai 27 nomor 271. Untuk sekarang apartemennya berantakan, ini masih dirapikan, nanti sore baru bisa ditempati.”


(Yoo Ra)


“Terima kasih.”


Yoo Ra membalikkan badan dan segera masuk kedalam untuk melihat kondisi apartemennya, Yeon Jin segera menyusul Yoo Ra.


(Yeon Jin)


“Lantai berapa?”


(Yoo Ra)


“Lantai 24 nomor 242. Harus pakai lift nih.”


Yeon Jin lebih terkejut lagi mendengar ini, ini memang suatu kebetulan yang tak biasa, Yeon Jin juga tinggal di lantai 24 nomor 241. Yeon Jin tak menyangka kalau keajaiban ini akan mempermudah dirinya.


(Yeon Jin)


Sudah berada di apartemen Yoo Ra, banyak sekali pelayan yang sedang beres-beres dan membungkuk memberikan salam padanya. Yoo Ra melihat apartemennya, sangat luas dan mewah. Ia tidak akan bertanya berapa harga sewa untuk 2 bulan kedepan, sudah ditebak kalau harga sewa sangat fantastis mengingat apartemen ini adalah apartemen mewah kelas atas.


Yoo Ra segera keluar dan ingin istirahat sebentar di bawah. Pintu yang berhadapan dengan pintu apartemen Yoo Ra terbuka, dan Yeon Jin keluar dari situ.


(Yoo Ra)


“Seonbae? ”


(Yeon Jin)


“Halo, tetangga baru.”


(Yoo Ra)


“Wah . Kenapa tidak bilang kalau kita jadi tetangga?”


(Yeon Jin)


“Gimana ya? Iseng sedikit boleh lah ya... Ayo masuk, main ke rumahku dulu.”


Yoo Ra setuju dengan ajakan Yeon Jin. Menyajikan secangkir kopi dan mengajaknya mengobrol, seperti memberi perhatian yang lebih dari sekedar teman atau senior. Yeon Jin memberikan arahan saat acara besok, dan memberikan dorongan sekaligus semangat untuk berani berbicara di depan.


Yoo Ra harus mempersiapkan diri, sebab ia harus berpidato di hadapan donatur kampus. Yeon Jin tidak ikut serta dan akan menjadi audience, karena tahun ini ayahnya berada di luar negeri.


Televisi yang sedang menyala, kini memberitakan tentang pembunuhan. Pembunuhan terhadap seorang biarawati gereja, dilatar belakangi oleh ramalan yang menyimpang dan kebohongan biarawati yang menewaskannya, selongsong peluru ditemukan di tempat kejadian, pelakunya diperkirakan seorang laki-laki berusia 20 tahunan dan belum tertangkap, tetapi kasus ini akan ditutup segera. Berita itu menyadarkan Yoo Ra kembali dan mengingat foto biarawati yang sedang dimuat di dalam berita sama persis dengan biarawati yang ditemui olehnya beberapa waktu yang lalu.


Yoo Ra terdiam dan berpikir kalau masalah ini bukan masalah yang sepele. Ring...Ring... Ponsel Yoo Ra berbunyi dan mendapat panggilan dari Jeon Ki.


(Jeon Ki)


“Halo, Yoo Ra-ya... Gawat!”

__ADS_1


(Yoo Ra)


“ Ra Jeon Ki...”


(Jeon Ki)


“Jae Won seonbaenim masuk rumah sakit, kepalanya terluka sekarang tidak sadarkan diri, waktu di ambulans dia memanggil namamu, dan sedari tadi dia ingin menemuimu.”


(Yoo Ra)


“Terluka? Kok bisa?”


(Jeon Ki)


“Kata dokter dia mengalami emosi yang tidak bisa dikendalikan, di bar dia memecahkan botol anggur dan memukulkannya ke kepalanya sendiri. Sepertinya dia butuh kamu, segera. Cepatlah kesini.”


(Yoo Ra)


“Di rumah sakit mana? Aku akan segera kesana.”


Jeon Ki memberikan alamat rumah sakitnya dan Yoo Ra berlari keluar rumah Yeon Jin untuk menuju ke rumah sakit itu. Saat berlari, Yeon Jin menahan tangan Yoo Ra dan memperingatkannya untuk tidak pergi kesana.


(Yeon Jin)


“Aku mohon jangan pergi.”


(Yoo Ra)


“Tapi dia membutuhkanku.”


(Yeon Jin)


“Aku bilang jangan pergi!”


Yeon Jin mebentak Yoo Ra, dan Yoo Ra terkejut dengan hal ini. Selama ini Yeon Jin tidak pernah kasar terhadapnya, kali ini berbeda, Yeon Jin sangat marah.


(Yeon Jin)


“Dia akan baik-baik saja, ada orang yang akan merawatnya.”


(Yoo Ra)


“Lepaskan aku!”


(Yeon Jin)


“Yoo Ra... Apa yang kau khawatirkan dengannya? Dia itu bukan orang baik, percayalah padaku. Dia memiliki gangguan mental, aku takut kau terluka nantinya.”


(Yoo Ra)


“Terserah, tapi aku harus kesana .”


(Yeon Jin)


“Aku bilang jangan ya jangan!!!”


(Yoo Ra)


“Jangan melarangku, memang kau siapa?”


Yeon Jin sudah geram karena Yoo Ra mengabaikan peringatannya. Karena amarah yang sudah tidak terkontrol, Yeon Jin melepaskan genggamannya dan mendorong Yoo Ra hingga terjatuh. Kedua lutut Yoo Ra menghantam lantai dan berdarah karena dorongan dari Yeon Jin yang sangat kuat. “Aduh...” Ucap Yoo Ra dengan suara pelan dan mencoba berdiri.


Yeon Jin tanpa sadar telah melukai Yoo Ra, dia menyesal dan nampak bingung.


(Yeon Jin)


“Yoo... Yoo Ra... Maafkan aku, aku tidak bermaksud...”


Yeon Jin yang ingin memapah Yoo Ra harus ditolak mentah-mentah. Yoo Ra segera berdiri dan mengabaikan bantuan dari Yeon Jin, “Aku pergi dulu...” Yoo Ra segera berlari tanpa menghiraukan rasa sakitnya dan meninggalkan Yeon Jin yang membeku, berlari dan turun kelantai bawah dengan panik. Ponselnya terus berdering, panggilan dari Jeon Ki yang semakin mengkhawatirkan.


“Apa yang sudah aku lakukan? Yoo Ra terluka, ini semua gara-gara aku, kalau aku tidak mendorongnya pasti tidak akan begini. Bodohnya aku!!! Sekarang malah aku yang yang terlihat memiliki gangguan jiwa. Alangkah baiknya kalau kau tidak mendekati Jae Won. Aku harus bagaimana untuk melindungimu?” – Park Yeon Jin

__ADS_1


__ADS_2