
Hanya tersisa beberapa hari lagi bekerja untuk Yeon Jin, Yoo Ra harus menunjukkan performanya semaksimal mungkin.
Kebetulan 3 hari kedepan akan banyak sekali pelelangan proyek. Yoo Ra harus menyiapkan semua proposal. Yoo Ra dan Yeon Jin akan sering keluar kantor untuk mengurus beberapa proyek, hari ini, mereka akan mengunjungi satu perusahaan perhiasan dan membahas tentang kerja sama dengan mereka.
Di meja kerjanya, Yoo Ra melihat ke arah jendela kaca yang menghubungkan ruangannya dengan ruangan Yeon Jin. Yeon Jin terlihat melipat tangan dan menyandarkan kepalanya di kursi, raut wajahnya berubah, saat tadi Yoo Ra memberitahukan jadwalnya.
30 menit lagi akan berangkat, Yoo Ra menemui Yeon Jin dan bersiap-siap pergi ke perusahaan perhiasan itu. “Setengah jam lagi, ayo rapikan dasimu.” Kata Yoo Ra.
Yeon Jin melihat wanita di depannya dengan membawa map kuning, menghela napas dan berdiri di dekatnya. Pria bertubuh tinggi itu berdiri tepat di depan Yoo Ra dan memintanya untuk membenarkan dasinya.
“Kenapa?” Tanya Yoo Ra, Yeon Jin hanya memperhatikan Yoo Ra, dengan tarikan napas, Yeon Jin mengucapkan satu kalimat yang membuat Yoo Ra keheranan, “Bagaimana kalau kita batalkan kerja sama dengan perusahaan itu?”
Yoo Ra memandang Yeon Jin dengan kesal, kerja sama ini Yoo Ra dapatkan dengan susah payah. Perusahaan ini sangat besar, bahkan mau berinvestasi dengan perusahaan milik Yeon Jin dan juga milik Kim Yoo. Tentu akan mengecewakan kedua belah pihak jika Yeon Jin membatalkan ini.
“Hei... saham perusahaan sudah mulai naik, kita punya investor loh. Jangan megada-ada, ayo kita segera pergi.” Kata Yoo Ra dengan mengambil jas Yeon Jin.
Yeon Jin masih tidak senang, Yoo Ra bertanya-tanya ada apa dengan kekasihnya ini, seperti tidak biasa. Yeon Jin menggenggam tangan Yoo Ra dengan erat dan akan melakukan apapun yang dimintanya. Mengangguk dan pergi menuju perusahaan perhiasan itu.
Sherin, perusahaan perhiasan ternama, termasuk perusahaan perhiasan terbaik di kota. CEO dari Sherin sangat berprestasi, dia juga alumni dari Universitas Deiji, maka dari itu dia mau bekerja sama dengan orang-orang dari Universitas Deiji. Yoo Ra megirimkan file untuk kerja sama mereka, hanya memperkenalkan diri dengan menggunakan nama Deiji, kerja samanya langsung disetujui tanpa persyaratan apapun.
“CEO Selly, presdir Park dari Park Group dengan sekretarisnya sudah tiba.”, “Biarkan mereka masuk.”
Suara lembut dari CEO itu, Selly. Terkenal dan sangat dipuja-puja karena memiliki paras yang cantik.
Yoo Ra dan Yeon Jin masuk, CEO itu sudah berada di depan mereka. Duduk dengan memutar kursi, menyambut mereka dengan senyuman. “Halo...”
CEO itu sedikit merendahkan suara, dan memasang ekspresi terkejut, tidak menyangka bahwa presdir dari Park Group adalah, “Park Yeon Jin-ssi?”
Mereka saling kenal? Itulah yang dipikiran Yoo Ra, tapi... mengapa mereka canggung?
-
-
-
__ADS_1
Restoran daging panggang dekat dengan jalan raya, aromanya tercium hingga keluar pintu. Yoo Ra datang ke tempat itu dengan sedikit bumbu lelah, menyapa sang pemilik sekaligus seniornya.
“Halo kak Joan...” ucap Yoo Ra dan duduk di kursi bar menghadap langsung ke arah Joan. Joan heran, tumben Yoo Ra sendirian disini. “Segelas bir?” Joan menawarkan minuman itu untuk meredakan wajah lelah Yoo Ra. Hanya untuk mampir saja karena restoran ini cukup dekat dengan kantor dan juga mendambakan traktiran dari seniornya.
“Jadi pekerja kantoran emang sulit, terbiasalah, toh nanti kamu menanggung biaya hidupmu sendiri.” Ucap Joan dengan meletakkan segelas bir di depan Yoo Ra, wanita itu hanya mengangguk saja tanpa memberikan komentar. Satu tegukan dan menundukkan kepala menghilangkan semua lelah dan lesunya.
Joan bertanya, bagaimana harimu? Ada masalah?
Menggeleng dan mengatakan tidak, sebenarnya banyak sekali kekacauan di dalam diri Yoo Ra. Meneguk dan sedikit tersadar bahwa dirinya tidak bisa minum, bahkan tidak ingin meminum minuman beralkohol seperti ini. “Kak Joan, aku lupa bahwa aku tidak bisa minum. Aku tidak bisa menghabiskannya.” Ucap Yoo Ra yang meletakkan gelas itu kembali, dan Joan hanya tersenyum mengingat dirinya iseng menawarkan minuman itu.
“Aku tahu, aneh juga kalau kamu mau minum itu. Frustasi?” Joan menyerukan pertanyaan lagi. Sekilas teringat lagi kejadian tadi, ada yang aneh dengan Yeon Jin. Setelah bertemu dengan CEO Selly dari perusahaan Sherin. Sedikit ragu, tapi dengan karakter Yoo Ra yang tidak mau basa-basi langsung saja melontarkan keingintahuannya kepada Joan. “Aku tadi... bukan bukan bukan... aku dengan Yeon Jin tadi bertemu dengan CEO dari Sherin. Jadi... kak, mereka saling kenal?”
Raut wajah Joan penuh tanda tanya, siapa CEO dari Sherin? Joan teringat sesuatu, dia tahu siapa orang itu, “Tentu mereka saling kenal, partner lama loh. Tuan Go dari Sherin adalah teman lama kakeknya Yeon Jin, kamu sudah tahu kan gimana karisma dari tuan Go?”, “Tuan Go?” siapa tuan Go? CEO Sherin? Yoo Ra makin bingung dan memperjelas kembali bahwa CEO saat ini adalah nona Selly.
Mendengar nama itu, Joan menghentikan diri dan kembali berpikir keras, melihat ke arah Yoo Ra dengan sedikit tatapan khawatir. Yoo Ra sendiri yang mudah peka dengan aura manusia biasa mulai menebak dan meminta Joan untuk berkata sejujurnya.
“Katakanlah, jangan dipendam.” Kata Yoo Ra mendesak sebuah pernyataan dari Joan. “Selly itu putri tunggal tuan Go, aku tak menyangka secepat ini. Dulu, Yeon Jin akan ditunangkan dengan Selly karena desakan kakeknya dan juga tuan Go. Dan harus dibatalkan karena Selly memutuskan untuk belajar di luar negeri.” Joan mengatakan itu tanpa ragu.
Yoo Ra yang mendengarkan dengan menyilangkan tangan di atas meja bar, seolah masih bermimpi bahwa disini Yeon Jin juga punya sebuah masa lalu dan jalan kehidupan baru. Menghela napas panjang dan membenamkan diri dalam cerita Joan.
“Makan malam.”
“Apa?”
“Makan malam, tiba-tiba CEO Selly ngajak dia.”
Joan menatap Yoo Ra lebih dalam, seharusnya dia tidak menceritakan ini kepada Yoo Ra. Sudah terlanjur, semoga saja Yoo Ra tidak menyalah artikan perkataannya tadi.
“Jangan terlalu dipikirkan, kamu pacarnya, bahkan sebelumnya Yeon Jin gak pernah suka sama cewek.” Kata Joan untuk menenangkan Yoo Ra dan meluruskan ini, dan Yoo Ra beranjak dari kursi dan membantu Joan mengurus restoran untuk menghibur suasana hatinya yang sedang terbelenggu.
Mengambil piring-piring potongan kue dari dapur dan meletakkannya ke etalase, terdengan suara pintu utama yang terbuka dan dua orang masuk ke dalam. Jae Won? Soo Ah?
Melihat kedua orang itu dengan memanggil salah satu pelayan, beruntungnya Yoo Ra tidak terlihat oleh mereka. Yoo Ra menatap dari kejauhan dan bertanya apakah sudah tidak ada keributan diantara mereka.
Bercengkrama seperti biasa, bahkan tidak ada ketegangan sama sekali. Joan juga ikut melihat mereka dan berdiri tepat di samping Yoo Ra. “Tumben...” kata Joan dengan nada rendah.
__ADS_1
Salah satu pelayan disini menghampiri Joan dan Yoo Ra untuk mencetak struk, dan sedikit bertanya apakah Joan mengenal kedua orang itu. Hanya mengangguk saja, tanpa menambahkan beberapa kalimat.
“Aku rasa wanita itu terlalu banyak perbaikan di wajahnya, entah berapa harganya yang pasti tidak murah.” Ucap pelayan wanita berkata pada Yoo Ra.
Yoo Ra tersenyum dan tertunduk, begitu juga dengan Joan. Pelayan itu kembali memperhatikan Jae Won dan Soo Ah, memajukan bibir dan bersiap memberikan komentar.
“Spertinya wanita itu juga orang kaya. Emmm... Mereka sama-sama sempurna, dan dari keluarga kaya. Seperti teori kehidupan paralel.” Katanya.
Yoo Ra mengangkat alis dan senyuman tak terduga baru saja tergambar. Yoo Ra menganggapi pelayan itu dan memintanya untuk jangan terlalu percaya pada teori seperti itu.
“Kamu... junior tahun ini kan?” tanya Yoo Ra kepada pelayan itu, “Iya... saya memang baru saja masuk, tapi sudah cukup mengenal para senior, terutama anda.” Katanya.
“Kak Joan, sudah jam segini, aku mau pulang dulu.” Yoo Ra sudah merindukan air hangat dengan aroma terapi di bathub miliknya, Joan mengangguk dan memintanya untuk pergi lewat pintu belakang demi menghindari kedua orang itu.
Berjalan kaki dan sudah menjauh dari restoran itu dan membuka flap ponselnya, tidak ada satu pesan bahkan satu panggilan sekalipun. Bertanya-tanya apakah Yeon Jin sudah pulang, “Aku telepon gak ya? Telepon aja deh, ini juga sudah hampir larut malam.”
Menekan kontak Yeon Jin dan terdengar suara tut..tut... menghubungkan panggilan.
Tersambung! “Halo, sudah pulang?” segera suara Yoo Ra menyahut dan bertanya. “Halo?” suara wanita yang terdengar dari sana.
Yoo Ra terhentak, jantungnya sedikit berhenti, “Halo, ini ponsel Park Yeon Jin kan? Dimana dia sekarang?” tanya Yoo Ra dengan sopan, dan siapa wanita itu, jam segini seharusnya Yeon Jin sudah selesai dengan makan malamnya, karena sudah Yoo Ra tentukan jam pulangnya. Seharusnya satu jam lalu dia sudah selesai makan malam, sekarang? Gumam Yoo Ra.
“Oh, Yeon Jin? Dia sedang ganti pakaian. Ada apa ya? mungkin ada pesan yang mau disampaikan.”
“Tidak perlu, saya kira dia sudah pulang. A...Anda... siapa ya?”
“Saya tunangannya Park Yeon Jin, anda siapa?”
Tunggu dulu, tunangan? Yoo Ra mengeutkan dahi dan menganggap bahwa wanita ini ngelantur atau bagaimana, sehingga bisa seenaknya bicara.
“Anda jangan khawatir, CEO Park akan pulang bersama saya. Nona sekretaris bisa istirahat lebih awal.” Setelah kalimat itu, panggilan ini sudah terputus, belum juga Yoo Ra meminta penjelasan justru sudah mendapat berita mentah yang hampir membuat jantungnya meledak.
Panggilan kedua, ponsel Yoo Ra kembali bergetar.
Ha...Halo... lirih Yoo Ra menerima panggilan itu
__ADS_1
***