Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 100 : Gila


__ADS_3

Ariel pulang setelah bertemu dengan Gagah, begitu sampai di rumah bertemu dengan Rika yang ternyata sedang berada di teras rumah.


“Kamu dari mana?” tanya wanita.


Meski tidak dengan nada membentak atau ketus, tapi tetap saja bisa membuat Ariel gemetar dan sedikit takut karena tersirat curiga.


“Ketemu teman, bahas soal tugas kuliah karena sebentar lagi sudah mulai masuk kuliah,” jawab Ariel dengan suara sedikit pelan.


“Aku mau bicara sama kamu,” kata Rika, lantas berjalan masuk rumah.


Ariel hanya mengangguk, kemudian mengekori wanita itu. Mereka pun duduk di ruang tamu, Rika terus memandang dan sesekali menghela napas kasar.


“Sejak kapan dan bagaimana kamu mengenal Rehan?” tanya Rika menyelidik.


Ariel tidak terkejut dengan pertanyaan Rika, untung saja sebelumnya dia sudah membahas hal itu dengan Rehan. Ariel pun menyebutkan tempat dan cara bertemu Rehan sesuai dengan alibi yang sudah disusun.


Rika terlihat percaya, hingga tatapannya tertuju ke perut Ariel. “Lalu, kenapa kalian bisa berhubungan hingga kamu hamil. Bahkan datang setelah hamil besar?” tanyanya


“Ini kecelakaan, baik aku dan Mas Rehan juga tidak sadar melakukannya malam itu. Saya juga menyesal membuat Mas Rehan harus bertanggung jawab kepada saya,” jawab Ariel sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


Rika mendengkus kasar, tentu saja tak langsung percaya dengan jawaban Ariel. “Kamu pasti menjebaknya!” tuduh wanita itu.


Ariel menggeleng cepat saat mendengar tuduhan Rika, hingga mengangkat kepala dan menatap wanita itu.


“Saya tidak pernah menjebak Mas Rehan,” sanggahnya.


Rika kemudian menghela napas kasar lagi, tak terhitung berapa kali wanita itu menghela napas karena frustrasi dan bingung.


“Mungkin ini salah Rehan, jika dia tidak berniat melakukannya maka tidak akan terjadi hal seperti sekarang,” ujar Rika kemudian.


Rika melihat jika Ariel bukanlah gadis jahat, sikap Ariel yang sopan juga tutur kata yang ramah, membuat Rika pun berpikir jika tak mungkin gadis itu menjebak putranya. Namun, dia hanya penasaran dan curiga saja. Ariel bahkan terkejut mendengar ucapan Rika yang seolah menyalahkan Rehan.


“Ya sudah, semua juga telah terjadi. Aku juga tidak bisa apa-apa,” gumam Rika kemudian.


Di rumahnya, Meta sekarang seperti orang gila karena perceraiannya dengan Gagah. Dia terkadang marah sendiri, lalu tertawa bahkan mengacak-acak dan terkadang menghancurkan isi kamarnya. Meta tampaknya begitu tertekan, hubungan rumah tangga yang tak baik, pada akhirnya harus berakhir dengan perceraian.


“Aku ingin kamu menggagalkan perceraianku dengan Gagah,” titah Meta ke pengacaranya yang datang hari itu.


Pengacaranya sangat terkejut dengan permintaan Met, hingga kemudian berkata, “Saya tidak bisa melakukannya, semua sudah mengikuti prosedur dan kini dalam proses.”

__ADS_1


“Lalu apa gunanya aku membayarmu, hah? Jika hal seperti ini saja tidak bisa kamu urus!” bentak Meta yang sudah diliputi amarah.


“Tapi ini bukan wewe--” Pengacara itu hendak menjelaskan, tapi terhenti karena Meta malah memukulnya.


Bahkan tak sekali, membuat pengacara itu menghalau pukulan Meta dengan lengan. Ia tidak mungkin membalas memukul kliennya itu.


“Dia benar-benar sudah gila,” gerutu pengacara itu di dalam hati.


“Pergi saja dari sini! Percuma kamu di sini!” teriak Meta seperti orang kesurupan.


Pengacara itu pun akhirnya memilih pergi, daripada dirinya babak belur di sana karena Meta memukul secara membabi buta.


Setelah pergi dari rumah Meta, pengacara itu ternyata memilih pergi ke tempat Gagah. Dia hanya merasa jika kesehatan mental Meta benar-benar terganggu sekarang, dan jika dibiarkan bisa jadi menyebabkan bahaya.


“Bu Meta tampaknya sangat tertekan, bahkan kata pembantu rumah dia sering menghancurkan barang dan berteriak sendiri,” kata pengacara Meta saat bertemu Gagah.


“Lalu, untuk apa kamu memberitahukan hal itu kepadaku? Apa dengan memberitahuku tentang keadaan Meta, lantas aku akan mengubah keputusanku? Tidak akan pernah,” ujar Gagah.


“Bukan itu, Pak. Saya malah takut jika Bu Meta menggila, lantas meluapkan amarah ke Azka. Saya hanya takut terjadi sesuatu kepada Azka jika tetap bersama Bu Meta,” balas pengacara itu mengutarakan maksud kedatangannya menemui Gagah.

__ADS_1


Gagah terkejut karena tak berpikir sampai ke sana, hingga berpikir apa yang harus dilakukan jika sampai Meta benar-benar menyakiti Azka.


“Pak Gagah bawa Azka , jauhkan dulu dia dari bu Meta karena saya benar-benar melihat sendiri bagaimana bu Meta menggila.”


__ADS_2