
Ariel memberontak, dia berusaha melepaskan pelukan Gagah tapi pria itu malah semakin mengeratkan lengan.
“Jangan menolakku Riel! aku tidak punya tempat bersandar lagi selain kamu.”
Ucapan Gagah malah membuat Ariel semakin menangis meraung, karena dia pun merasakan hal yang sama, dia tidak memiliki tempat bersandar lagi selain Gagah.
“Aku minta maaf, maaf kalau aku seolah mengabaikan rasa takutmu,” bisik Gagah lagi. Ia melonggarkarn pelukan saat merasakan Ariel sudah tidak memberontak lagi. “Aku mencintaimu,” imbuhnya.
“Aku takut Mas, aku takut kehilangan Mas Gagah,” ucap Ariel yang masih menangis tersedu. Ia memang sedih, tapi sengaja membuatnya sedikit berlebihan agar Gagah bersimpati dan melupakan perihal obat penunda kehamilannya itu.
“Aku tidak akan kemana-mana, aku janji akan lebih sering menemuimu,” ucap Gagah.
Akhirnya Ariel pun mau membalas memeluk tubuh sang suami. Ia masih terisak dan Gagah membiarkannya saja. Mereka berdiri berpelukan untuk beberapa saat hingga Ariel mulai mengurai pelukan.
__ADS_1
“Sudah, jangan menangis lagi! kalau kamu sedih seperti ini, aku juga sedih,” ujar Gagah.
Ariel pun mengangguk, dia hapus jejak air mata di pipi lalu mendongak menatap wajah pria yang benar-benar sudah sangat dia cintai itu. Ibu jari Gagah pun nampak terulur mengusap mata Ariel, dia belai pipi istri kecilnya itu lalu mendaratkan sebuah kecupan sayang di kening.
“Lihat mukamu jelek kalau menangis,” goda Gagah agar Ariel bisa tertawa.
“Mas gombal,” ucap Ariel dengan pipi merona.
“Apa namaku sudah ganti? Bukan Gagah tapi Gombal?”
“Riel, aku sejak pagi belum sarapan dan aku menunggumu untuk makan.”
Perkataan Gagah membuat Ariel tergelak, gadis itu melepaskan pelukan lantas menggandeng tangan Gagah keluar dari kamar menuju ruang makan. Di sana dia melihat Gagah membuat tumis toge dan telur dadar. Gagah meminta maaf karena hanya itu yang bisa dia buat karena tidak menemukan bahan lain di kulkas.
__ADS_1
“Mas Gagah memang harus makan toge yang banyak biar subur,” kata Ariel asal.
Namun, siapa sangka ucapannya malah seperti memancing Gagah, pria itu menyergap pinggangnya lantas menyandarkan dagu ke pundak.
“Apa itu tadi kode?” tanya Gagah dengan nada suara menggoda.
“Em … tidak, sudahlah ayo makan!” ajak Ariel. Dia pura-pura bodoh padahal tahu dengan jelas kode dari suaminya.
“Riel ….” Gagah menggoda, dia bahkan menghidu aroma tubuh Ariel dan mencium pipi gadis itu mesra.
Terang saja Ariel merasa merinding. Matanya bahkan memejam merasakan gelenyar aneh saat Gagah menciumnya seperti itu.
“Bukankah Mas tadi bilang lapar?” tanya Ariel mengalihkan fokus Gagah. Padahal dia sendiri sudah sangat menginginkan sentuhan dari pria itu. Ia rindu bagaimana Gagah menjamah tubuhnya.
__ADS_1
“Aku ingin bermesraan dulu denganmu.”
Tanpa menunggu persetujuan, Gagah mengangkat tubuh Ariel. Ia menggendong istrinya itu kembali kemar, langkahnya sesekali terhenti karena Ariel merengkuh leher dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir. Mereka berakhir di atas ranjang dengan Gagah yang mengurung tubuh Ariel. Pria itu mencumbu leher dan bahkan menggigit kecil telinga Ariel. Alhasil sebuah desahaan halus lolos dari bibir gadis itu.