
Wajah Ariel ternyata diketahui banyak orang, hal itu terjadi karena dirinya telah masuk berita gosip sebagai selingkuhan Gagah. Hingga akhirnya saat berjalan di koridor rumah sakit, banyak orang yang berpapasan memandang aneh kepadanya.
Ariel awalnya berpikir jika takkan banyak orang yang tahu, kenyataannya semua orang sudah tahu tentang statusnya sebagai pelakor. Dia pun kemudian memilih segera kembali ke kamar.
Saat baru saja akan sampai ke kamar, Ariel melihat dua perawat berdiri di depan pintu kamarnya sedang berbincang-bincang.
“Pasien kamar ini, yang jadi selingkuhan walikota itu lho.” Seorang perawat menunjuk pintu kamar Ariel.
“Eh, jadi benar gitu. Wah, katanya dia lagi hamil. Padahal masih muda banget, berarti benar dong kalau dia itu jadi selingkuhan. Mana mungkin hamil kalau berita itu nggak benar,” ujar yang lain.
Keduanya tak melihat Ariel karena mereka memunggungi arah Ariel datang.
“Ya sudahlah, semoga kita nggak begitu. Jadi selingkuhan hanya karena ingin kaya,” balas yang lain.
“Bener, jangan sampai deh. Amit-amit.”
Kedua perawat itu pun pergi meninggalkan depan pintu kamar inap Ariel, sehingga dia bisa masuk untuk beristirahat dan menghindari orang-orang.
__ADS_1
Ariel termenung di kamar, menatap jendela yang tak tertutup gorden sehingga menampakkan bagian luar ruangan. Ariel kini menyadari jika perbuatannya memang salah, menjadi seorang perebut suami orang bukanlah status yang diinginkan banyak orang, termasuk dirinya juga. Andai semua orang tidak jahat kepadanya dan Abil, mungkin Ariel takkan menjadi seperti sekarang.
Saat Ariel sedang melamun, Anisa masuk dan langsung tersenyum menyapa. Wanita itu tahu jika kondisi Ariel saat ini tidak boleh mendapatkan tekanan apa pun, sehingga Anisa memprioritaskannya.
“Bagaimana kondisimu?” tanya Anisa kemudian memilih duduk di kursi samping ranjang.
“Sudah lebih baik Bu,” jawab Ariel dengan senyum kecil di wajah pucatnya.
“Preman yang mengejarmu, kemungkinan kini sudah tahu keberadaanmu sekarang. Jadi aku rasa kamu sudah nggak aman tinggal di yayasan,” ujar Anisa menjelaskan.
Ariel terlihat bingung, jika tidak bisa tinggal di yayasan, lantas dirinya dan Abil mau ke mana.
Ariel terkejut mendengar tawaran Anisa, kemudian mengangguk senang, karena ternyata wanita itu begitu baik dengan masih memikirkan tempat untuknya dan Abil.
***
Di waktu yang sama, Meta terlihat berada di rumah, dia duduk di ruang keluarga. Meta senang karena Gagah menunda perceraian mereka, karena gosip penyuapan kini sedang menjadi perbincangan hangat. Gagah membutuhkan dirinya untuk menjadi saksi jika dana kampanye itu dari dukungannya.
__ADS_1
Saat Meta sedang memikirkan tentang gosip yang menerpa Gagah, ponsel yang ada di meja berdering dan nama orang suruhannya terpampang di sana.
“Halo.” Tentu saja Meta langsung menjawab panggilan itu dengan penuh semangat.
“Kami sudah menemukannya,” ucap seorang pria dari seberang panggilan.
Meta menyeringai mendengar kabar itu, kini hanya tinggal berpikir bagaimana cara menyingkirkan Ariel dari kehidupan Gagah selama-lamanya, sebelum suaminya itu tahu keberadaan Ariel, karena jelas Meta takkan memberitahukan hal ini ke sang suami.
Namun, Meta juga tak tahu jika Roni ternyata sudah menemukan keberadaan Ariel. Dia kini sudah berada di depan gerbang yayasan milik Anisa.
“Apa benar ini tempatnya?” Roni memastikan alamat yang tertera di kertas dengan tempat itu sama.
“Semoga Ariel benar-benar ada di sini.”
Roni pun masuk dan bertanya tentang Ariel, tapi dirinya tak menemukan keponakannya dan hanya bertemu dengan Anisa.
“Kamu ke sini untuk mencari wanita bernama Ariel?” tanya Anisa penuh curiga.
__ADS_1
“Iya, saya ingin menemuinya. Apa dia tinggal di sini?” Roni balik bertanya dengan tatapan penuh harap.
“Kamu siapanya?” Anisa harus waspada agar kejadian di pasar tak terulang.