Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 103 : Nyawa Ariel Terancam


__ADS_3

Semua orang yang melihat kejadian di mall pun terkejut dan syok, terlebih saat melihat Meta menjambak hingga mendorong Ariel. Namun, beberapa mereka tahu siapa Meta dan Ariel.


Arumi langsung berjongkok saat melihat Ariel kesakitan, sedangkan Meta langsung kabur dan merasa puas melihat Ariel tersiksa.


“Riel!” Arumi memegang kedua lengan Ariel, melihat betapa pucatnya wajah wanita itu.


“Siapa saja, tolong! Tolong panggilkan ambulance,” pinta Arumi dengan wajah panik karena Ariel terus merintih kesakitan.


Ariel akhirnya dibawa ke rumah sakit karena mengalami pendarahan. Arumi sendiri menemani kemudian mencoba menghubungi Rehan.


“Re, kamu di mana?” tanya Arumi saat berada di mobil ambulance. Bersyukur karena Rehan langsung menjawab panggilannya.


“Aku di kantor,” jawab Rehan dari seberang panggilan. “Kenapa berisik sekali, di mana kamu?” tanya Rehan kemudian.


“Re, aku menemani Ariel di ambulance menuju rumah sakit, dia sepertinya mengalami pendarahan,” kata Arumi bicara sambil memandang Ariel yang kesakitan.


“Apa?” Terdengar suara panik Rehan dari seberang sana. “Aku akan segera menyusul.”


Panggilan itu pun berakhir, Arumi kembali fokus ke Ariel yang menangis dan merintih kesakitan.


“Sabar, Riel!"


***


Ariel langsung dibawa ke UGD untuk bisa segera mendapatkan penanganan, sedangkan Arumi sendiri berada di luar UGD sambil menunggu Rehan datang.

__ADS_1


“Apa yang terjadi?” Tak selang lama, Rehan datang dan langsung bertanya ke Arumi.


“Tadi ada wanita yang tiba-tiba menjambak rambut Ariel, aku mencoba melerai tapi wanita itu semakin menggila dan mendorong Ariel.” Arumi pun menjelaskan yang terjadi.


Rehan sebenarnya merasa heran karena Arumi bisa bersama Ariel, tapi kini memilih lebih fokus ke kondisi Ariel daripada mencari tahu alasan Ariel dan Arumi bersama.


Arumi bisa melihat kecemasan di wajah Rehan, berpikir jika mantan calon suaminya itu pasti sangat mencemaskan Ariel, padahal Rehan takut karena bagaimanapun dia bertanggung jawab terhadap Ariel ke Gagah.


Rehan sendiri memilih tak memberitahu Gagah, takut jika pria itu cemas lantas bertindak impulsif.


“Apa kamu tahu siapa wanita itu?” tanya Rehan.


“Tadi aku mendengar ada yang berkata jika wanita itu bernama Meta,” jawab Arumi.


“Meta?”


“Kamu mengenalnya?” tanya Arumi karena ternyata tak mengenal siapa itu Meta.


Rehan menggeleng berdusta, karena pastinya Arumi akan bertanya kenapa Meta bisa sangat membenci Ariel.


“Siapa di sini suami pasien?” Seorang perawat keluar dari ruang pemeriksaan.


Rehan tak berkata jika suami Ariel, tapi langsung maju untuk menanyakan kondisi gadis itu.


“Anda suaminya?” tanya perawat saat melihat Rehan.

__ADS_1


“Bagaimana kondisinya?” tanya Rehan balik tak menjawab pertanyaan perawat.


“Pasien mengalami pendarahan hebat, kami harus mengambil tindakan dan persetujuan suami atau keluarga,” jawab perawat.


Rehan terlihat berpikir, tak mungkin bisa mengambil keputusan untuk Ariel. Dia pun kemudian meminta waktu kepada perawat sebelum mengambil keputusan.


Rehan akhirnya menghubungi Gagah, mengabarkan jika Ariel mengalami pendarahan dan kini berada di rumah sakit. Gagah terdengar begitu syok hingga berkata jika akan segera datang ke sana.


Tak butuh waktu lama, Gagah pun sampai di rumah sakit karena jarak kantor dengan rumah sakit yang tidak terlalu jauh. Dia langsung berlarian seperti orang kesetanan karena takut terjadi sesuatu dengan Ariel.


“Di mana Ariel?” tanya Gagah begitu bertemu dengan Rehan.


Arumi yang melihat kedatangan Gagah pun merasa heran, kenapa wali kota mereka ada di sana dan menanyakan tentang keberadaan Ariel.


“Dia ada di UGD,” jawab Rehan.


Gagah pun berniat masuk dan menemui dokter, sedangkan Arumi dan Rehan berada di luar. Arumi semakin merasa heran, bukankah Rehan suami Ariel, lantas kenapa Gagah yang masuk untuk bertemu dokter.


“A-a-anda siapanya Pak Wali kota?” tanya perawat saat melihat Gagah hampir masuk ke ruangan untuk melihat kondisi Ariel.


“Saya suaminya,” jawab Gagah. Dia tidak peduli akan resiko saat mengaku bahwa dirinya adalah suami Ariel, baginya kini adalah memastikan kondisi istrinya itu baik-baik saja.


Dokter dan perawat juga Arumi yang mendengar pun kaget. Arumi sampai tak habis pikir karena baginya suami Ariel adalah Rehan.


Rehan hanya bisa diam, karena tentunya kini rencana yang sudah dibuatnya gagal karena Arumi tahu jika Ariel adalah istri Gagah.

__ADS_1


“Oh, baik.” Perawat itu paham, kemudian memberikan berkas persetujuan ke Gagah.


“Pasien mengalami pendarahan hebat, kami ingin Anda menandatangani berkas persetujuan pengguguran demi menyelamatkan nyawa sang ibu. Jika tindakan ini tidak dilakukan, maka ada kemungkinan akan mengancam nyawa ibunya.”


__ADS_2