
Setelah Mbok Supri selesai memasak. Ariel pun menyajikan semua hidangan tadi ke meja makan. Saat menoleh ke halaman, Ariel dibuat terkejut saat melihat Abil dan Rehan bermain bola.
“Kenapa Abil bermain dengan Pak Rehan?” Ariel bertanya-tanya, apalagi Rehan dan Abil tampak begitu akrab
Ariel pun keluar setelah makan siang untuk Rehan siap, dia hendak memanggil Abil untuk makan siang juga.
“Abil! Makan dulu!” panggil Ariel.
Abil berhenti melempar bola ke arah Rehan, kemudian menoleh dan melihat Ariel yang sedang memanggil.
“Om, aku makan dulu sama Kakak,” kata Abil.
Rehan memandang Ariel yang memanggil Abil, saat gadis itu berjalan ke arah sang adik, Rehan pun ikut mendekat.
“Ayo makan dulu!” ajak Ariel sambil mengulurkan tangan ke Abil.
“Biarkan dia makan bersamaku,” kata Rehan.
Ariel terkejut hingga memandang pria itu sebelum beralih ke Abil. Dia kemudian sesegera mungkin meraih dan menggenggam telapak tangan Abil.
“Tidak perlu, biar Abil makan di belakang,” kata Ariel menolak dengan sopan.
“Tidak apa-apa, aku senang jika Abil mau makan bersamaku,” ujar Rehan.
Ariel kebingungan lalu memandang Abil yang ada di sampingnya.
__ADS_1
“Tidak perlu, Pak. Saya--” Ariel ingin bicara tapi dipotong cepat oleh Rehan.
“Tidak masalah dan jangan menolak. Aku butuh teman saat makan, serta kami pun sudah berteman baik, jadi tidak ada salahnya aku mengajak Abil makan bersama. Bukankah begitu?” tanya Rehan ke Abil, sambil memandang anak itu.
Ariel kebingungan, menoleh Abil yang mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum. Akhirnya Ariel pun mengizinkan Abil makan bersama Rehan karena pria itu memaksa.
***
Saat malam hari, Anisa sengaja datang ke kamar Ariel untuk memberikan ponsel juga nomor baru.
“Ini nanti buat kamu biar gampang menghubungi jika ada apa-apa,” kata Anisa sambil memberikan ponsel ke Ariel.
“Terima kasih, Bu,” ucap Ariel.
“Sama-sama, sekarang kamu istirahat. Kata Mbok Supri kamu seharian ini terus bekerja, ingat kandunganmu juga butuh perhatian,” ujar Anisa mengingatkan akan kondisi Ariel.
[Om, ini aku Ariel. Ini nomorku yang baru, tolong jangan simpan menggunakan namaku dan jangan beritahukan ke Mas Gagah.]
[Ya, aku paham. Kamu jaga diri baik-baik di sana.]
Ariel tersenyum saat mendapat balasan dari Roni, kemudian kembali membalas dan berkata jika akan berhati-hati.
_
_
__ADS_1
Saat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Ariel tidak bisa tidur karena merasa lapar. Dia lantas keluar dari kamar menuju dapur dengan cara mengendap-endap. Saat akan membuka pintu dapur, Ariel dikagetkan dengan suara seorang pria.
“Kamu kenapa berjalan seperti itu?”
Tentu saja suara Rehan membuat Ariel terkejut. Dia sampai berjingkat sebelum menoleh dan melihat pria itu sudah berdiri di belakangnya.
Rehan tertawa melihat ekspresi wajah Ariel yang terkejut, merasa begitu lucu karena wanita itu seperti maling yang ketahuan akan mencuri.
“Saya lapar, jadi ingin membuat sesuatu untuk dimakan,” kata Ariel sambil menunjuk pintu dapur.
Rehan membentuk huruf O dengan bibir, kemudian malah ikut masuk ke dapur bersama Ariel.
Ariel mencari-cari sesuatu, sedangkan Rehan terus memperhatikan apa yang sedang dicari Ariel.
“Oh ya, bolehkah saya tanya sesuatu?” Ariel menoleh Rehan, sedangkan kedua tangan masih memegang handle lemari penyimpanan.
“Tanya saja.” Rehan mempersilakan.
“Kenapa Anda hanya makan sayur dan ikan rebus, apa Anda sedang diet?” tanya Ariel sambil memandang Rehan.
Rehan tidak menjawab dan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ariel. Ariel yang menyadari jika pertanyaannya mungkin takkan dijawab Rehan memilih kembali memandang lemari penyimpanan, untuk mencari apa yang dia inginkan.
“Akhirnya ketemu,” ucap Ariel dengan senyum merekah di wajah.
“Apa yang ketemu?” tanya Rehan penasaran.
__ADS_1
“Mikurame,” jawab Ariel. “Apa Anda mau dibuatkan juga?” tanya Ariel sambil menunjukkan satu bungkus mie instan merek terkenal di wakanda itu ke Rehan.