
Gagah bingung memikirkan ke mana Ariel pergi. Dia ingin sekali mencari keberadaan Ariel, tapi tidak bisa karena sebentar lagi akan dilantik sebagai walikota, sehingga tak bisa pergi ke luar kota. Kepergian Ariel membuat Gagah benar-benar kehilangan arah, tapi dia juga harus tetap memikirkan karirnya sekarang.
Kabar perginya Ariel pun sampai ke telinga Meta. Wanita itu sangat senang karena akhirnya Ariel pergi dari kehidupan Gagah.
“Tampaknya dia cukup sadar diri untuk pergi.”
Tak ada yang lebih membahagiakan untuk Meta selain kepergian Ariel, dengan begini dia bisa memperbaiki hubungannya dengan Gagah. Bahkan mungkin bisa membujuk pria itu untuk tak jadi menceraikannya, karena Gagah pasti butuh dirinya sebagai pendamping.
Meta pun menghubungi orang-orang kepercayaannya, tentu saja untuk mencari keberadaan Ariel.
“Aku ingin kamu mencari keberadaan Ariel. Kalau bisa buat dia celaka, sehingga tak bisa lagi menemui suamiku,” ucap Meta saat panggilannya terhubung dengan orang kepercayaannya.
“Saya paham, akan segera melaksanakan perintah Anda,” balas seorang pria dari seberang panggilan.
Meta pun mengakhiri panggilan dan tertawa, tak pernah sekalipun di dalam hidupnya sebahagia ini. Ternyata memprovokasi Ariel lebih mudah daripada mengancam.
__ADS_1
***
Ariel benar-benar pergi ke yayasan yang berada di kota Jogja, bahkan dirinya dan Abil sudah diterima baik di tempat itu. Sudah dua hari Ariel dan Abil tinggal di sana, hingga siang itu dia dan beberapa penghuni yayasan menonton siaran berita pelantikan Gagah sebagai walikota.
“Kak, bukankah itu--” Abil ingin berkata jika itu adalah Gagah, tapi terhenti saat melihat isyarat dari Ariel.
Ariel meletakkan telunjuk di depan permukaan bibirnya sendiri, meminta Abil diam dan mengingatkan jika dirinya sudah memperingatkan Abil sebelumnya untuk berpura-pura tak mengenal Gagah demi kebaikan mereka juga.
Abil pun akhirnya memilih diam, kemudian kembali melanjutkan menonton siaran berita.
Ariel memilih jalannya sendiri, semua demi kebaikannya dan Abil juga. Kini dirinya dan Abil sudah tiga hari tinggal di yayasan, hingga hari itu pemilik yayasan yang bernama Anisa memanggil Ariel ke ruangannya.
Ariel sudah berdiri di depan ruangan Anisa, kemudian mengetuk pintu sebelum masuk.
“Masuk!” Suara Anisa terdengar dari dalam, Ariel pun membuka pintu perlahan dan masuk.
__ADS_1
“Anda mencari saya, Bu?” tanya Ariel sopan.
“Oh ya, mari sini!” Anisa langsung mempersilakan dan meminta Ariel duduk di kursi yang terdapat di depan meja.
Ariel pun masuk kemudian duduk dengan tenang, tak ingin menebak apa yang akan dibicarakan Anisa.
“Riel, apa kamu sedang hamil?” tanya Anisa to the point. Dia melihat beberapa kali Ariel muntah juga berwajah sedikit pucat, sehingga membuat wanita itu bisa menduga seperti itu.
Ariel mengangguk pelan, dia tak mungkin berbohong karena tentunya lambat-laun perutnya akan besar dan kehamilannya akan diketahui banyak orang.
Anisa menghela napas kasar, memandang Ariel yang sedikit menundukkan kepala.
“Apa kamu kabur karena benar-benar menjadi selingkuhan walikota yang baru saja dilantik itu? Aku bertanya karena tentunya aku tahu, sebab berita perselingkuhan itu sudah menyebar ke seluruh negeri,” ucap Anisa sambil memandang Ariel.
Ariel diam menunduk sambil meremas jemari, gadis itu tak menyangka jika Anisa pun sudah tahu akan berita itu meski dirinya sejak awal mencoba untuk menyembunyikannya.
__ADS_1