
Gagah mengajak Roni ke rumah Meta setelah mendapatkan informasi dari pengacara wanita itu. Dia ke sana karena mencemaskan kondisi Azka, takut terjadi sesuatu karena tekanan yang sedang dihadapi Meta.
Di rumah, wanita itu ternyata sedang bersama Azka, yang baru saja memperlihatkan nilai ulangan hariannya.
“Apa-apaan ini, hah? Apa kamu ini sekarang bodoh hingga hanya mendapat nilai segini?” Meta begitu geram karena nilai Azka menurun.
“Maaf, Ma.” Azka ketakutan melihat ibunya marah. Biasanya Meta takkan semarah ini jika nilainya turun, tapi entah kenapa hari ini wanita itu terlihat begitu murka.
Meta meremas kertas ulangan Azka, meluapkan kekesalan sebelumnya ke kertas itu juga Azka karena dirinya sudah berada di ambang batas kemarahan.
“Kamu terlalu banyak bersantai dan main terus! Sekarang kamu harus belajar, kalau perlu terus belajar biar pintar!” bentak Meta sambil menarik tangan Azka.
Azka sangat terkejut dengan ucapan Meta, selama ini sudah berusaha belajar setiap hari bahkan tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan Meta. Azka sebenarnya lelah, apalagi pertengkaran kedua orangtuanya membuat mentalnya sedikit down.
“Aku sudah belajar giat, Ma. Mungkin karena sedang bernasib buruk saja, hingga nilaiku jelek,” ucap Azka yang berharap Meta tak memaksanya terus belajar tanpa henti.
“Alasan! Pokoknya kamu harus belajar, kamu harus pintar dan menjadi orang yang berguna dan sukses!” sembur Meta tak mau mendengarkan ucapan putranya.
Tepat saat Meta menarik Azka untuk belajar, Gagah dan Roni datang serta melihat Azka yang sedang dipaksa masuk ke kamar.
“Ada apa ini?” Gagah langsung berjalan cepat disusul Roni.
Gagah menarik Azka hingga terlepas dari Meta, lantas merapatkan putranya itu dalam pelukan.
__ADS_1
Meta terkejut melihat kedatangan Gagah, hingga tersenyum miring seolah mengejek karena pria itu masih mau datang ke rumah itu.
“Mau apa kamu ke sini? Bukankah kamu sudah tidak peduli?”
Gagah memberikan Azka ke Roni, meminta pria itu menjaga putranya. Roni pun memilih mengajak Azka pergi dari sana agar tidak mendengar pertengkaran antara Meta dan Gagah yang mungkin saja akan terjadi.
“Apa begini caramu mendidik Azka? Dengan cara membentak dan memaksanya?” tanya Gagah, masih bicara dengan suara pelan.
“Buat apa kamu peduli!” hardik Meta.
“Tentu aku peduli karena bagaimanapun Azka adalah putraku!” geram Gagah karena Meta selalu bicara dengan nada tinggi.
Meta tertawa mendengar Gagah berkata jika Azka adalah anaknya, hingga kemudian dia berkata, “Kamu tidak usah peduli dengan Azka, dia itu bukan anakmu.”
Gagah tercengang mendengar perkataan Meta, apakah yang diucapkan wanita itu benar atau hanya sekadar untuk membuatnya tak ikut campur dengan apa yang diperbuat.
Sementara itu, Ariel berada di kamar menunggu Rehan pulang. Hingga tak berselang lama pria itu datang dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Apa kamu akan tidur di sofa?” tanya Ariel ketika Rehan mengambil bantal setelah selesai mandi.
“Ya,” jawab Rehan singkat.
“Seharusnya kamu tidak perlu tidur di sofa, aku bisa tidur bersama Abil di kamarnya,” kata Ariel yang tak enak hati karena Rehan sampai tidur di sofa.
__ADS_1
“Jika kamu tidur dengan Abil, nanti Mama pasti akan curiga,” balas Rehan sambil memandang Ariel.
Ariel terlihat berpikir, benar juga yang dikatakan Rehan. Rika pasti curiga jika dirinya setiap malam malah tidur bersama Abil.
“Bagaimana Arumi, apa kalian putus?” tanya Ariel penasaran dengan hubungan Rehan dan sang kekasih.
Rehan mengangguk menjawab pertanyaan Ariel, kemudian berkata, “Dia sudah sangat kecewa kepadaku, jadi biarkan saja seperti itu karena memang itu tujuanku.”
Rehan tersenyum getir setelah bicara, bukankah itu memang yang diinginkannya.
“Sebenarnya kamu sakit apa? Apakah benar-benar tidak bisa disembuhkan?” tanya Ariel penasaran.
“Tidak bisa,” jawab Rehan. “Dokter sudah berkata jika aku tidak memiliki waktu lebih lama.”
Ariel menatap iba Rehan, tahu jika sebenarnya pria itu pasti sangat menderita karena telah menyakiti orang yang dicintai.
“Jika memang sakitmu parah, kenapa tidak dirawat saja? Itu lebih baik untuk kondisimu saat ini,” ujar Ariel memberikan sedikit perhatiannya karena rasa iba.
“Aku tidak mau melakukannya,” tolak Rehan.
Pria itu lantas berjalan ke sofa dan meletakkan bantal di sana. Ariel terus memandang Rehan, hingga berpikir ingin menemui Arumi dan menceritakan tentang kondisi Rehan.
_
__ADS_1
_
scroll ke bawah 👇