
Gagah nampak berjalan cepat di restoran bersama Roni, hingga dia melihat pengawal Pradana yang berdiri di depan salah satu ruangan di restoran itu. Gagah pun langsung menerobos masuk, sedangkan pengawal Pradana tidak berani melarang. Kedatangan Gagah ke sana karena mendapatkan informasi dari Roni jika Ariel dibawa ke restoran itu oleh pengawal mertuanya.
Setelah dipecat oleh Meta, Roni memang dipekerjakan oleh Gagah untuk memata-matai Pradana dan istrinya. Saat membuka pintu, Gagah melihat Pradana yang sedang menunjuk wajah Ariel dan tampak begitu dekat dengan istri sirinya itu. Dia tampak geram hingga telapak tangannya mengepal di samping badan.
Ariel begitu terkejut melihat kedatangan Gagah, akan tetapi dia juga lega karena setidaknya Pradana tidak akan berani berbuat macam-macam kepadanya.
Pradana menegakkan badan mendengar suara pintu terbuka, dia memandang Gagah yang kini berdiri di ambang pintu dengan aura membunuh.
“Apa maksud Anda menyeretnya ke sini?” tanya Gagah masih bicara dengan sopan dan formal seperti yang mertuanya inginkan.
Ariel memandangi Gagah lalu Pradana secara bergantian.
Sementara itu di waktu yang bersamaan, Niken datang bersama Abil. Melihat tatapan Pradana dan Gagah yang tampak bersitegang, membuat wanita itu memilih urung masuk ke ruangan dan membawa Abil pergi.
Ariel langsung berdiri, dia hendak menyusul Niken tapi tangannya dicekal Pradana. Ariel bingung menatap pergelangan tangan yang ditahan pria tua itu, kemudian memandang ke arah Gagah berdiri.
__ADS_1
Tentu saja hal yang dilakukan Pradana membuat Gagah meradang, hingga pria itu berjalan menghampiri Pradana untuk melepaskan cekalannya pada Ariel.
“Apa kedatanganmu untuk membuktikan jika kalian memang berselingkuh?” sindir Pradana.
Ariel berusaha melepas tangan dari Pradana, tapi pria itu mencengkeram pergelangan tangannya erat.
“Lepaskan dia,” pinta Gagah dengan nada suara yang tidak terlalu tinggi. “Jika Anda ingin bicara, bicaralah denganku bukan dengannya, jangan melibatkan Ariel dalam masalah yang terjadi,” ujar Gagah kemudian.
“Sepertinya kamu benar-benar ingin melindunginya.” Pradana bicara dengan masih menahan tangan Ariel, sedangkan tatapan matanya terus tertuju ke Gagah.
“Urusan saya dengan Anda, jadi tidak perlu membawa-bawa dia dalam masalah yang terjadi di antara kita,” balas Gagah.
“Gara-gara dia, kamu berani berselingkuh dan mengkhianati putriku. Bagaimana bisa aku tidak menyangkut pautkan dia dengan masalah yang terjadi?" amuk Pradana dengan wajah sinis.
“Berselingkuh atau tidak, semua ini adalah keputusanku. Lagi pula, apa Anda pernah tahu alasan kenapa aku berselingkuh? Tanyakan ke putri Anda, kenapa aku memilih begini!” Suara Gagah meninggi karena Pradana terus menyalahkan Ariel.
__ADS_1
Ariel sendiri merasa cemas, bagaimana jika Gagah dan Pradana berkelahi di sana.
Roni dan bodyguard Pradana saling pandang, apalagi saat mendengar Gagah bicara dengan suara lantang. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk masuk dan melerai, jangan sampai ada yang mengetahui pertengkaran antara Gagah dan Pradana lalu menyebarkan berita miring.
“Pak, jangan terpancing emosi,” bisik Roni mengingatkan.
Gagah masih memandang Pradana, begitu kesal karena ternyata ayah dan anak sama saja, memang selalu menghina dan ingin menjadikannya sebagai budak yang harus mengikuti ucapan mereka.
Tak ingin terus berdebat dengan Pradana, akhirnya Gagah pun berniat mengajak pergi Ariel dari sana. Namun, baru saja membalikan badan, Gagah dan Ariel kembali mendengar cibiran dari ayah Meta.
“Kamu memang bukan pria baik! Bukan keturunan dari keluarga baik-baik, sebab itu tingkahmu sangat memalukan, tega berselingkuh di belakang istri yang sangat mencintaimu!” Pradana berani mencibir, tapi sayangnya tak berani meminta Gagah bercerai dari Meta, karena tahu jika putrinya sangat mencintai pria itu.
Ariel begitu terkejut mendengar cibiran Pradana, hingga memandang wajah Gagah yang tampak menahan amarah. Hatinya ikut sakit mendengar hinaan pria itu.
Gagah mencoba menahan emosi, hingga kemudian memilih mengajak Ariel dan Roni pergi, tanpa membalas ucapan Pradana.
__ADS_1
Pradana begitu murka melihat sikap Gagah yang dianggapnya semakin sombong, hingga pria itu hampir menghancurkan isi meja jika kedua bodyguardnya tidak mencegah.
"Apa Mas Gagah baik-baik saja?" tanya Ariel yang berjalan di samping Gagah. Pria itu menggenggam tangannya erat.