Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 63 : Hamil


__ADS_3

Ariel mencoba menjauhkan kelopak mata, dia melihat langit-langit sebuah ruangan berwarna putih dan kembali memejamkan mata. Kepalanya pusing, hingga dia merasakan sesuatu menempel pada tangan. Sebuah selang infus terpasang. Ariel pun kaget, dia menatap Roni yang duduk tepat di sampingnya.


“Kamu sudah bangun, apa yang kamu rasakan?” tanya pria itu.


“Om, aku di mana? aku kenapa?” Ariel bingung, dia hendak bangun tapi Roni mencegahnya dan memintanya berbaring saja.


“Kamu pingsan di rumah mas Ardi, aku membawamu ke rumah sakit,” ucap Roni. Wajahnya berubah dan sukses membuat Ariel mengerutkan kening.


“Ada apa, Om? Apa ada masalah?” tanya Ariel dengan suara lirih.


“Riel, apa kamu tidak meminum obat yang aku berikan? Sejak kapan? Kamu hamil, apa kamu tahu itu?”


“A-a-apa?” Ariel kaget, meski dia tahu kemungkinan ini akan terjadi, tapi dia tidak menyangka akan secepat ini, di saat masalah yang menimpanya sedang rumit.


_


_

__ADS_1


Sementara itu, Gagah yang menunggu hasil pemilihan di kantor kemenangannya nampak memandangi ponsel di bawah meja. Ia heran kenapa Ariel dan bahkan Roni tidak membalas pesannya. Gagah bahkan tak menyimak pembicaraan para pendukungnya yang ada di sana.


“Meski diterpa isu miring tapi lihat, Pak Gagah sudah mendapat lebih dari lima puluh persen suara.”


“Ini karena Bu Meta yang dengan sigap menampik gosip itu, sungguh keterlaluan si penyebar isu."


Gagah memilih untuk tidak mendengarkan perdebatan itu, mau menang atau kalah dalam pemilihan, dia tetap akan menceraikan Meta dan menikahi Ariel secara resmi. Gagah tersenyum ke arah orang-orang yang berada satu ruangan dengannya, sebelum undur diri izin pergi ke belakang. Mereka bahkan menyiapkan pengawal, tapi Gagah menolaknya dengan gurauan.


“Apa kalian pikir aku anak kecil? Aku hanya mau ke toilet jadi tenang saja!” Gagah memulas senyum, hingga senyuman itu lenyap saat di berbelok ke lorong menuju kamar mandi.


Pria itu mendial nomor Ariel, tapi panggilan itu tak terhubung. Sampai dia berganti menghubungi ponsel Roni. Gagah lega karena akhirnya diangkat juga.


“Dia baik-baik saja Pak.” Suara Roni terdengar dari seberang sana.


“Lalu kenapa dia bisa dirawat kalau baik-baik saja?” cecar Gagah.


“Anda bisa tanyakan sendiri ke Ariel.”

__ADS_1


Sebelum menutup panggilannya, Roni memberitahu di mana Ariel di rawat dan nomor kamarnya, tak lupa Roni juga meminta Gagah untuk datang tengah malam, saat sepi hingga aman.


_


_


Malam harinya Gagah benar-benar datang, dia masuk ke dalam kamar Ariel yang memang tak terkunci. Kamar itu gelap sebagian, dia melihat istri sirinya itu tidur miring ke arah di mana tiang infus berada.


Gagah takut untuk membangunkan Ariel yang terlelap, hingga dia hanya membetulkan selimut yang menutupi tubuh gadis itu dan duduk di samping ranjang. Ia merasa sangat bersalah, meski Roni tidak memberitahu secara detail apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia yakin hal yang buruk pasti menimpa istrinya.


Pria itu mengusap rambut Ariel lembut, dan gerakan kecil pun dibuat oleh istrinya itu. Ariel menoleh, gadis itu kaget melihat Gagah sudah ada di sana.


“Mas Gagah,” panggil Ariel, matanya langsung terbuka lebar karena kaget. “Kenapa Mas bisa di sini?” tanyanya kebingungan.


“Kamu kenapa tidak cerita?”


“A-a-aku.” Ariel tergagap, dia menganggap maksud Gagah adalah menceritakan tentang kehamilannya.

__ADS_1


“Kenapa kamu bisa sampai masuk rumah sakit?” Gagah membelai lembut pipi Ariel, hingga mata gadis itu merambang.


“Mas Gagah, dia belum tahu kalau aku sedang hamil, haruskah aku katakana padanya? Atau sebaiknya aku pendam saja sampai suasana mereda?” gumam Ariel dalam hati.


__ADS_2