Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 64 : Jujur


__ADS_3

“Aku hanya kelelahan Mas,” jawab Ariel pada akhirnya. Ia balas menyentuh tangan Gagah dan bertanya bagaimana hasil pemilihan hari ini.


“Aku masih unggul, semoga hasilnya tidak berbeda jauh untuk beberapa hari ke depan karena masih banyak suara yang belum terhitung.” Gagah mengusap kening Ariel dengan jari telunjuknya. Pria itu bahkan mendaratkan sebuah kecupan di sana, untuk menunjukkan betapa dia sangat mengasihi istri sirinya itu.


“Setelah ini aku akan menceraikan Meta, aku masih pulang ke rumah karena mencemaskan keadaan Azka, aku tidak ingin anak itu merasa kurang perhatian. Apa lagi kemarin dia sempat bercerita dibully temannya.”


Ariel tentu kaget mendengar cerita tentang Azka, dia merasa prihatin. Dia juga memiliki adik, jadi membayangkan putra suaminya mendapat perundungan, hatinya sedikit miris.


“Lalu bagaimana dia? Dia tidak sampai down ‘kan, Mas?”


Gagah menggeleng, dia malah bercerita tentang Azka yang sangat kuat. Awalnya anak itu memang takut dan merasa minder, tapi karena semangat yang dia berikan, dia pun meyakini putranya itu bisa mengatasi semuanya.


“Oh … ya siapa doktermu? Aku akan berbicara dengannya untuk memastikan kondisimu.”


DEG

__ADS_1


Ariel hanya bisa menelan saliva mendengar penuturan Gagah, jika sampai suaminya ini bertemu dengan dokter, tentu saja kehamilannya akan terbongkar. Ia tidak ingin sampai itu terjadi. Ariel pun terlihat kebingungan, hingga memutuskan untuk jujur ke Gagah. Ia yakin tidak bisa menghindar atau menyembunyikan hal ini dari sang suami.


“Mas!”


“Ada apa?” tanya Gagah lembut. Ia menyanggah kepalanya dengan siku kiri yang bertumpu pada ranjang Ariel, sementara tangan kanannya masih bermain di kening dan helaian rambut sang istri.


“Sebenarnya …. “ Ariel ragu, tatapannya jelas mengisyratkan kebimbangan hingga Gagah pun mengerutkan dahi.


“Ada apa, Riel? Kenapa ekspresimu berubah seperti itu? kamu membuatku cemas, apa hal yang buruk terjadi?” Gagah tak bisa lagi santai. Pria itu menegakkan badan dan menatap serius sang istri.


“Apa? apa yang dikatakan Roni, cepat katakan!” Gagah mendesak karena merasa khawatir.


“Di laci nakas, mas bisa mengambil sesuatu di sana,” ujar Ariel. Ia memang sempat diminta melakukan uji urine tadi, dan sengaja meminta hasilnya untuk bisa dia simpan.


Gagah bergegas membuka nakas, wajahnya yang tegang berangsur melemas saat melihat sebuah tespek berada di sana. Benda itu tentu tidak asing bagi pria dewasa sepertinya. Dan dua garis yang tercetak membuat Gagah tak bisa berkata-kata. Pria itu tergagap, wajahnya memancarkan binar kebahagiaan dan membuat Ariel sampai terharu.

__ADS_1


“Riel, ka-ka-kamu hamil?” tanya Gagah diikuti senyuman lebar saat Ariel mengangguk.


Ariel mencoba bangun dan bersandar pada kepala ranjang. Dengan penuh perhatian Gagah membantu dan duduk di tepiannya sambil terus memulas senyuman di wajah.


“Ini benar?” tanyanya lagi.


Ariel hanya mengangguk, air mata sudah hampir menetes dari matanya. Ia merasakan perasaan haru, bahagia dan khawatir dalam satu waktu. Hingga tangisnya tak terbendung. Buliran kristal bening menetes ke pipinya dan membuat Gagah bingung.


“Kenapa? kenapa kamu menangis?”


Ariel menggeleng, hingga Gagah mendekatkan tubuh dan memeluknya erat. Pria itu berpikir gadis itu tengah terharu.


“Apa kamu sangat bahagia?” bisik Gagah. “Terima kasih, Riel. Ini benar-benar kabar yang menggembirakan, aku benar-benar bahagia. Aku tidak akan pernah berpikir dua kali untuk meninggalkan semuanya demi dirimu dan calon anak kita.”


Ariel mengangguk, air matanya semakin deras mengalir. Ia yakin Gagah belum bertemu dengan Meta, jika sudah Ariel bisa menebak bahwa sikap Gagah pasti akan berbeda.

__ADS_1


“Mas Gagah, aku takut,” bisik Ariel.


__ADS_2