
Meta tak bisa berkata-kata, dia tidak percaya gadis belia yang usianya sangat jauh darinya ini berani menantang bahkan secara terang-terangan ingin merebut suami dan anaknya. Meta mengeram, dia tidak mungkin menampar Ariel di sana karena hanya akan membuat keributan dan menunjukkan keretakan rumah tangganya dan Gagah.
Saat Ariel dan Meta masih saling bersitegang, Roni pun datang. Pria itu cemas dan mendekat, dia berpura-pura tak mengenal Ariel. Sungguh, Roni bertindak munafik bermuka dua. Di depan Gagah dia menjadi orang kepercayaan pria itu, sedangkan jika di depan Meta dia akan berubah menjadi kaki tangan wanita itu. Seperti saat ini, Roni memandang Meta dan Ariel bergantian lalu bertanya ke sang nyonya besar.
“Nyoya apa ada masalah?”
“Bawa gadis ini pergi dari sini! jangan sampai aku melihat mukanya lagi,” sinis Meta, dia semakin murka karena Ariel malah tersenyum bak jalaang tak tahu diri.
“Aku mau berpamitan ke Azka dulu,” ucap Ariel dengan santainya, terang saja Meta langsung menahan pergelangan tangan gadis itu dan mencengkeram erat.
“Pergi, atau aku akan mencabik-cabikmu di sini,” bisik Meta dengan gigi yang sudah saling beradu saking geramnya.
Bukannya takut, Ariel malah tersenyum dengan sudut bibir. Ia cengkeram balik tangan Meta lalu menghempaskannya dengan kasar.
“Aku mungkin diam saja karena masih menghormatimu sebagai istri mas Gagah, tapi lain kali aku tidak akan tinggal diam kalau kamu melakukan kekerasan lagi,” kata Ariel. Ia balas mendekatkan bibir ke telinga Meta dan mengucapkan kalimat yang semakin membuat mendidih darah wanita itu. “Bayangkan jika kemarin aku tengah mengandung anak mas Gagah dan karena tindakanmu aku keguguran.”
“Kamu!”
__ADS_1
Meta melotot, dan Ariel semakin tertawa menghina. Ia secara tidak langsung ingin mengatakan pada Meta bahwa dia sudah tidur dengan Gagah. Gadis itu membetulkan letak tali tasnya kemudian tersenyum sinis. Dia menatap Roni dan dengan sengaja melempar tatapan sengit.
“Kalau malam ini suamimu tidak datang, kamu tahu ‘kan apa yang sedang dia lakukan.Apa kamu mau memergoki kami bermesraan, kalau begitu datang saja ke apartemen seperti kemarin, dan lihat apa yang akan aku lakukan.”
Ariel benar-benar bertingkah di luar perkiraan Roni. Pria itu tidak menyangka sang keponakan bisa menantang orang seperti Meta dengan berani. Bahkan Ariel tanpa sedikit pun rasa takut benar-benar datang ke rumah sakit untuk menjenguk Azka.
_
_
_
Meski beberapa jam yang lalu Ariel seperti menantang dan begitu jahat ke Meta, tapi gadis itu masih menggunakan hatinya saat Gagah izin untuk tidak datang menemuinya.
Banyaknya pekerjaan, kampanye dan juga kondisi Azka, membuat pria itu tidak bisa menemuinya. Ariel bisa saja merajuk, merengek dan bahkan mengancam Gagah jika lagi-lagi tak datang menemuinya, tapi gadis itu lebih memilih untuk mengesampingkan rasa, cukup baginya membuat Meta naik darah tadi.
[ Aku sedang meminta Roni mencarikan rumah, maaf baby tapi kamu harus pindah dari apartemen. Aku tidak ingin Meta datang lagi dan menyakitimu ]
__ADS_1
Ariel mendesau lalu mengunci layar ponselnya, dia meletakkan benda pipih itu di atas nakas lalu terdiam memikirkan semua pilihan yang sudah dia jalani. Menjadi yang kedua memang tidak mudah, dia seolah sedang meyalakan api di dalam sekam, di mana api itu kapan saja bisa membakarnya hingga luluh lantah menjadi abu.
Mencoba melupakan masalah Gagah, Ariel memilih menjemput dan mengajak Abil ke apartemen, adiknya itu sangat senang bahkan sampai bolak-balik menuju ke balkon hanya untuk melihat pemandangan kota dan langit dari atas sana. Televisi di ruang tengah pun menyala, Abil senang melihat kartun tanpa perlu dibentak oleh Puti seperti dulu.
“Bil, ini susunya kok nggak dihabiskan.” Ariel memanggil sang adik, bocah itu bergegas berlari masuk dan langsung menenggak susu di atas meja. Namun, tiba-tiba saja Ariel melihat lebam biru di tangan sang adik. Gadis itu pun meminta Abil mendekat untuk memastikan.
“Bil, ini kenapa?” tanya Ariel dengan air muka cemas. Bocah itu seperti ketakutan, hingga Ariel harus memaksanya berkata jujur. “Abil bilang sama kakak, ini kenapa?”
“Dicubit Tante Puti,”jawab Abil dengan polosnya. Ariel pun geram. Ia heran kenapa tantenya itu masih saja mengusik hidupnya. Untuk apa Puti datang ke panti asuhan? Apa dia sudah gila hanya datang untuk mencubiti anak kecil?
“Apa yang kamu lakukan sampai dicubit?” tanya Ariel yang merasa keterlaluan jika Puti mencubit adiknya tanpa alasan.
Sayangnya Abil menggeleng, bocah itu benar-benar tidak tahu kenapa Puti melakukan itu padanya.
“Tante bilang, hei … adiknya lontee, sudah enak ya sudah enak ya, begitu.” Dengan polosnya Abil mengulangi ucapan Puti.
“Apa?”
__ADS_1
Bersamaan dengan itu bel pintu apartemen berbunyi, Ariel bergegas membukanya, melihat Roni yang datang dia pun bernapas lega. Gadis itu meminta sang om untuk menjaga Abil. Ariel bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas. Dia tak terima dengan perbuatan Puti dan ingin memberi wanita itu pelajaran.
“Riel, mau kemana?” tanya Roni kebingungan.