
Entah kesambet apa, Mika tersenyum-senyum sendiri saat Roni menggandeng tangannya, seperti sebuah keajaiban bisa sangat dekat dengan pria itu. Roni mengajaknya ke tempat yang agak sepi, agar tidak ada yang mendengar ocehan gadis itu.
“Kamu kalau ngomong jangan sembarangan.” Roni melepas tangan Mika saat keduanya berada di samping gedung apartemen.
“Lho, yang omong sembarangan siapa?” tanya Mika santai.
Hingga Roni berkacak pinggang, menatap gadis yang berumur jauh di bawahnya itu.
“Kamu sudah berani mengatai Ariel sugar baby, lalu sekarang kamu ke sini untuk apa? sedang menyelidiki tentangnya? julid banget!” tuduh Roni karena merasa aneh dengan keberadaan Mika di sana.
Mika terkejut mendengar Roni menuduhnya, sampai mulutnya menganga, dia membuang napas kasar sebelum berujar-
“Aku memang mengatainya sugar baby dan itu benar, ‘kan? Untuk alasan kenapa aku di sini, itu karena aku baru dari tempat saudara. Aku terlalu sibuk tahu hanya untuk memata-matai Ariel,” balas Mika sambil bersedekap dada.
“Lagi pula, sudah terbukti dia di dalam bersama pria kaya, kalau bukan sugar baby namanya apa? Apa aku salah?” Mika tampaknya tak mau kalah dari Roni. Ia sukses membuat pria itu gelagapan menghadapinya. Roni tak bisa mengelak karena gadis itu melihat dengan mata kepala sendiri.
Mika melihat gelagat aneh dari Roni, hingga berpikir untuk memanfaatkan kebingungan pria itu.
“Em... tapi bagaimanapun juga, aku sudah melihat sendiri dan tahu kebenarannya. Jadi jangan salahkan aku kalau sampai membocorkannya ke orang lain.” Mika sengaja bicara untuk memancing reaksi Roni.
Berhasil. Pria itu terkejut mendengar ucapan Mika, kemudian menahan lengan gadis itu hingga mereka saling bertatapan.
“Kamu jangan macam-macam! jangan bicara ke sembarangan orang tentang hal yang kamu ketahui,” ucap Roni setengah panik.
Mika menyeringai, kemudian berkata, “Untungnya buat aku apa? Diam tidak dapat apa-apa, bicara malah bisa mengungkap kebenaran.”
Roni terperanjat dan semakin tidak tahu apa yang diinginkan gadis ini.
"Apa maumu? aku akan melakukan apapun keinginanmu, asal kamu tidak menyebarkan hal ini ke orang lain.” ujar Roni yang tak punya pilihan.
__ADS_1
Mika merasa hatinya berbunga-bunga, bagaimana tidak? ini adalah kesempatan emas baginya agar bisa mendapatkan Roni.
“Serius kamu mau mau melakukan apapun, kalau aku tidak menyebar informasi tentang Ariel?” tanya Mika memastikan.
“Ya,” jawab Roni.
“Kalau begitu jadi pacarku, dan akan aku pastikan rahasia ini aman,” ucap Mika kemudian.
“Apa?” Roni terkejut hingga kedua bola matanya membulat sempurna.
***
Malam harinya, Gagah pulang ke rumah setelah bicara dan menghabiskan waktu dengan Ariel, dia baru aja menginjakkan kaki di depan pintu saat Meta tiba-tiba menghadang.
“Kita perlu bicara,” ucap Meta.
“Apa tidak bisa nanti saja? Aku lelah.” Gagah terus melangkah menuju kamar, melongkarkan dasi dan menarik kasar sampai terlepas.
Gagah menghentikan langkah, kemudian membalikkan badan dan menatap lekat istrinya.
“Ada apa lagi?” tanyanya dengan nada tak senang.
“Papa sudah tahu tentang perselingkuhanmu, apa kamu akan terus bertingkah setenang ini?”
Gagah sedang lelah memikirkan perdebatan antara dirinya dan Pradana tadi, dan kini Meta malah mengajaknya berdebat lagi.
“Lalu kamu mau aku bagaimana? mengemis maaf?" sindir Gagah sambil masuk ke kamar.
Meta pun menyusul cepat langkah sang suami, dia kesal karena Gagah semakin dingin dan tak bisa diajak kompromi.
__ADS_1
“Kamu tidak bisa begini, bagaimana jika semakin banyak orang yang tahu tentang perselingkuhanmu dengan gadis itu?” tanya Meta dengan emosi yang mulai meluap.
Gagah membanting kasar dasi ke ranjang, sebelum kemudian kembali menatap ke arah wanita itu.
“Papamu tidak akan tahu jika kamu tidak bercerita, aku yakin kamu pasti mengadu kepadanya!” tuduh Gagah karena kesal.
Meta terkejut bukan main mendengar tuduhan Gagah. Ia juga ikut berbicara dengan nada tinggi.
“Apa kamu pikir aku gila dengan mengadu ke Papa? Aku terus berusaha menutupi keburukanmu, tapi apa ini imbalan yang kamu berikan, hah? Kamu menuduhku! Kamu pikir Papaku bodoh dan tidak bisa menyelidik yang terjadi!” geram Meta.
Gagah merasa kepalanya pening, kenapa setiap pulang harus disuguhi perdebatan dengan Meta.
“Aku lelah, mau mandi dan istirahat."
“Mas! Kita belum selesai bicara!” geram Meta karena Gagah sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi.
Meta mengepalkan kedua telapak tangan yang berada di samping tubuh, dirinya semakin menyalahkan dan benci ke Ariel atas semua yang terjadi.
***
Setelah Gagah pergi. Ariel memilih mendatangi panti asuhan untuk menemui Niken, meski sudah malam, tapi dia merasa tak tenang jika belum menjelaskan semuanya ke wanita itu.
“Jadi, apa yang akan kamu jelaskan?” tanya Niken saat dirinya duduk bersama Ariel di kursi yang ada di dekat dapur.
“Aku ingin menceritakan semuanya, Bu.” Ariel sudah mantap untuk bicara jujur tentang semuanya ke Niken. Wanita itu pun menatap Ariel, berharap semua praduga yang berputar di kepalanya tidaklah benar.
“Sebenarnya, Mas Gagah adalah suamiku, Bu.” Ariel pun memberitahukan kebenarannya, lantas menceritakan semua yang selama ini dirahasiakannya dari Niken.
Terang saja wanita itu gelagapan, Niken merasa syok dengan pengakuan Ariel barusan. Bagaimana bisa gadis itu menikah dengan pria yang jelas-jelas sudah memiliki istri.
__ADS_1
“Ya Tuhan Ariel, apa yang kamu lakukan?” Niken langsung memegangi kening karena merasa darah tingginya kumat setelah mendengar cerita dari Ariel.