Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 78 : Dikejar Preman


__ADS_3

Pagi itu, Ariel pergi berbelanja dengan seorang pengurus yayasan di pasar tradisional. Di sana Ariel tampak senang meskipun harus berdesakkan maupun bersenggolan dengan pengunjung pasar lainnya. Ariel tak pernah merasa sebebas ini, pikirannya begitu tenang tanpa rasa dendam yang terus menghantui.


“Ini sudah semua?” tanya Ariel ke Nani - pengurus yayasan.


“Sudah sepertinya,” jawab Nani sambil mengecek barang bawaannya.


Ariel pun melakukan hal yang sama, mereka mengecek apakah semua kebutuhan untuk dapur yayasan sudah terbeli.


Saat keduanya berjalan keluar dari pasar, Ariel dan Nani tiba-tiba saja dihadang oleh tiga pria berbadan besar.


“Permisi, kami mau lewat,” ucap Nani sopan.


Ariel menunduk karena takut, apalagi ketiga pria itu menatapnya tajam.


“Kamu, ikut kami!” perintah salah satu preman itu.

__ADS_1


Ariel dan Nani terang saja terkejut, kenapa preman itu tidak merampas benda berharga mereka, malah menginginkan Ariel untuk ikut. Hingga Nani yakin, kalau preman itu bukanlah warga lokal mengingat bahasa yang digunakan bukan logat sana.


“Kowe ki sopo? (Kamu ini siapa?)” tanya Nani yang dengan sengaja menggunakan bahasa lokal.


Ketiga preman itu saling tatap, tampaknya tak paham dengan bahasa lokal yang menandakan jika mereka bukanlah warga sekitar.


Ariel dan Nani mundur untuk menghindar apalagi diketahui jika tiga preman itu memang bukan dari kota itu. Ketiga preman maju untuk menangkap Ariel, saat dua wanita itu mundur untuk menghindar.


Seketika Ariel dan Nani berlari untuk menghindar, mereka masuk pasar lagi untuk kabur dari kejaran tiga pria tadi. Ketiga pria itu mengejar, tapi kehilangan jejak karena Nani dan Ariel lari ke area yang cukup ramai di dalam pasar.


Tidak ada hal buruk yang terjadi setelah mereka kabur dari kejaran preman tadi, tapi saat tiba di yayasan, Ariel merasakan perutnya kram. Mungkin karena lamanya durasi serta kecepatan berlari, membuat perutnya sakit.


“Riel, kamu kenapa?” tanya Nani yang masih bersama Ariel, dia cemas melihat gadis itu sedikit membungkuk sambil memegangi perut.


“Perutku sakit,” rintih Ariel masih dengan memegangi perutnya.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Anisa saat melihat Ariel kesakitan.


Nani langsung memandang Anisa, kemudian dia menjelaskan jika tadi ada yang hendak berbuat jahat pada Ariel, sehingga mereka lari untuk kabur menyelamatkan diri.


Anisa sangat terkejut, dia tak menduga jika keselamatan Ariel benar-benar terancam. Kejadian di pasar tadi membuat Anisa berpikir untuk melindungi gadis itu.


Anisa dan Nani memutuskan membawa Ariel ke rumah sakit karena kram perutnya semakin menjadi-jadi. Di sana Ariel diminta istirahat guna mengobservasi kondisi kehamilannya yang masih berada di trimester pertama.


Setelah mendapat perawatan dan istirahat, Ariel memilih berjalan keluar dari kamar untuk mencari udara segar, dia tersenyum sendiri melihat taman yang terdapat di depan kamar inap yang berjajar di rumah sakit itu. Ariel tidak menyangka belum genap kandungannya berumur tiga bulan, tapi dirinya sudah tiga kali masuk rumah sakit karena kondisi kandungannya yang kurang baik, semua ini membuat Ariel mengembuskan napas kasar, tapi dia tetap bersyukur karena semua masih baik-baik saja.


Saat sedang berjalan sambil memandang tanaman yang tumbuh di halaman, Ariel tak sengaja menabrak seseorang karena tak memperhatikan jalan.


“Maaf,” ucap Ariel memandang seorang pria yang ditabraknya.


“Tidak apa-apa.” Pria itu mengulas senyum tipis di wajah dan menatap Ariel.

__ADS_1


__ADS_2