Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 28 : Tikus Putih


__ADS_3

Roni keluar dari ruangan tempatnya berbincang dengan Meta. Ia menggenggam erat botol yang dikatakan racun oleh wanita itu. Roni pun bergegas pergi dari sana. Ia bahkan tidak berpamitan pada Gagah. Pria itu dilema, dia harus berbicara pada Ariel untuk memutuskan langkah apa yang akan diambil.


Karena Ariel kuliah sampai sore, akhirnya Roni baru bisa menemui keponakannya di malam hari. Ia sedikit takut dan meminta bertemu di sebuah restoran yang agak jauh dari apartemen bahkan tempat tinggalnya.


“Ada apa Om, apa ada masalah?” tanya Ariel, dia langsung duduk di depan Roni yang nampak gelisah.


“Hem, ada banyak hal juga yang ingin aku katakan padamu,” ucap Roni dengan mimik wajah serius.


“Apa ini soal Meta?” tebakan Ariel dan langsung diamini Roni dengan anggukan kepala.


Roni berkata bahwa dia mulai khawatir jangan-jangan Meta diam-diam meminta orang memata-matai Gagah. Sehingga Ariel harus segera pindah dari apartemen agar wanita itu tidak bisa mengorek lebih dalam tentangnya.


“Tidak Om, aku tidak mau sembunyi dari Meta, aku tahu dia tidak akan mungkin berani melakukan itu, rasa malu dan ego wanita itu lebih besar dari apa pun di dunia ini. Jika menyuruh orang memata-matai suaminya, sama artinya dia menggali kuburannya sendiri, reputasi mas Gagah sebagai calon walikota tidak bisa dia pertaruhkan, Meta pasti tidak akan melakukan hal ini,” sanggah Ariel.

__ADS_1


Roni terdiam. Analisis Ariel soal hal ini sepertinya sangat logis. Mungkinkah karena Meta berpikir tidak bisa melakukan hal itu sehingga memilih untuk meracuni keponakannya?


“Dia menyuruhku meracunimu,” ungkap Roni dengan nada lirih.


“A-apa? meracuni?” Ariel jelas terkejut, alisnya bahkan langsung bergelombang sebagai tanda betapa tak percayanya dia dengan informasi yang disampaikan Roni.


Mendapati keponakannya ragu, Roni pun mengeluarkan botol yang diberikan Meta padanya. Pria itu meletakkannya di atas meja dan Ariel hanya memandangi tanpa berniat untuk menyentuhnya sama sekali.


Ariel terdiam cukup lama, matanya masih mengamati botol yang diletakkan Roni. Jika sampai Roni tidak melakukan apa yang Meta mau, maka wanita itu bisa jadi tidak akan mau percaya lagi pada om-nya itu. Hal ini jelas merugikannya yang ingin balas dendam.


Namun, jika Roni memberitahu Gagah, pria itu tentu akan marah, bisa-bisa Gagah mengamuk Meta dan malah seperti memberitahu wanita itu bahwa Roni memang kaki tangan suaminya.


“Ya sudah om racuni saja aku,” ucap Ariel. Terang saja mata Roni membelalak lebar karena tidak mengerti dengan jalan pikiran sang keponakan. “Tapi sebelumnya kita harus mencoba racun itu, jangan-jangan itu hanya cairan biasa dan Meta hanya ingin menguji Om sebagai orangnyaa.”

__ADS_1


Roni semakin terperanga, dia tak menyangka bahwa Ariel yang berumur sembilan belas tahun bisa bepikir sampai sejauh dan sedetail ini.


“Om belilah tikus putih untuk uji coba, jika tikus itu tidak mati katakan saja Om sudah melakukan apa yang Meta mau, dia pasti hanya akan terbahak dan senang karena ujian darinya bisa Om lewati,” kata Ariel. “Tapi …. “


“Tapi apa?” Roni memotong ucapan Ariel, dia seolah tak sabar menunggu ide dari keponakannya itu.


“Tapi jika tikus itu mati, maka aku akan benar-benar menelan racun itu.”


“Ariel!” bentak Roni tak percaya. “Apa kamu sudah gila, kamu bisa mati. Jangan bodoh!”


“Aku akan mati jika menenggak semuanya, tapi jika hanya setetes paling hanya mual dan muntah. Dengan begitu aku akan membuat Meta bertengkar lagi dengan Gagah. Aku akan membuat Gagah semakin over protective kepadaku, sedangkan Om, dia pasti akan lebih percaya.”


Ariel memulas smirk. Di dalam hatinya dia sangat geram sampai ingin mencabik-cabik tubuh Meta, wanita itu benar-benar berhati jahat. Ya, jahat. Jika tidak jahat mana mungkin wanita itu tega melindas dan menyeret kedua orang tuanya setelah menabrak. Hanya manusia kejam saja yang bisa melakukan itu dan Ariel benar-benar akan menghancurkannya sampai wanita itu sadar akan keburukannya.

__ADS_1


__ADS_2