Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 99 : Kebohongan Lagi


__ADS_3

Ariel pun memilih untuk diam sementara waktu, dia akan menuruti dan percaya ucapan Gagah untuk saat ini. Merasa dirinya sudah aman, Ariel pun memilih mengajak bertemu Roni, gadis itu menghubungi sang om setelah mematikan panggilannya dan sang suami.


Namun, saat sampai di kafe, Ariel kaget karena Roni datang bersama Mika. Mereka pun memilih tempat yang agak dalam sehingga tidak ada yang melihat.


 


Mika melihat perut Ariel yang sudah besar, lantas memandang temannya itu dengan ekspresi keheranan.


 


“Kalau hanya buat ngelindungi kamu, aku pun bisa melakukannya. Kenapa kamu harus menjerumuskan diri ke dalam kebohongan lagi?” tanya Mika yang tak habis pikir dengan keputusan Ariel. Hubungan gadis itu dan Roni sepertinya semakin dekat, hingga Roni tak sungkan mencurahkan isi hati.


 


Ucapan Mika membuat Ariel ragu dan bimbang, terlebih Ariel sadar dirinya juga harus masuk kuliah lagi.


 


“Untuk saat ini, keputusan ini memang yang terbaik.” Ariel pun menjelaskan.


 


Mika menghela napas kasar, lantas menoleh Roni yang sejak tadi hanya diam. Pria yang sudah mulai membuka hati untuknya itu seolah sangat sedih melihat nasib sang keponakan.


 


Setelah berbincang, Ariel ikut Mika dan Roni. Mereka pergi ke apartemen Mika karena berencana bertemu Gagah di sana.


 


Ariel terlihat senang melihat sang suami, bahkan ingin langsung berhambur mendekat untuk memeluk, tapi dia sadar tidak boleh berlari karena ada bayi yang tengah tumbuh dan masih rentan di dalam kandungannya.


 


Gagah sendiri tersenyum bahagia melihat kedatangan Ariel, dia mengusap pipi istrinya itu dengan tatapan yang tak teralihkan.


 


Mika dan Roni saling pandang, sedikit malu dengan adegan mesra itu. Keduanya pun memilih memberikan ruang pribadi untuk Ariel dan Gagah dengan keluar dari apartemen itu.

__ADS_1


 


“Bagaimana kabarmu?” tanya Gagah sambil mengusap lembut rambut Ariel. Pandangannya masih terus tertuju ke wajah wanita yang sangat dirindukannya itu.


 


“Aku baik-baik saja, Mas.” Ariel mengangguk sambil tersenyum lebar, Gagah lantas mengajak Ariel duduk karena ingin melepas rindu dengan istri sirinya itu.


 


“Apa kamu sudah makan? mau makan sesuatu?” tanya Gagah sambil mengusap lembut perut Ariel.


 


“Tadi sudah makan di kafe, ini masih kenyang,” jawab Ariel. Dia menunduk melihat tangan Gagah yang masih membelai perutnya, lantas menumpukan telapak tangannya untuk menyentuh punggung tangan pria itu.


 


Gagah tersenyum senang melihat Ariel yang tampak bahagia, lantas sedikit menundukkan kepala dan mencium permukaan perut istrinya. Ariel hanya bisa tersenyum, diusapnya rambut Gagah yang sedang mencium perutnya, pria itu sangat perhatian dan sangat sayang kepada calon anak mereka.


 


 


“Aku sudah mengajukan gugatan cerai dan prosesnya sudah berjalan, tapi masalah ini memang tidak banyak yang tahu karena takutnya akan menimbulkan kegaduhan,” jawab Gagah. “Aku sebenarnya kangen Azka, tapi jika ke sana Meta pasti akan membuat masalah,” imbuhnya.


 


“Kenapa tidak menemuinya di sekolah saja?” Ariel memberikan usul.


 


Gagah membenarkan usul Ariel, kenapa tidak terpikirkan olehnya untuk mendatangi sekolah sang putra.


 


“Tapi, kenapa aku merasa kalau Azka bukanlah anak kandungku? Semakin lama, aku merasa seperti ada yang terus berbisik dan berkata jika hal ini benar,” ucap Gagah lagi.


 

__ADS_1


Ariel sangat terkejut dengan ucapan Gagah, bagaimana bisa pria itu meragukan darah dagingnya sendiri.


 


“Mas Gagah nggak boleh bicara begitu, Mas nggak boleh meragukan Azka. Dia anak Mas Gagah, jadi jangan menyakiti hatinya dengan pemikiran Mas ini,” ujar Ariel menasihati.


 


Gagah terdiam mendengar ucapan Ariel, merasa bersalah karena sudah berpikiran seperti itu.


 


“Ya, maaf. Aku tidak akan berpikiran seperti itu lagi,” kata Gagah.


 


Gagah membawa Ariel ke dalam pelukan, lantas menghidu aroma tubuh sang istri berkali-kali.


 


“Bagaimana ibunya Rehan? Apa dia baik kepadamu?” tanya Gagah, cemas jika sampai Ariel tidak diperlakukan baik.


 


“Jika dilihat, dia sebenarnya baik. Hanya saja masih tidak mau bicara denganku,” jawab Ariel. “Mungkin dia butuh waktu untuk bisa menerimaku di sana,” imbuhnya kemudian.


 


Gagah mengangguk, kemudian semakin mempererat rangkulannya dan membawa Ariel dalam dekapan.


 


“Aku sangat merindukanmu dan mencemaskanmu setiap saat,” bisik Gagah.


 


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2