
Rehan sudah tinggal di homestay selama tiga hari, pagi itu dia akan pulang dan sudah mengemasi barang-barangnya. Hingga Rehan mendengar suara gaduh di luar, membuat pria itu melongok untuk melihat apa yang terjadi.
Di luar homestay, ada beberapa ibu-ibu yang kepo dengan keberadaan Ariel yang digosipkan sebagai seorang selingkuhan. Ternyata salah satu tetangga Anisa melihat Ariel yang saat itu sedang membuang sampah di luar, kemudian penasaran apakah benar Ariel adalah wanita yang diberitakan berselingkuh dengan Gagah - yang terkenal sebagai wali kota tampan.
“Nis! Keluarlah dulu!” teriak salah satu tetangga Anisa, membuat keributan di pagi hari.
Anisa pun keluar, melihat beberapa tetangganya masih mengenakan daster sudah ribut di depan rumahnya.
“Ada apa ini ibu-ibu?” tanya Anisa sopan.
“Nis, katanya kamu nampung pelakor, ya?” tanya salah satu tetangga Anisa tanpa basa basi.
Anisa terperanjat mendengar pertanyaan itu, dia pun bertanya-tanya dari mana mereka tahu.
“Nggak usah bohong, Nis. Kami lihat wanita itu kemarin buang sampah dan masuk ke homestay mu. Dia namanya Ariel itu, ‘kan? Yang jadi pelakor rumah tangga wali kota itu,” cerocos ibu lain.
Anisa tidak bisa berbohong, hingga akhirnya mengiakan ucapan tetangganya sebatas, 'iya dia bernama Ariel'.
__ADS_1
“Wah, kamu ini nggak beres, Nis. Kenapa kamu nampung pelakor? Gimana kalau dia goda suami-suami di sini?” tanya seorang ibu-ibu tidak terima.
“Betul tuh, betul,” timpal yang lain.
Anisa terlihat kebingungan, apalagi ibu-ibu itu tampak seperti sedang demo, mencoba menenangkan tapi para ibu-ibu terus berteriak dan minta Anisa mengusir Ariel.
Ariel sejak tadi di dalam mendengarkan keributan itu, hingga berniat keluar tapi langsung dicegah Mbok Supri.
“Jangan keluar, Nduk.” Wanita itu menahan lengan Ariel.
“Tapi kamu lagi hamil, bagaimana kalau ibu-ibu itu tiba-tiba bertindak anarkis. Sudah, kamu nurut kata Bu Anisa, tetap di dalam saja jangan keluar,” ucap Mbok Supri mengingatkan pesan Anisa sebelum menemui para ibu-ibu.
Ariel terlihat bingung, bagaimanapun keributan itu karena dirinya. Namun, benar juga kata Mbok Supri, bagaimana jika dia keluar lalu ibu-ibu itu bertindak anarkis dengan menyeretnya. Dia pun tidak ingin mempertaruhkan keselamatan janinnya.
Ariel akhirnya hanya bisa diam, mendengar kata makian dan umpatan dari luar sana membuat hatinya begitu sakit. Padahal dia yang memutuskan untuk menjadi perebut suami orang, tapi kenapa sekarang dirinya tak siap mendapatkan hujatan itu.
Rehan yang ikut melihat keributan di luar, melihat Ariel yang sedang menangis sambil memandang ke pintu gerbang. Dia pun memiliki sebuah ide, kemudian mendekati Ariel yang sedang menangis.
__ADS_1
“Ikut denganku!" kata Rehan sambil meraih tangan Ariel dan menggandengnya.
Ariel sangat terkejut dengan yang dilakukan Rehan, hingga menatap telapak tangan yang digenggam Rehan dan beralih ke wajah pria itu. Rehan mengajaknya berjalan menuju gerbang, di mana Anisa masih mencoba menenangkan para ibu-ibu, hal ini membuat Ariel bertanya-tanya apa yang ingin dilakukan pria itu.
“Nah, itu dia!” Seorang ibu menunjuk ke Ariel yang muncul bersama Rehan.
Anisa cukup terkejut melihat Ariel malah keluar, dia cemas jika sampai ibu-ibu menyerang.
Ibu-ibu itu terlihat geram dan jijik memandang Ariel, hingga salah satu dari mereka menyadari jika Ariel sedang hamil karena melihat perut Ariel yang sedikit terlihat besar.
“Tuh lihat, dia ini pelakor. Nyatanya dia lagi hamil, pasti kabur ke sini biar nggak dihujat di kotanya sana,” cerocos salah satu ibu.
Rehan tersenyum menanggapi ucapan ibu itu, kemudian merangkul pundak Ariel, hingga membuat Ariel, Anisa, dan juga ibu-ibu itu terkejut.
“Maaf, ibu-ibu salah. Dia ini istri saya, kami ke sini karena sedang babymoon. Istri saja memang sedang hamil. Gosip di media hanya buatan orang tak bertanggungjawab, dia istri saya, saya mengajaknya ke sini liburan untuk menenangkan diri juga. Mohon diperhatikan, dia bukan seorang pelakor,” ujar Rehan menjelaskan.
Ariel terkesiap dengan pengakuan Rehan, hingga memandang pria yang masih merangkulnya itu
__ADS_1