
“Apa yang kamu takutkan? Ada aku di sini.”
Ucapan Gagah agak menenangkan Ariel, gadis itu kembali terlelap dan tak tahu saat suaminya pergi. Gagah memilih untuk pulang ke rumahnya dan Meta. Ia bahkan meminta penjaga rumah untuk tidak berisik karena dia lelah dan ingin beristirahat.
Namun, tak Gagah sangka Meta belum tidur. Wanita itu tahu dirinya datang dan bergegas menyusul ke kamar tamu.
“Mas, ada hal penting yang mau aku katakan,” ucap Meta tanpa basa-basi.
Gagah nampak mengembuskan napas, pundaknya turun menunjukkan betapa lelah dia, dan Meta malah semakin menambah bebannya. Gagah menoleh, dengan nada lirih dia meminta Meta untuk mengatakan apa yang ingin dikatakan, tapi terlebih dulu Gagah memberitahu wanita itu tentang Ariel.
“Ariel sedang mengandung anakku, aku akan menikahinya secara resmi dan benar-benar akan menceraikanmu.”
Meta melotot, dia jelas kaget setengah mati. Meski sudah dijatuhi talak, tetap saja Meta masih berharap bisa kembali bersama Gagah lagi. Ya, bersama. Tapi tanpa mau membujuk dan berjanji akan merubah sikapnya. Wanita itu terlalu angkuh untuk sedikit menurunkan ego. Ia tidak ingin kalah dari Gagah – sang kepala rumah tangga.
“Apa? mengandung? Gadis itu?” Meta tergelak ironi, dia tak bisa berkata-kata dan hanya matanya saja yang perlahan mulai merambang. Ia begitu mencintai Gagah, tapi keserakahan, ego dan kesombongannya membuat pria itu berpaling.
__ADS_1
“Apa Mas yakin itu anak Mas Gagah?” cibir Meta. Ia usap air mata yang tak terasa mengalir ke pipi.
“Jangan mulai lagi! aku yakin itu anakku, anak kandungku,” ujar Gagah.
“Baiklah, terserah Mas Gagah, tapi Mas harus tahu hal ini.” Meta mengusap pipinya. Ia menarik napas sebelum berucap kembali, ”Ariel adalah putri pasangan suami istri yang terlibat kecelakaan denganku, dia sengaja mendekati Mas Gagah untuk membalaskan dendamnya padaku.”
Meta berbicara sesuai dengan pemikirannya untuk memprovokasi sang suami, meski alasan itu memang benar merupakan alasan utama Ariel mendekati Gagah. Wanita itu berbicara dengan semangat yang berkobar, dia ingin meyakinkan Gagah bahwa Ariel hanyalah gadis brengsek yang mengincar sesuatu darinya.
“Dia sengaja mendekati Mas Gagah, memanfaatkan Mas sebagai alat balas dendam!”
“Hentikan omong kosongmu itu!” bentak Gagah.
“Tanyakan juga padanya apakah dia benar tulus mencintai Mas, atau hanya pura-pura," imbuhnya.
Meta mencengkeram erat sisi piyama satin yang dikenakan, dia merasa senang karena bisa melihat kegelisahan dari sorot mata Gagah. Senyuman mencibir pun terbit dari bibirnya. Setelah puas mengatakan semua hal itu, Meta memilih pergi meninggalkan Gagah yang sedang bingung sendirian.
__ADS_1
_
_
Pagi harinya, Ariel sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Ia menceritakan ke Roni soal Gagah yang menemuinya semalam.
“Pasti Om yang memberitahu Mas Gagah,” terka Ariel.
“Ya, karena dia sangat mencemaskanmu. Apa kamu sudah menceritakan tentang kehamilanmu?” tanya Roni, dia membawa mobil Gagah untuk menjemput sang keponakan.
“Sudah.”
“Apa dia bahagia? Bagaimana responnya?” selidik Roni.
“Dia berkata akan menikahiku secara resmi setelah menceraikan Mba Meta, tapi firasatku mengatakan hal buruk akan terjadi. Mba Meta pasti memberitahu Mas Gagah, aku yakin dia pasti akan marah dan membenciku, setelah tahu aku adalah anak dari orang yang meninggal karena istrinya.”
__ADS_1
“Aku tidak ingin berusaha menenangkanmu, tapi Pak Gagah tidak seperti itu. Kamu tulus mencintainya, jadi katakan padanya kalau kamu tulus. Tutupi saja seumur hidup kalau kamu hanya memanfaatkannya di awal, pikirkan calon anakmu,” kata Roni memberi nasihat ke Ariel yang sedang dirundung dilema.
“Haruskah aku melakukannya?”