
Ariel sengaja berpura-pura terkejut mendengar perkataan Pradana, hingga gadis itu kemudian tersenyum miring, memperlihatkan ke pria itu bahwa dia sama sekali tidak takut.
“Saya tidak mengerti maksud Anda,” kata Ariel – masih mencoba mengelak. Meski dari ucapan pria itu dia bisa menebak jika Pradana pasti sudah menyelidiki tentang dirinya. Ariel tak mau gegabah dengan mengakui jika hal yang dikatakan pria itu benar.
Pradana tersenyum miring, menatap Ariel yang dianggapnya kecil-kecil licik juga. “Jadi kamu mau mengelak dengan cara pura-pura tak paham?” tanya Pradana menyindir.
Ariel menelan ludah, dia menatap Pradana dengan perasaan was-was tapi tetap mencoba tetap tenang. Pria di hadapannya ini tidak boleh melihat ketakutan dalam dirinya.
Pradana mengeluarkan ponsel, kemudian menunjukkan foto-foto Ariel saat keluar masuk apartemen, bahkan ada juga foto Gagah yang masuk ke sana. Pradana tentunya membayar orang untuk menyelidiki berita tentang perselingkuhan sang menantu, untungnya orang suruhan Pradana tidak mengetahui tentang rumah baru Ariel dan suami anaknya itu.
“Kamu pikir aku orang bodoh?” Pradana menatap tajam ke Ariel.
Ariel hanya melirik ponsel Pradana yang tergeletak di meja, dan masih tetap mencoba tenang meski mulai merasa tertekan. “Saya tidak pernah berkata demikian,” jawabnya.
Pradana memukul meja sedikit keras, membuat kedua pundak Ariel sampai mengedik. Gadis itu sejatinya takut, tapi memilih untuk tidak gentar.
__ADS_1
“Aku ingin memperingatkanmu, jauhi Gagah!” Pradana berbicara sambil menunjuk wajah Ariel.
Ariel menatap Pradana dengan perasaan kesal, sorot matanya mulai menunjukkan kebencian yang dalam.
Sementara itu, Abil baru saja selesai dari kamar kecil. Bocah itu kini sedang mencuci tangan ditemani Niken.
“Bu Niken,” lirih Abil sambil menoleh Niken yang ada di sampingnya.
“Ya,” balas Niken.
“Pria itu siapa?” tanya Abil. Bocah itu mematikan keran air, mengambil tisu dan mengelap tangan sambil memandang teman almarhumah ibunya itu
“Aku takut sama pria itu Bu Niken,” jawab Abil jujur. “Dia seperti orang jahat, tadi saat pertama kali bertemu dan bersalaman dengannya, dia sama sekali tidak tersenyum, tapi kenapa saat Kak Ariel datang, pria itu terus tersenyum?” tanya Abil mengutarakan apa yang membuatnya tak nyaman.
Niken terdiam, menurutnya memang benar apa yang dikatakan oleh Abil. Namun, Niken pun tak ingin berburuk sangka, karena dirinya belum tahu tujuan pria itu berbuat baik, sampai ingin menyumbang panti asuhannya dengan jumlah yang sangat fantastis. Tak hanya itu Pradana juga berkata ingin mengadopsi Ariel dan Abil.
__ADS_1
“Sudah, Abil tidak perlu memikirkan hal itu, kalau merasa tidak nyaman, boleh kok Abil tidak melihat atau menganggapnya ada,” ujar Niken agar adik Ariel itu tidak takut.
Abil pun mengangguk, kemudian keluar dari kamar mandi untuk kembali ke ruangan di mana kakaknya berada. Di sana Ariel masih memandang Pradana, hatinya kesal saat pria itu memintanya menjauhi Gagah.
“Kenapa Anda sangat bersikeras ingin saya menjauhi Mas Gagah?” Ariel akhirnya mengakui karena sudah ada bukti yang memperlihatkan hubunganya dengan pria itu.
Pradana tersenyum miring, kemudian berkata, “Akhirnya kamu mau mengakuinya secara langsung.”
“Dia sudah beristri dan memiliki seorang putra. Apa kamu tak punya malu menggodanya?” tanya Pradana dengan nada menghina.
“Tidak ada yang menggoda, Mas Gagah sendiri yang memilih saya. Jika Mas Gagah tidak menginginkan saya, mana mungkin saya menjadi istri sirinya.” Ariel menjawab pertanyaan Pradana dengan jujur, percuma juga ditutupi karena pastinya pria di hadapannya itu memiliki banyak bukti untuk menyudutkan dirinya.
“Istri siri sama saja selingkuhan,” balas Pradana. “Jauhi dia jika hidupmu tak ingin hancur!” ancam Pradana.
Ariel mengepalkan telapak tangan yang ada di pangkuan saat mendengar ancaman Pradana. Pria itu berdiri kemudian sedikit menunduk hingga wajahnya dekat dengan muka Ariel.
__ADS_1
“Jika kamu tidak mau meninggalkan Gagah, maka jangan salahkan aku jika menjadikan adikmu sebagai sasaran!” ancam Pradana lagi.
Tepat setelah Pradana mengancam Ariel, terdengar suara pintu terbuka dan membuat keduanya menoleh ke arah sana. Baik Pradana maupun Ariel tampak terkejut melihat siapa yang berdiri di ambang pintu saat ini.