
Ariel merasa Gagah sangat menyayanginya, meski dia sendiri tidak bisa membandingkan karena ciuman pertamanya dia lakukan dengan pria itu. Bahkan mahkotanya yang paling berharga pun dia berikan ke Gagah, pria yang sekarang masih sibuk menikmati setiap inci dari bibirnya. Gagah benar-benar ingin meluapkan segala rindu dan bahkan kebutuhannya sebagai seorang laki-laki dewasa. Tangan pria itu perlahan meraba dada Ariel, memberikan sentuhan ke puncaknya yang terasa mengeras.
Gagah melepaskan tautan bibirnya, dia tersenyum melihat Ariel yang masih memejamkan mata dengan dada yang naik turun memompa O2 ke paru-paru.
Netra Ariel perlahan terbuka, dia memulas senyum karena Gagah sibuk memindai wajahnya dengan sorot mata yang benar-benar memuja. Pria itu menyematkan helaian rambut Ariel ke belakang telinga sebelum mendekatkan wajah dan kembali menyesap belahan bibir gadis itu atas bawah secara bergantian.
Ariel menendang selimut dan bahkan menyingkirkan guling yang sejak tadi memisahkan bagian bawah tubuh mereka. Secara naluriah tangan Ariel mulai meraba sesuatu di antara ke dua paha Gagah. Sama halnya dengan pria itu yang sibuk memilin puncak dadanya dari balik piyama satin yang dia kenakan.
__ADS_1
Gagah melepaskan tautan bibir, dia bangun untuk melepaskan kaosnya lalu beralih ke kancing piyama Ariel. Pria itu tersenyum karena Ariel pasrah saja. Setelah semua kancing terbuka Gagah melingarkan tangannya di bawah ketiak gadis itu untuk meraih pengait bra di bagian belakang. Dengan dua kali gerakan, Gagah bisa menarik lepas penutup bukit istri sirinya itu dan melemparnya ke lantai.
“Jangan dibuang!” Ariel tertawa, dia mengerjap karena Gagah turun dari atas ranjang. Pria itu melepas semua penutup tubuhnya membuat Ariel menggigit bibir bawah.
“Mas Gagah, kemarin masih sakit, kalau ini sakit lagi aku akan meminta pertanggung jawaban,” goda Ariel. Gadis berumur sembilan belas tahun itu bahkan sudah pandai membuat suasana pemanasan sebelum percintaan mereka semakin erotis.
“Mas harus datang setiap malam dan memberiku itu.” Ariel semakin pandai menggoda, dia bahkan tanpa sungkan menunjuk boa milik suaminya.
__ADS_1
“Dasar gadis nakal, lihat apa yang akan aku lakukan padamu.” Gagah tertawa, setelah itu menyasar ceruk leher Ariel dan memberikan tanda kepemilikan di sana, tak hanya itu dia juga menyesap permukaan kulit di antara dua bukit Ariel.
Gadis itu mendesau berkali-kali bahkan meremas lengan Gagah karena merasakan sensasi geli yang menjadi candu tersendiri. Gagah pun tak melewatkan kesempatan untu segera memasuki liang sempit nan hangat milik istri kecilnya itu. Dengan sekali hentak, boa miliknya tenggelam ke dalam kehangatan lembah surga milik Ariel.
Meski sudah lebih dari tiga kali melakukannya tetap saja Ariel merasa perih. Miliknya yang sangat sempit seolah masih menolak boa Gagah yang memiliki ukuran di atas rata-rata. Namun, rasa sakit yang dialaminya lama kelamaan berubah menjadi rasa nikmat yang candu. Ariel bahkan semakin membuka diri, dia tak sungkan untuk ikut menggerakkan pinggulnya dan sesakali jemarinya meraba boa Gagah dari bawah,
Ariel berpikir dia tidak mungkin menjadi jalaang setengah-setengah, untuk mendapatkan Gagah seutuhnya dia juga harus bisa memuaskan pria itu di atas ranjang. Entah dari mana Ariel belajar, tapi Ariel yakin dengan memberikan servis memuaskan ke Gagah saat menggoyang ranjang, dia juga akan mendapatkan lebih banyak kasih sayang dari pria itu. Semakin Gagah ketagihan dengan tubuhnya semakin mudah membuat pria itu membuang Meta.
__ADS_1
“Mas Gagah, aku mau keluar,” ucap Ariel dengan suara parau.