Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 52 : Keputusan Pisah


__ADS_3

Gagah mengajak Ariel pergi. Ia masih menggandeng erat tangan istri sirinya itu dan tak melepaskannya, meski di depan bertemu dengan Niken dan Abil.


Niken memandang Gagah dan Ariel bergantian, kebingungan karena Ariel bisa bersama pria yang kini sedang mencalonkan diri sebagai walikota itu.


“Bu, kita pergi sekarang,” kata Ariel.


Niken hanya mengangguk karena masih bingung, dia meraih pergelangan tangan Abil dan mereka pun berjalan menuju mobil Gagah. Pria itu memutuskan membawa Ariel, Niken, dan Abil pergi dari restoran.


Di dalam mobil, Niken masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa tiba-tiba Pradana mengajaknya bertemu dengan Ariel, lantas Gagah juga muncul di sana. Banyak pertanyaan yang kini berputar di kepala wanita itu.


“Kenapa Ariel bisa kenal dan terlibat dengan Pak calon walikota?” Niken bertanya-tanya dalam hati. Hingga sadar kalau Ariel pernah berkata jika memiliki suami bernama Arya.


“Tunggu! Gagah Wiryawan. Apa mungkin Arya yang dimaksud adalah dia?” Niken menebak dalam hati, hingga tampak bingung dan merasa tebakannya benar.


“Bu, masalah ini akan aku ceritakan nanti. Bu Niken jangan berpikiran yang macam-macam dulu,” ucap Ariel menoleh ke Niken, sebelum kemudian melirik Abil yang duduk di samping wanita itu.


Niken hanya mengangguk, meski dalam pikirannya kini sudah banyak hal buruk yang berputar.

__ADS_1


Mereka pun mengantar Niken dan Abil ke panti asuhan, kemudian menuju kembali ke apartemen. Roni bahkan tak berani banyak bicara karena merasa hal ini sangat sensitif dan genting.


_


_


Sepanjang perjalanan tadi Gagah hanya diam, hingga membuat Ariel cemas dengan kondisi suaminya. Ia pun memastikan Roni pergi dari apartemen sebelum bertanya ke Gagah.


“Apa Mas Gagah baik-baik saja?” tanya Ariel cemas.


Gagah hanya membalas pertanyaan Ariel dengan seulas senyum, kemudian duduk di sofa dan mengeluarkan ponsel. Ariel masih tidak tahu apa yang akan dilakukan Gagah, hingga memilih ikut duduk di samping pria itu.


Ariel masih terus memperhatikan karena tidak tahu siapa yang dihubungi Gagah.


“Ya, aku ingin membicarakan tentang perceraian,” ucap Gagah lagi.


Ariel terang saja terkejut mendengar ucapan Gagah, ternyata yang dihubungi pria itu adalah pengacara.

__ADS_1


“Mas, kenapa Mas ingin mengajukan perceraian?” tanya Ariel saat Gagah selesai dengan perbincangannya di telepon.


“Ini adalah jalan terbaik agar Meta dan ayahnya tak lagi mengganggumu,” jawab Gagah yang sudah sangat yakin dengan keputusannya.


“Bukan begitu, Mas. Pemilihan tinggal beberapa hari lagi, apa Mas Gagah akan melepas semua impian itu sekarang?” tanya Ariel berniat mencegah niat Gagah bercerai dengan Meta sekarang.


Gagah memandang Ariel, kemudian menggenggam telapak tangan gadis itu. “Tapi aku tidak bisa diam saja melihat mereka menekan atau mengancammu. Jika aku sudah bercerai dengan Meta, maka tidak akan ada alasan mereka menekanmu lagi,” ujar Gagah.


“Ya aku tahu, Mas. Tapi tidak sekarang juga. Jika Mas Gagah bercerai sekarang, maka semua rencana dan impian yang sudah Mas rancang, akan hancur bersamaan dengan keputusan bercerai dengan Meta sebelum pemilihan.” Ariel memandang Gagah, masih mencoba membuat sang suami mengurungkan niatnya.


_


_


Sementara itu, Roni yang tahu bahwa tidak mungkin menempatkan diri menjadi obat nyamuk di antara Gagah dan Ariel memilih pergi. Ia hendak meninggalkan apartemen dan berjalan menuju mobil Gagah yang terparkir, hingga dia terkejut saat melihat Mika berada di sana. Ternyata gadis itu melihat semuanya dan merasa penasaran dengan hubungan Gagah dan Ariel.


“Aku tadi melihatmu masuk dengan Pak calon walikota dan Ariel, tapi kenapa sekarang keluar sendirian? Apa mereka memiliki hubungan? Mungkinkah apa yang aku pikirkan tentang Ariel benar?” tanya Mika menyelidik karena dirinya melihat dengan jelas Gagah dan Ariel masuk ke apartemen sambil bergandengan tangan.

__ADS_1


Roni pun membulatkan bola mata lebar-lebar mendengar pertanyaan Mika, pria itu pun menoleh ke kanan dan kiri karena takut ada orang lain yang mendengar.


“Sstt … kamu jangan bicara macam-macam.” Roni meletakkan telunjuk di depan bibir. “Sekarang ikut aku!” Roni menggandeng tangan Mika dan mengajak gadis itu menjauh.


__ADS_2