
Ariel tak menyangka, jika apa yang dikatakan Meta benar artinya semua ini berawal dari ketidakjujuran Puti dan Ardi-omnya. Dua orang itu adalah biang kerok yang sesungguhnya, Ariel bingung hingga Meta berucap lagi-
“Jika hasil pemilihan hari ini hasilnya buruk, maka kamu adalah orang yang patut untuk disalahkan, kamu membuat Mas Gagah yang tidak tahu apa-apa masuk ke dalam pusara kesalahpahaman ini,” ujar Meta. “Apa kamu mau aku temani menemui paman dan bibimu untuk mengkonfirmasi semuanya,”tawarnya dengan penuh keberanian.
“Ti-ti-tidak, tidak mungkin.” Ariel terbata-bata, dia syok dengan kenyataan yang baru saja disebutkan oleh istri sah, suami sirinya ini.
“Kamu masih muda, masa depanmu juga masih panjang, kenapa kamu memilih menjadi pelakor di usiamu yang masih sangat belia? Lebih baik kamu kuliah dengan benar. Aku yakin ada lelaki baik dan lebih segalanya dari Gagah yang akan menerimamu,” kata Meta.
Ariel tak mendengarkan ucapan wanita itu, yang ada dipikirannya sekarang hanya keinginan untuk cepat menemui Puti untuk menanyakan kebenaran informasi yang diucapkan oleh Meta. Ariel pun bangkit dari kursi, dia meninggalkan Meta seorang diri dan berlari. Roni yang melihatnya pun langsung menyusul. Ia mencekal pergelangan tangan keponakannya karena Ariel hampir melewati halaman restoran.
“Mau ke mana? kita ke sini bersama dan membawa mobil Pak Gagah,” ujar Roni mengingatkan. Pria itu heran mendapati tatapan kebingungan sang keponakan, Ariel hanya memindai wajahnya dengan sorot mata nyaris kosong.
“Riel! Ada apa? apa yang dikatakan Meta?” tanya Roni, perasaannya mengatakan ada yang salah, sesuatu pasti terjadi di dalam sana.
__ADS_1
“Om, Meta bilang, dia bilang …. “ Air mata meleleh ke pipi Ariel. Ia merasa salah sasaran, hingga takut Gagah akan membencinya jika tahu akan fakta selama ini. Gagah bisa saja meninggalkannya karena merasa dijadikan alat untuk membalas Meta, di luar alasan bahwa hubungan Gagah dan Meta memang juga sudah renggang.
“A-apa? benarkah Mas Ardi dan Mba Puti.” Mulut Roni menganga, dia juga tidak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan Ariel.
“Antar aku ke rumah mereka, Om. Aku ingin bertanya langsung.”
Roni pun menepuk lalu mencengkeram pundak Ariel, jika memang benar apa yang dikatan Meta, sungguh dia juga tidak akan pernah memaafkan Ardi dan Puti.
_
_
Meski ketus, tapi Puti sejatinya takut. Ia takut jika Ariel bertindak brutal lagi seperti dulu, membanting semua perabotan rumahnya. Benar saja, keponakannya itu mendekat lalu mendorong dadanya hingga mundur ke belakang.
__ADS_1
“Katakan! Kamu kemanakan uang dari Meta Pradana!” bentak Ariel. Gadis itu sengaja langsung menuduh untuk melihat reaksi bibinya. Ariel tahu orang yang tidak bersalah pasti reflek membeli pembelaan.
“A-a-a-apa?” Puti tergagap, dia membuat Ariel semakin tercengang. Artinya apa yang Meta katakan benar.
“Kenapa Bibi tega melakukan semua ini ke aku? kenapa Bibi dengan sadar memakan uang anak yatim piatu, uang yang seharusnya menjadi hakku dan Abil. Apa Bibi tahu karena perbuatan Bibi ini aku mengambil sebuah langkah yang salah di hidupku,” teriak Ariel.
Gadis itu nampak frustrasi. Ia merasa benci ke dirinya sendiri. Ariel merasa menjadi mahkluk paling bodoh, menjerumuskan diri menjadi pelakor dan ternyata biang kerok dari semua ini adalah orang terdekatnya sendiri.
“Katakan Mba, apa Mba menerima uang dari Meta Pradana? Orang yang menyebabkan kecelakaan dan bertanggungjawab atas meninggalnya Mas Azwar dan Mba Rani?” Roni ikut angkat bicara, dia menoleh ke arah pintu di mana tetangga Puti sudah mulai penasaran dengan apa yang terjadi.
Roni pun memutar badan, dia memilih menutup pintu dari pada masalah keluarganya menjadi tontonan.
“Bibi kenapa tega sekali? Kenapa Bibi melakukan ini? kenapa?”
__ADS_1
Ariel menggila, dia bahkan hampir menyerang Puti, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Ariel merasa kepalanya nyaris meledak, pandangan Ariel kabur dan setelahnya dia jatuh terkulai di lantai.
“Ariel!” teriak Roni ketakutan.