Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 26 : Berubah Menjadi Berani


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Gagah sudah pergi dari apartemen. Ia berpamitan ke Ariel yang merasa sedikit terpaksa melepas kepulangannya. Meski berat tapi Ariel tahu Azka membutuhkan Gagah, dia sudah mendengar anak itu akan keluar dari rumah sakit hari ini.


“Kamu nanti kuliah sampai jam berapa?” tanya Gagah sebelum membuka pintu apartemen, pria itu kembali memakai masker agar tidak ada seorang pun yang mengenalinya.


“Sampai sore, aku tahu Mas nggak mungkin ke sini dulu, Azka butuh perhatian dari Mas.” Ariel berkata tanpa berdusta, dia memang benar-benar tulus memikirkan kondisi bocah itu.


"Mas, apa tidak masalah soal istri Mas yang sudah tahu hubungan kita?" tanya Ariel.


“Tenang saja! dia tidak akan mungkin berani menyakitimu lagi, jika dia berani macam-macam aku pastikan akan membuatnya menyesal.”


Gagah usap pipi Ariel, dia kecup kening gadis itu penuh kasih sebelum benar-benar meninggalkannya sendirian di apartemen.


Selepas Gagah pulang, Ariel langsung bergegas pergi ke kamar mandi. Dia menghidupkan shower dan membasahi seluruh tubuhnya yang terasa lengket. Ariel mengusap bagian dadanya yang penuh dengan bekas kecupan Gagah, dia meraba sambil mengingat percintaannya semalam, dan tiba-tiba saja tangan gadis itu berhenti di bagian perut.

__ADS_1


“Apa aku berhenti saja minum obat pencegah kehamilan itu?” gumam Ariel yang mulai bimbang dengan pilihannya. Ia sudah mencintai Gagah, hingga mulai berpikir ingin mengandung anak pria itu.


Setengah jam kemudian, Ariel sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Roni baru saja mengiriminya pesan bahwa dia akan mengantar Abil karena harus menjemput Azka dan juga Meta di rumah sakit. Abil nampak senang, dia memakan roti isi yang dibuatkan sang kakak dengan lahap, sedangkan Ariel memilih mengantar Roni sampai ke depan pintu karena ingin mengatakan sesuatu pada pria itu.


“Mas Gagah bilang dia meminta Om mencarikan rumah,” ujar Ariel dan langsung diamini Roni dengan anggukan.


“Kalau boleh, aku ingin rumah lama. Rumah ayah dan ibu, rumah aku dan Abil bermain bersama.” Ariel berucap dengan nada suara sendu, matanya bahkan merambang mengingat jika rumah itu sudah dijual Puti dan sepeserpun dia tidak diberi uang.


“Gagah ingin membelikanmu sebuah rumah yang setidaknya seharga apartemen ini,” kata Roni. “Tapi kalau kamu memang ingin rumah itu aku akan mengusahakannya,” imbuhnya sambil menepuk lengan sang keponakan. “Kita harus berjaga-jaga, Riel. Mungkin aku tidak akan mengangkat panggilanmu di jam kerja, aku takut Meta curiga.”


_


_

__ADS_1


Sebelum berangkat ke kampus, Ariel lebih dulu mengantar Abil kembali ke panti. Ia tidak menemukan Niken di sana karena wanita itu sedang ada urusan di luar kota. Sejujurnya Ariel merasa lega, karena jika bertemu Niken dia pasti akan dicecar dengan banyak pertanyaan. Ariel yakin aksinya di rumah Puti pasti sudah tersebar ke mana-mana. Gadis itu pun hanya menitipkan salam ke salah satu pengurus panti untuk Niken sebelum pergi.


Ariel berangkat menggunakan taksi ke kampus, dia memang belum dibelikan mobil oleh Gagah karena takut terlalu mencolok. Meski sudah ditawari berkali-kali tapi Ariel menolak. Hanya karena berbelanja di mall saja dia sudah dianggap sugar baby, bagaimana jadinya kalau sampai dia datang kuliah dengan mobil mentereng.


Ariel sudah tahu dari Claudia siapa biang kerok yang membuat namanya menjadi bahan gosipan sebagian besar mahasiwa di sana. Ariel pun sengaja pergi ke kantin karena Claudia belum sampai, gadis itu tahu dimana Mika biasanya duduk-duduk cantik bersama teman-temannya yang lain. Ariel pun mengambil minuman botol dari lemari pendingin, dia memberikan uang lima puluh ribu ke ibu kantin. Wanita paruh baya itu sampai bingung karena Ariel pergi begitu saja tanpa menunggu uang kembalian.


Ariel tersenyum sinis saat melihat Mika tengah bercanda dan tertawa-tawa dengan teman-temannya, dan tanpa rasa takut sedikit pun Ariel langsung mendekat dan menyiramkan minuman dari botol ke rambut gadis itu.


Mika pun gelagapan, begitu juga dengan teman-temannya yang memilih menghindar agar tidak ikut basah terkena cipratan.


“Ariel! Apa-apa’an?” bentak Mika, dan seperti orang kesurupan Ariel dengan berani melayangkan tamparan ke pipi gadis itu.


"Coba katakan di depan mukaku kalau berani, apa yang kamu katakan tentangku di group!"

__ADS_1


__ADS_2