
Malam itu Gagah memilih menemani anaknya—Azka belajar, sudah lama dirinya tak memberi perhatian pada putranya itu. Azka sendiri merasa senang karena akhirnya Gagah memiliki waktu untuk menemaninya di rumah. Sambil menunggui Azka mengerjakan tugas sekolahnya, Gagah terlihat fokus pada ponsel, jemarinya bergerak lincah menari di atas layar. Dia mengirimkan pesan pada Ariel untuk pamit karena malam itu tidak bisa datang ke apartemen. Gagah pun menunggu Ariel membalas dengan perasaan cemas, pria itu takut jika sang istri muda kecewa padanya.
[Tidak apa-apa. Mas Gagah tidak perlu cemas.]
Gagah senang saat membaca balasan dari Ariel, dia lega karena gadis itu mau mengerti kondisinya. Setelah menyimpan ponsel di atas nakas, Gagah lantas kembali fokus pada Azka.
“Pa, aku tidak bisa mengerjakan soal ini,” ucap Azka sambil menunjukkan soal yang dia maksud di buku.
“Yang mana? Coba Papa lihat.” Gagah bersikap layaknya ayah yang baik, meski dirinya sadar jika tidak bisa maksimal memberikan perhatian seperti orangtua lainnya karena tuntutan pekerjaan.
Gagah menemani Azka belajar sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar putranya itu, dia memastikan Meta tak datang untuk mengajaknya ke kamar. Gagah memang sengaja berlama-lama menemani sang putra dan membiarkan wanita itu menunggunya. Ia berharap sang istri tertidur karena dia malas jika harus menyentuh Meta.
Sementara itu di dalam kamar, Meta berkali-kali melirik ke pintu berharap Gagah segera muncul di sana. Namun, tampaknya dia harus menunda keinginan untuk bermesraan dengan Gagah karena pria itu tak juga kembali.
“Apa Mas Gagah masih menemani Azka belajar? atau malah mereka tidur bersama?” Meta menguap, sejak tadi menahan kantuk karena menunggu suaminya. Dan pada akhirnya Meta harus kecewa karena Gagah tak datang sampai dirinya tertidur.
***
Ariel meletakkan ponselnya setelah membalas pesan dari Gagah tadi, gadis itu sedang bersama Roni yang baru akan memberikan cincin pemberian dari Gagah.
“Dia tidak bisa ke sini karena tadi Meta membuntuti kami,” ucap Roni sambil mengulurkan kotak berisi cincin berlian yang dipilih atasannya untuk Ariel.
“Gagah harus membuat alibi untuk mengelabui Meta agar tidak ketahuan, jadi kami memutuskan berbelok ke pusat perbelanjaan kemudian dia membelikan ini untukmu, tapi jangan besar hati! karena dia juga membelikan cincin serupa untuk Meta.”
Ariel menerima kotak itu kemudian membuka untuk melihat isinya. “Jadi Meta sudah mulai curiga?” tanyanya kemudian, dia langsung memakai cincin itu di jari manis tangan kiri.
“Ya, tapi tentu saja suaminya masih berusaha menutupi,” jawab Roni apa adanya, lagipula jangan sampai Meta tahu jika dirinya mendukung Gagah berselingkuh. Bisa-bisa wanita itu tidak akan memercayai dirinya lagi.
Ariel terlihat bepikir hingga kemudian tersenyum menyeringai. Ditatapnya Roni penuh arti, membuat pria itu kebingungan.
__ADS_1
“Besok saat datang ke sini, bisakah Om secara diam-diam mengambil foto Mas Gagah ketika masuk ke apartemen kami?” tanya Ariel, tentu saja ada ide yang tengah melintas di kepalanya.
Roni mengerutkan dahi, menatap Ariel dengan rasa heran. “Untuk apa?” tanyanya bingung.
“Tentu saja untuk membuat Meta semakin curiga dan panas. Begitulah cara menghancurkan wanita itu dengan perlahan,” jawab Ariel masih dengan seringai jahat di wajah.
Roni tersenyum dan paham dengan maksud sang keponakan, hingga dia berjanji akan melakukan apa yang diperintahkan oleh Ariel. Gadis itu yakin jika Meta pasti akan mengenali foto Gagah, meski suaminya itu mengenakan masker dan berganti pakaian saat datang ke apartemen. Ariel akan membuat Meta kehilangan akal sehatnya, sebelum benar-benar menghancurkan wanita itu.
***
Hari berikutnya seolah tak bisa menahan rindu, Gagah datang ke apartemen saat siang hari. Beruntung Ariel sudah selesai kuliah dan langsung pulang ketika Gagah mengabari jika dirinya akan datang.
“Bagaimana kuliahmu hari ini?” tanya Gagah dengan senyuman lebar. Ariel bahkan belum melepas sepatunya.
“Mas Gagah, kenapa bilangnya dadakan? Tidak ada makanan di kulkas.” Ariel meletakkan sepatu ke rak, dia bahkan belum melepaskan tasnya tapi Gagah sudah ingin memeluk.
“Aku belum cuci tangan Mas,” gerutu Ariel karena tak bisa menghindar dari sang suami yang langsung memeluknya erat.
Ariel pun tersenyum ironi di belakang Gagah, ada rasa ngilu di dadanya saat pria itu bersikap manis seperti ini. Ia pun balas memeluk dan bahkan menghidu aroma tubuh suaminya dalam-dalam.
“Aku juga merindukan Mas Gagah.”
_
_
Beberapa menit kemudian keduanya kini sudah duduk di atas ranjang di mana Ariel bersandar pada dada Gagah, dia melingkarkan tangan ke pinggang pria itu yang sedang bersandar pada kepala ranjang.
“Kamu belum menjawab tadi, bagaimana kuliahmu?” tanya Gagah. Dikecupnya ubun kepala istrinya dengan sangat mesra.
__ADS_1
“Baik,” jawab Ariel, meski kenyatannya ada beberapa mahasiswa yang tak henti membully dirinya karena gosip yang beredar bahwa dia adalah wanita malam.
“Baguslah,” lirih Gagah sambil mempererat pelukan. “Apa kamu suka dengan hadiah yang aku titipkan ke Roni?” tanyanya kemudian sambil sedikit menunduk untuk melihat wajah Ariel yang ada di bawah dagunya.
Ariel langsung mengangkat tangan kiri untuk memperlihatkan jari manisnya, di mana cincin berlian pemberian Gagah tersemat di dana, dia mendongak dan tersenyum lebar pada suami sirinya itu.
“Suka sekali,” jawab Ariel, dia lantas menatap cincin itu dengan binar tak percaya. “Ini sangat cantik,” imbuhnya dengan tatapan tak teralihkan dari berlian berbentuk oval yang bertengger di atas cincin.
Gagah tersenyum senang, dia lantas mengecup lagi pucuk kepala gadis itu penuh kasih sayang. Perlakuan Gagah yang romantis dan manis, membuat Ariel terkadang lupa akan tujuan awalnya mendekati pria itu. Mereka menghabiskan waktu bersama, apalagi kegiatan yang seharusnya mereka lakukan malam tadi urung karena kejadian Meta membuntuti Gagah.
Ariel dan Gagah bermesraan tanpa gangguan. Ariel seolah tak bosan untuk bermanja kepada sang suami. Bahkan saat pria itu masih mengurung tubuhnya setelah bercinta, Ariel tak segan menarik tengkuk Gagah agar bibir mereka menyatu kembali. Gagah pun mengusap pipinya dengan lembut, sebelum berguling ke samping dan merengkuh tubuhnya masih dengan bibir yang saling bertaut.
“Mas, bagaimana jika aku hamil?” tanya Ariel tiba-tiba saat keduanya dalam posisi saling berpelukan di bawah selimut.
Ariel sebenarnya diam-diam sudah rutin meminum pil pencegah kehamilan yang diberikan Roni, dia bertanya hanya untuk memancing reaksi Gagah akan dirinya. Ia ingin tahu apakah Gagah akan memintanya menggugurkan kandungan jika hamil, ataukan malah memutuskan hal lain. Pria itu kembali mengusap sisi wajahnya penuh kelembutan.
“Kalau kamu hamil, aku akan menikahimu secara resmi. Aku janji,” jawab Gagah di akhiri sebuah kecupan di kening.
Lagi, dada Ariel terasa ngilu. Gadis itu memejamkan mata merasakan banyaknya curahan kasih sayang yang diberikan oleh Gagah.
“Aku benar-benar sudah muak dengan Meta dan orangtuanya yang selalu menekan dan menginjakku, seolah aku tak memiliki harga diri sama sekali,” ujar Gagah mengatakan apa yang dia rasakan. Sedangkan Ariel memilih diam mendengarkan keluh kesah suaminya.
“Aku memang ingin menjadi walikota, setelahnya aku akan menceraikan Meta agar tidak ada lagi yang mengatur hidupku. Lepas darinya setelah aku bisa meraih apa yang kuinginkan, memang sudah ada dalam rencanaku,” imbuh Gagah.
Ariel terdiam mendengar ucapan Gagah yang ternyata sangat bertolakbelakang dengan apa yang diketahuinya selama ini. Ariel merasa dadanya semakin terasa sakit bagai dihantam batu besar saat mendengar Gagah yang ternyata hanya dimanfaatkan dan terus ditekan. Ariel kini merasa dilema, karena dirinya seperti ikut menusuk Gagah dari belakang.
“Apa yang aku lakukan ini benar?” Ariel bertanya dalam hati.
Mendengar jika Gagah akan menceraikan Meta, membuat Ariel merasa bersalah karena telah memanfaatkan pria itu. Namun, Ariel juga senang karena Meta sebentar lagi akan hancur.
__ADS_1
“Singkirkan rasa bersalahmu, Ariel. Wanita itu yang memulai, bukan salahmu memanfaatkan Mas Gagah, karena pria itu ada di dalam kehidupan Meta.” Ariel mencoba mensugesti diri sendiri, semua sudah berjalan dengan seharusnya, jadi tidak boleh ada rasa bersalah dan penyesalan, atau dirinya takkan pernah bisa membalaskan dendam kehilangan kedua orangtuanya.