Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 35 : Talak


__ADS_3

Apa yang diucapkan oleh Gagah barusan tentu saja Roni sampaikan ke Ariel, meski setelah itu dia meminta sang keponakan untuk berpura-pura tidak tahu. Ia tidak ingin Gagah berpikir bahwa dirinya adalah tukang mengadu.


Malam harinya, Gagah terlihat sedang menemani Azka di kamar. Sejenuh apa pun dia ke Meta, tetap saja dia sadar Azka tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Pria itu mengajari Azka menggambar setelah itu menemani tidur. Namun, entah kenapa sudah hampir setengah jam mata anak itu belum juga terpejam, Azka memeluknya posesif seolah takut dia akan meninggalkannya.


“Besok kamu harus sekolah, jadi kamu harus tidur,” ucap Gagah dengan nada suara lirih.


Azka nampak menelan saliva, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan. Hingga Gagah menjauhkan kepala, keningnya terlipat halus melihat ekspresi aneh di wajah sang putra.


“Kenapa? apa ada masalah?” tanya Gagah.


Azka awalnya menggeleng, tapi kemudian dia beringsut untuk memeluk kembali Gagah. Anak itu pun berucap, “Papa jangan tinggalin Azka, Papa jangan pergi ke rumah tante itu lagi.”

__ADS_1


Terang saja Gagah terkejut, dia membeku sejenak sebelum melonggarkan pelukan putranya agar bisa menatap wajah Azka. Gagah menyelami kedua mata anak tak berdosa itu, hingga heran kenapa bisa Azka berbicara seperti tadi.


“Siapa yang berkata Papa akan meninggalkanmu? Tante siapa maksudmu?” tanya Gagah kehernanan. Ia belai pipi Azka dan tiba-tiba saja merasa sangat bersalah.


“Kemarin aku tanya ke mama, kemana Papa? Dan Mama bilang Papa tidak akan pulang karena ke rumah tante jahat,” jawab Azka dengan polosnya.


Gagah tentu saja tersentak dengan cerita sang putra, rasanya ada api yang tiba-tiba berkobar sampai ke ubun kepala. Ia mengeram, tapi tak lama karena dia sadar tidak boleh menunjukkannya di depan sang putra.


Gagah menunggu Azka sampai tertidur pulas, dia beranjak dari atas ranjang setelah membetulkan selimut yang menutupi tubuh sang anak. Setelah itu Gagah menuju kamarnya hanya untuk mengambil jaket dan hendak pergi.


“Mau kemana?” Hardik Meta yang ternyata belum tidur. “Apa kamu mau menemui gadis jalaang itu?”

__ADS_1


Gagah mencoba untuk tidak terpengaruh dengan ucapan Meta, dia memilih memakai jaket dan memilih salah satu jam tangan dari laci, sampai wanita itu memalingkan tubuhnya dan berkata lagi-


“Apa kamu akan terus seperti ini? apa kamu sudah gila setiap hari menemuinya? Apa kamu pikir aku akan tinggal diam saja? aku akan membunuh gadis itu kalau sampai kamu berani pergi malam ini,” ancam Meta.


Gagah menampik tangan Meta dari lengannya dengan kasar, dia tersenyum miring lalu balas mencibir, “Apa kamu sudah tidak waras sampai memberitahu Azka? Ibu macam apa kamu?”


“Lalu kamu ayah macam apa?” sembur Meta. “Kamu menyelingkuhi ibunya, pria macam apa kamu?”


“Apa kamu sudah berkaca?” Gagah geram, dia bahkan menarik tangan Meta lalu berhenti tepat di depan cermin yang berada di kamar mereka.


“Lihat! yang bisa kamu lakukan hanya menuntut dan sok berkuasa, kamu bahkan memakai psikologis putramu. Dan sekarang kamu mengancam ingin membunuh orang?” Gagah tergelak.

__ADS_1


“Aku bahkan berani menantang Papamu, kamu tahu? aku berkata akan menceraikanmu, dengar ini aku akan menceraikanmu,” geram Gagah. Secara agama dia sudah menjatuhkan talaknya ke Meta.


__ADS_2