Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 23 : Kangen


__ADS_3

[ Belum ]


Gagah menatap layar ponselnya dengan sorot mata sendu. Ia yang malam itu masih menunggui Azka pun memutuskan berdiri. Meski Meta sejak tadi memerhatikan gerak-geriknya, Gagah tetap menyambar jaket dan memakainya.


“Mau ke mana?” Meta berdiri, dia melotot karena bisa menebak apa yang akan suaminya lakukan.


“Aku ada urusan.”


“Urusan? Pasti kamu akan menemui jalaang itu,” sinis Meta. Tatapan matanya tak teralihkan dari Gagah yang sedang menoleh Azka, memastikan bahwa putranya itu sudah terlelap.


“Sepertinya ada banyak hal yang harus kita bicarakan berdua, tapi tidak di sini. Aku ingin membahas tentang kelangsungan rumah tangga kita,” ucap Gagah dengan nada suara yang benar-benar kecil, dia takut kalau sampai Azka mendengar dan terbangun.


“Apa? kelangsungan rumah tangga? Jangan harap aku akan dengan mudah mengalah,” ketus Meta. Dagunya terangkat seolah menantang Gagah untuk bertengkar.


Namun, alih-alih merespon kembali ucapan istrinya itu, Gagah memilih pergi. Ia tak peduli dengan pikiran Meta. Sambil berjalan menyusuri koridor, Gagah kembali mengingatkan Roni untuk segera mencarikan rumah untuknya dan Ariel.

__ADS_1


_


_


Setengah jam kemudian, Gagah sampai di apartemen. Meski mendengar pintu unitnya terbuka, Ariel memilih untuk tetap meringkuk di bawah selimut. Ia menghapus jejak air mata yang membasahi pipi, Jujur saja hatinya sakit dan dia sedih dengan semua hal yang menimpanya dan Abil. Seandainya orangtuanya masih hidup, Ariel yakin dia pasti akan hidup layak, Abil akan bahagia dan dia tidak perlu terjebak menjadi seorang pelakor di usianya yang masih sangat belia.


“Sudah tidur? Hem …,” bisik Gagah di telinga Ariel setelah melepaskan jaket dan meletakkannya di sofa.


“Mas Gagah kenapa ke sini?” tanya Ariel dengan suara parau. Matanya bahkan sedikit bengkak.


“Nggak apa-apa, tadi habis nonton film sedih,” jawab Ariel mencoba menutupi hal sebenarnya dari Gagah. “Mas sudah makan belum? Kok mas Gagah sepertinya agak kurusan, padahal baru dua hari kita nggak ketemu.”


“Masih bisa memikirkan orang lain, kamu kenapa? apa karena Meta?” tanya Gagah, dia raih tangan Ariel dan menggenggamnya erat.


“Bukan, aku nggak bohong, aku benar-benar baru saja selesai nonton film sedih Mas.”

__ADS_1


Gagah mencoba untuk memahami, dia tidak ingin memaksa Ariel bercerita jika memang gadis itu tidak ingin terbuka. Pria itu pun melebarkan tangan dan Ariel pun langsung menghambur dan memeluknya.


“Aku kangen sama mas Gagah,” bisik Ariel. Ia memejamkan mata karena entah kenapa merasakan kenyamanan saat berada di pelukan pria itu.


“Aku juga kangen sama kamu,” balas Gagah tak kalah mesra. Ia usap rambut istrinya penuh kelembutan dan Ariel pun semakin mengeratkan pelukan.


Mereka akhirnya berbaring saling berhadapan di atas ranjang, Gagah pun bercerita banyak hal dan seperti biasa, Ariel selalu menjadi pendengar yang setia. Gadis itu bahkan tertawa dan mersepon positif setiap ucapan Gagah, satu hal yang tidak pernah Gagah dapat dari Meta.


“Mas Gagah ternyata lucu,” ucap Ariel setelah Gagah menceritakan kenangannya saat SMA dulu.


“Kamu meledekku.” Gagah sengaja memasang muka kesal, dan Ariel yang gemas pun langsung menangkup pipi pria yang seumuran om-nya itu.


“Enggak, aku benar-benar memuji mas Gagah.” Ariel tertawa, tapi tak lama dia diam karena tatapan matanya tiba-tiba bersirobok dalam dengan Gagah.


Pria itu balas mengusap pipinya lalu mengikis jarak, Gagah mendekatkan bibirnya ke bibir Ariel, hingga gadis itu memejamkan mata dan merasakan hangatnya bibir Gagah yang menyentuh bagian tubuhnya yang merekah. Ariel membiarkan saja Gagah menelusupkan lidah, hingga ciuman itu menjadi bergairah.

__ADS_1


__ADS_2