
Rehan yang panik langsung pergi meninggalkan Ariel dan Rika. Ke dua wanita itu terkejut dan bahkan Rika menoleh Ariel dan bertanya –
“Rehan mimisan?”
Ariel pun mengangguk, dia yakin dengan apa yang dilihatnya. Hingga meminta izin untuk menyusul pria yang mengaku suaminya itu. Ariel menepuk pundak Rehan, setelah mengambil sapu tangan yang ada di dalam tasnya. Rehan terkejut, dia berdiri di depan wastafel dan memandang pantulan dirinya dan Ariel.
“Mas Rehan baik-baik saja ‘kan?” lirih Ariel.
Rehan pun memulas senyum kecil. Dia mengangguk lalu membasuh hidungnya. Ingin rasanya Ariel bertanya penyakit apa yang Rehan derita, tapi dia takut jika dianggap lancang karena kedatangannya ke sana sejatinya untuk berlindung, bukan mencari keributan. Memikirkan Rika yang syok saja, Ariel takut. Apa lagi mendengar nama kekasih Rehan disebut. Arumi, ya Arumi. Wanita itu mungkin akan sangat membencinya.
_
_
“A-a-apa?”
__ADS_1
Arumi tak percaya dengan apa yang diceritakan Rika, baru saja dia duduk untuk menanyakan keberadaan Rehan, tapi wanita itu bercerita bahwa putranya pulang membawa perempuan yang sedang hamil.
“Di-di-di mana dia sekarang?” tanya Arumi terbata.
“Mereka sedang di kamar.”
“Hah … “ Mata Arumi terasa panas, dia masih tak percaya kekasih yang sangat dicintainya, bahkan dia impikan untuk hidup bersama bisa setega ini.
Arumi masih tercengang saat Rehan turun dan menatap kepadanya. Pria itu sudah menguatkan hati untuk berbicara ke Arumi bahwa hubungan mereka harus diakhiri.
“Re,” lirih Arumi menyebut nama sang pujaan hati.
Air mata Arumi menetes, apa lagi saat dia melihat Ariel muncul dari belakang Rehan dengan perut yang membuncit. Dunia Arumi serasa runtuh, pengkhianatan yang dilakukan orang yang benar-benar dia cintai, begitu mengguncang batinnya.
“Re, kamu bohong ‘kan? tidak mungkin!” tolak Arumi, dia berdiri menatap lekat Ariel. Wanita itu tahu kalau Ariel adalah gadis yang dicap oleh masyarakat sebagai pelakor belia yang menggoda wali kota.
__ADS_1
“Di-di-dia.” Arumi tak bisa mengeluarkan kata-kata, tenggorokannya terasa tercekat. Ia benar-benar terluka, hingga memilih untuk menyambar tasnya dan pergi dari sana membawa luka dan linangan air mata.
Rika berdiri mengejar, sedangkan Rehan nampak memejamkan mata sebelum memutar badan dan pergi dari sana. Terlihat kentara di mata Ariel pria itu terluka. Hingga Ariel memilih masuk ke kamarnya, mengunci diri di kamar mandi dan menghubungi Gagah.
Beruntung, Gagah telah bertekad untuk mengutamakan istri sirinya itu, hingga memilih untuk meletakkan berkas di tangannya dan menerima panggilan Ariel.
“Mas Gagah!”
“Hei, bagaimana? Apa ada masalah?” tanya Gagah dengan nada suara lembut.
“Kekasih Mas Rehan sudah diberitahu, aku tidak tega. Dia pergi sambil memegang dadanya dan menangis. Mas, apa yang kita lakukan ini benar?” tanya Ariel.
Gagah menelan saliva, dia tidak mungkin berkata semua ini benar, karena sejatinya dia tahu salah. Namun, dia tidak bisa memikirkan cara lain untuk membuat Ariel tetap berada di jangkuannya tapi aman dari Meta.
“Sudah! jangan terlalu banyak pikiran. Fokus saja dengan kesehatan calon anak kita, aku tidak ingin jika kandunganmu terpengaruh dengan masalah-masalah ini,” pinta Gagah. “Kita bisa bertemu untuk membahasnya lagi, jangan lupa minum vitamin dan susu hamilmu.”
__ADS_1
***
Scroll ke bawah 👇