Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 46 : Status


__ADS_3

Sementara menantunya bermesraan dengan daun muda. Pradana terdiam dengan air muka serius. Dia tengah berpikir akan kabar yang didapatnya, ternyata pria itu mendapat informasi tentang perselingkuhan Gagah. Hingga Pradana memutuskan pergi menemui Meta untuk menanyakan kabar yang diterimanya itu.


“Nyonya, apa Tuan besar di bawah.” Pelayan rumah menyampaikan kedatangan Pradana ke Meta.


Wanita yang sedang sibuk berdiam diri bermalas-malasan di kamar itu cukup terkejut, saat mengetahui kedatangan papanya.


“Baik, buatkan kami minum. Aku akan segera turun,” kata Meta. Setelahnya bergegas turun, hingga dia mendapati Pradana yang duduk di ruang tengah


“Papa,” sapa Meta.


Pradana hanya mengangguk, tampaknya pria itu tidak bisa tersenyum karena memikirkan kabar perselingkuhan sang mantu.


“Tumben! Ada apa Papa ke sini?” tanya Meta, dia berbasa-basi karena melihat wajah Pradana yang begitu serius.


“Papa ingin tanya sesuatu kepadamu, Papa harap kamu menjawab dengan jujur,” ucap Pradana sambil memandang putrinya.


Meta menelan ludah, firasatnya buruk tentang hal yang akan ditanyakan pria tua itu.


“Papa mendapat info kalau Gagah berselingkuh, apa kamu tahu?” tanya Pradana.

__ADS_1


Meta terperangah, benar dugaannya jika sang papa pasti akan membahas hal itu. Dia tampak gelagapan karena harus mencari alasan yang pas agar papanya tidak curiga.


“Papa dapat informasi dari mana? Itu tidak benar,” jawab Meta menutup-nutupi.


Pradana memandang Meta, menilai apakah putrinya itu berbohong.


“Jika Gagah selingkuh, sudah pasti aku bertindak dan cerita ke Papa,” ujar Meta untuk meyakinkan. “Mungkin itu hanya gosip, Pa. Pemilihan tinggal sebentar lagi, bisa saja ada yang menyebar gosip itu agar nama suamiku jadi buruk.”


Pradana tampak berpikir, benar juga yang dikatakan putrinya, di masa pemilihan tidak jarang pendukung tim lain akan menjelekkan kandidat lainnya agar tampak buruk. Bukankah sudah biasa jika dalam pemilihan, pasti ada persaingan yang tidak sehat.


***


“Halo, apa kamu pulang cepat malam ini?” tanya Meta saat panggilannya dijawab Gagah.


“Kenapa?” tanya balik Gagah dari seberang panggilan.


“Aku ingin makan malam denganmu,” jawab Meta.


“Aku tidak bisa, banyak urusan yang harus dikerjakan.”

__ADS_1


Meta terdiam, bisa menebak urusan seperti apa yang akan dilakukan suaminya.


Gagah memang berada di apartemen bersama Ariel. Saat Meta menghubungi, pria itu bersama Roni hendak makan malam. Ariel sudah menyiapkan sajian karena sebelumnya Gagah berkata akan datang.


Mereka bertiga pun makan bersama, tidak ada rasa canggung karena kini Roni sudah dipecat Meta tapi masih bekerja untuk Gagah. Meta juga tahu akan hal itu dan semakin merasa bodoh karena ditipu selama ini.


“Kemarin sebelum menemuimu, aku melihat seorang gadis memandang ke arah rumah barumu. Aku coba tegur dia, tapi dia beralasan salah alamat.” Roni bercerita tentang pertemuannya dengan Mika.


“Lalu?” tanya Ariel yang tidak paham, ke mana arah pembicaraan Roni.


“Nah, aku mau tanya. Kamu kenal nomor dan foto ini tidak?” tanya Roni memperlihatkan nomor beserta foto di ponsel ke Ariel. “Dia tiba-tiba mengirimiku pesan, awalnya menyapa, tahu-tahu dia bertanya apakah aku jomlo.”


Ariel dan Gagah mengerutkan alis, kemudian keduanya melihat nomor dan foto di ponsel Roni. Ariel langsung megap-megap mengetahui kalau Mika yang menghubungi Roni, tak percaya teman sekampusnya itu menanyakan status Omnya.


“Dia tahu nomor Om dari mana? Apa Om memberikan nomor ke dia?” tanya Ariel menyelidik.


“Tidak tahu, dia tiba-tiba menghubungi. Entah dari mana bisa tahu nomorku,” jawab Roni yang sebenarnya bingung.


Ariel langsung memegangi kening, bagaimana bisa Mika mengirimkan pesan seperti itu kepada Roni. Hingga Ariel berpikir jika teman sekampus yang sangat dibencinya itu pasti menyukai sang Om.

__ADS_1


__ADS_2