
Mika memandang nomor Roni. Dirinya kini sedang di kampus dan baru saja mengirim pesan ke pria yang mencuri hatinya itu, tapi sayang kecewa karena pesannya tidak dibalas oleh pria itu. Mika mencebik kesal, padahal kemarin Roni merespon chatnya, tapi kenapa hari ini tidak.
“Apa dia kerja?” Mika menebak sendiri, karena yakin jika Roni pasti bukan pria pengangguran.
Gadis itu ternyata mendapat nomor Roni dari sebuah counter pulsa. Saat itu Mika melihat Roni berjalan ke sebuah counter, setelah pria itu pergi Mika langsung mendatangi dan menanyakan ke penjaga.
“Buat apa Mbak?” tanya penjaga counter saat mendengar pertanyaan Mika yang memintanya memberitahu nomor Roni.
“Ada hal penting, pokoknya kasih tahu, mana nomor pria yang baru pergi tadi?” Mika memaksa.
Penjaga counter itu kebingungan, sampai melihat Mika mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan dari tas.
“Nih, uang. Mau nggak?” Mika mencoba membujuk.
Penjaga counter itu tertawa dan langsung setuju untuk memberikan nomor Roni.
__ADS_1
Kini Mika seperti orang kasmaran, ditatapnya pesan chat yang belum mendapat balasan, berharap Roni segera membaca dan membalas agar hatinya tenang.
Kebetulan Ariel melihat Mika yang sedang duduk di taman sambil tersenyum-senyum sendiri memandangi ponsel. Dirinya geram hingga kemudian menghampiri Mika untuk memperingatkan agar tidak mengganggu Roni.
“Heh! Berhenti mengirim pesan dan mengganggu Om ‘ku!” bentak Ariel begitu sampai di hadapan Mika.
Mika sangat terkejut mendengar suara Ariel, hingga langsung berdiri dan kini saling berhadapan dengan gadis itu.
“Siapa Om kamu, pede sekali,” cibir Mika karena tidak tahu.
Mika terkejut dengan mulut menganga, hingga tampak megap-megap seperti ikan kekurangan air. Ia tidak menyangka jika Roni adalah Om dari teman sekampus yang sering dibully olehnya. Mika sampai diam tak bisa melawan ucapan Ariel.
“Kamu nggak layak buat Om ‘ku. Gadis tukang fitnah dan gosip sepertimu tidak baik untuknya. Om ‘ku terlalu bagus buat kamu!” cibir Ariel kemudian menghentakkan kaki seolah menggertak, sebelum kemudian meninggalkan Mika - yang terdiam seribu bahasa.
Mika merasa syok hingga tidak bisa membalas. Gadis itu hanya bisa memegangi kening dan terduduk di kursi.
__ADS_1
***
Sorenya Ariel berjalan keluar dari gerbang kampus untuk mencari taksi seusai kuliah seperti biasa, hingga tiba-tiba sebuah mobil berhenti mendadak di hadapannya. Gadis itu mundur melihat pintu mobil terbuka, terkejut saat mendapati dua pria keluar dan langsung memaksanya masuk ke mobil.
“Ada apa ini?”
Ariel panik tapi tidak bisa melawan. Ia kebingungan saat dua pria itu tidak bicara dan langsung mengapit dirinya agar tak kabur, hingga mobil melaju meninggalkan area kampus Ariel.
“Siapa kalian? Ini penculikan!”
Ariel mencoba mencari tahu apa yang terjadi, dia menengok ke kanan dan kiri memandang dua pria yang memaksanya masuk mobil, tapi tidak ada jawaban dari para pria itu. Hal ini membuat Ariel akhirnya pasrah mau dibawa ke mana.
Hingga akhirnya mobil itu berhenti di restoran, membuat Ariel semakin bingung dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Ariel diminta masuk ke salah satu ruangan yang ada di restoran itu, dan terkejut saat melihat siapa yang sudah menunggu di sana.
“Abil, Bu Niken?”
__ADS_1
Ariel memandang dua orang kesayangannya itu, hingga tatapannya jatuh ke sosok yang duduk berhadapan dengan Abil dan Niken.