Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 31 : Menutupinya Dari Papa


__ADS_3

Hari berikutnya, Roni menghubungi Meta. Ia tidak mendatangi wanita itu secara langsung karena tahu Gagah sedang berpura-pura keluar kota. Saat ponselnya berbunyi dan melihat nama Roni di sana, Meta memilih langsung menuju ke ruang kerjanya, karena kebetulan orangtua Meta menginap di rumah sang putri untuk menjenguk Azka.


“Saya sudah melakukan yang Anda perintahkan. Semalam saya sudah mengirimkan makanan yang sudah saya campur dengan racun itu,” ucap Roni dari seberang panggilan.


Meta pun menyeringai, “Bagus, sayangnya dia pasti masih hidup sekarang karena itu bukan racun asli,” ucapnya santai.


“A-a-apa nyonya?” Roni berpura-pura terkejut bahkan bertanya sambil terbata, di dalam hati dia gemas karena ternyata Meta benar-benar hanya ingin menguji kesetiaannya.


“Aku hanya ingin mengujimu, dan ternyata kamu bisa dipercaya,” puji Meta. “Tapi, aku punya tugas lain untukmu, kirimkan kepadaku foto suamiku!” perintah Meta dengan tatapan tertuju pada foto keluarganya yang ada di ruangan itu.


Roni sama sekali tidak terkejut dengan permintaan Meta, karena dia sudah mengantisipasi hal ini sejak Gagah berselingkuh. Ia mengiyakan permintaan Meta dan berkata akan mengirimkan foto Gagah segera.


Tak perlu waktu lama, setelah mematikan panggilan Roni pun membuka galeri, dia mengirimkan foto Gagah yang pernah diambilnya saat berada di luar kota lalu mengirimnya ke Meta. Setelah itu dia menghapus foto itu dari galeri agar nanti tidak terkirim dua kali saat wanita itu meminta lagi.


***


Sementara itu di apartemen, Gagah baru saja terbangun dari lelapnya. Dia tersenyum penuh kebahagiaan saat membuka mata, karena hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Ariel, gadis yang membuatnya mabuk kepayang semalam sampai bangun sedikit kesiangan.

__ADS_1


“Morning baby,” sapa Gagah saat melihat kelopak mata sang istri bergerak.


Ariel membuka mata dengan cepat saat mendengar suara Gagah, hingga melihat senyum menawan pria itu. “Pagi mas Gagah,” balas Ariel dengan senyum manis.


Gagah pun mempererat pelukan, sebelum mendaratkan kecupan di kening Ariel. “Mumpung aku libur, apa kamu ingin pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu?” tanyanya mesra.


Ariel tak langsung menjawab. Gadis itu nampak berpikir lebih dulu hingga Gagah yang gemas mencium keningnya dengan sedikit menekan.


“Em …. tidak usah kemana-mana. Kalau kita keluar, takutnya nanti ada yang melihat Mas.”


“Benar juga,” jawab Gagah seolah baru menyadari hal itu. “Lalu, apa yang mau kamu lakukan hari ini?”


Ariel mengedikkan kedua bahu kemudian tertawa, membuat Gagah gemas dan semakin erat memeluk, bahkan menciumi pipinya bertubi-tubi.


“Kamu sangat menggemaskan!”


Akhirnya Gagah dan Ariel hanya berada di apartemen karena tidak bisa pergi ke mana-mana. Keduanya memasak berdua sambil bercanda, menghabiskan waktu yang mereka miliki dengan gelak tawa. Setelah selesai memasak mereka pun makan , Gagah memberikan perhatian kepada Ariel, dari mulai mengambilkan lauk hingga menyuapi gadis itu.

__ADS_1


Selepas makan, kini mereka duduk di atas karpet ruang tengah. Gagah bersandar pada sofa dengan buku di tangan kanan, sedangkan Ariel duduk bersandar dadanya dan memegang buku dengan kedua tangan. Tangan kiri Gagah melingkar di bagian perut Ariel, memeluk gadisnya dengan sangat posesif.


Di Rumahnya, Meta nampak duduk di sofa sambil memandang kembali foto Gagah yang dikirimkan oleh Roni. Dia terus mengamati dengan seksama sambil memikirkan hubungannya dengan pria itu. Meta sampai tidak sadar karena Pradana—sang papa, ternyata sudah berdiri di belakangnya dan melihat apa yang sedang dia lakukan.


“Di mana Gagah?”


Pertanyaan Pradana membuat Meta terkejut. Wanita itu langsung bangun dan berdiri menghadap ke sang papa yang tadi berada di belakangnya. Dia tampak gelagapan, bahkan kebingungan mendengar pertanyaan itu.


“Mas Gagah ada kerjaan di luar kota selama dua hari,” jawab Meta.


“Begitu, tapi kenapa kamu tampak gelisah?” tanya Pradana lagi karena merasa sikap putrinya sangat aneh.


Meta semakin kebingungan mendapat pertanyaan seperti itu, hingga kemudian mencoba mencari alasan yang tepat.


“Aku tidak gelisah, hanya sedang menunggu Mas Gagah menghubungi,” jawab Meta sekenanya, dia tidak mungkin memberitahu Pradana tentang perselingkuhan Gagah, dia harus bisa menyembunyikan hal itu dari sang papa.


Pradana merasa aneh dengan cara bicara dan gerak-gerik Meta, tapi memilih mengangguk dan percaya. Namun, ketika putrinya itu pergi untuk melihat sang cucu, Pradana langsung menghubungi sekretaris yang merangkap menjadi orang kepercayaannya.

__ADS_1


“Aku ingin kamu menyelidiki sesuatu, cari tahu dimana dan apa yang dilakukan oleh Gagah saat ini!”


__ADS_2