
Arumi bergegas pergi ke rumah Rika untuk menemui Rehan. Jantungnya berdegup cepat, kedua tangan sedikit gemetar saat mengingat cerita Ariel. Bagaimana bisa pria yang dicintainya itu berbohong hanya karena takut dia bersedih.
Rika terkejut saat melihat Arumi datang, hingga gadis itu meminta izin untuk bertemu dengan Rehan. Rika berkata jika Rehan ada di halaman belakang, Arumi pun bergegas pergi ke sana, sedangkan Rika memilih mengekor dan memantau dari jauh karena penasaran.
“Re!” panggil Arumi.
Rehan yang sedang duduk di halaman belakang pun terkejut melihat kedatangan Arumi, hingga kemudian berdiri sehingga mereka kini saling berhadapan.
“Apa benar itu? Apa benar kamu sakit parah sehingga meninggalkanku dengan cara meminta Ariel menjadi istri palsumu?” tanya Arumi mencecar karena tak bisa lagi membendung kegundahan hatinya.
Rehan sangat terkejut mendengar pertanyaan Arumi, hingga hanya memandang kekasihnya itu tanpa bisa berkata-kata.
Rika masih berada di dalam rumah, hingga begitu syok saat mendengar ucapan Arumi.
“Katakan! Katakan kepadaku apakah yang diceritakan Ariel benar!” Emosi Arumi tidak terkendali, sampai menarik lengan Rehan karena pria itu hanya terdiam.
__ADS_1
Rehan tidak bisa mengelak, hingga akhirnya menganggukkan kepala sebagai jawaban jika apa yang diceritakan Ariel adalah benar.
Dada Arumi terasa begitu sesak mengetahui jika pria yang dicintainya mengidap penyakit mematikan. Hingga buliran kristal bening luruh dan membanjiri wajahnya yang ayu.
“Kenapa kamu begitu jahat, hah?” Arumi memukul dada Rehan berulang kali karena begitu terpukul. Bukan hanya karena Rehan sakit, tapi juga karena pria itu dengan tega membohonginya.
“Jika kamu memang harus pergi, aku akan tetap bahagia asal bisa menemanimu. Kenapa kamu malah tidak mengizinkanku bersamamu, kenapa?” Arumi berhenti memukul, kedua tangan kini seolah tak memiliki daya untuk menggerakkan.
Rehan meraih tubuh Arumi, kemudian mendekapnya begitu erat. “Maaf, aku benar-benar takut jika harus meninggalkanmu sendiri dalam kesedihan, karena aku mati.”
Malam harinya Gagah pergi ke rumah sakit dengan penuh percaya diri, meski gosip yang beredar belum reda. Dia tidak takut dicap aneh atau buruk, baginya kini yang terpenting adalah bisa menghabiskan waktu bersama dan menjaga Ariel dengan baik.
“Apa Mas Gagah sudah mengurus anak kita?” tanya Ariel.
Gagah sendiri berbaring di ranjang yang sama dengan Ariel, dalam posisi miring dan memeluk dari belakang.
__ADS_1
“Sudah, aku tadi menguburkan sendiri anak kita. Kamu tenang saja, dia pasti sudah bahagia sekarang,” jawab Gagah.
Ariel menarik napas panjang dan menghelanya kasar, dia mencoba merelakan kepergian janin yang belum bisa didengar tangisannya itu.
“Setelah kamu pulih, kita pulang ke rumah kita,” kata Gagah. Dia ingin mengajak Ariel menempati rumah baru yang belum sempat mereka tinggali.
“Iya, Mas. Lalu apa kita akan memulai semuanya dari awal?” tanya Ariel sambil melirik Gagah yang ada di belakangnya.
“Tentu saja,” jawab Gagah, kemudian mencium pundak sang istri.
Ariel merasa sedikit lega, meski dirinya kehilangan sang calon anak, tapi masih ada Gagah yang selalu mencintai dan menjaganya.
“Arumi tadi datang ke sini, aku menceritakan semuanya tentang Mas Rehan karena dia bertanya. Apa menurut Mas Gagah tindakanku sudah benar?” tanya Ariel. Takut jika apa yang dilakukannya menyakiti hati Arumi atau Rehan.
“Meski menyakitkan, tapi itu yang terbaik untuk Rehan dan Arumi. Mereka harus saling terbuka, karena bagaimanapun keduanya masih saling mencintai. Apa yang kamu lakukan sudah benar, semoga setelah ini mereka bisa bersama, meski pada akhirnya maut tetap akan memisahkan.”
__ADS_1