
Roni kembali ke ruang tamu dengan perasaan kesal, dia berpikir kenapa Gagah mencium Ariel di koridor dan dia harus melihatnya tadi. Rehan pun heran melihat Roni datang dengan ekspresi wajah kesal.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Rehan saat melihat Roni duduk.
“Tidak ada,” jawab Roni. Ia tentu tidak akan jujur melihat Gagah mencium sang keponakan.
Rehan pun mengangguk-angguk, kemudian melihat Ariel datang bersama Gagah membawa minuman.
Ariel menyuguhkan minuman ke meja, lantas diminta duduk di sebelah Gagah. Pria itu sendiri langsung menautkan jemari mereka begitu Ariel duduk.
“Apa pekerjaanmu?” tanya Gagah santai menatap Rehan.
“CEO perusahaan pariwisata, aku pemilik aplikasi traveling bernama RE-bahan,” jawab Rehan santai.
Gagah cukup terkejut dengan status Rehan, hingga melirik Ariel sebelum kemudian kembali menatap pria yang ingin menikahi istrinya itu.
“Jadi kamu yakin bisa melindungi Ariel? Bagaimana kalau aku tidak setuju?” tanya Gagah.
“Aku tidak perlu persetujuanmu, aku hanya perlu persetujuan Ariel,” jawab Rehan.
Gagah geram sendiri karena jawaban pria di hadapannya, tapi dia tetap mencoba menahan diri karena ada Ariel di sana.
Roni menengok arloji yang melingkar di pergelangan tangan, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.
__ADS_1
“Pak, kita tidak bisa tinggal berlama-lama di sini,” bisik Roni mengingatkan.
Ariel terkejut mendengar apa yang dikatakan Roni, hingga mengeratkan jemari yang sejak tadi digenggam Gagah, seolah tak ingin pria itu pergi.
Roni dan Rehan yang melihat hal itu pun menyadari. Mereka memilih pergi meninggalkan keduanya.
Ariel menatap Gagah tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia seolah tak ingin berpisah dengan suaminya itu. Namun, Ariel sadar jika dirinya tidak boleh egois, hingga akhirnya melonggarkan genggaman tangan.
“Aku pergi dulu, tapi aku minta kamu jangan kabur lagi, paham?” Gagah bicara dengan suara lembut.
Ariel hanya mengangguk mendengarkan ucapan Gagah.
“Aku akan menyelesaikan semuanya, jadi bersabarlah, dan tunggu aku!" pinta Gagah. Ia mengangsurkan tangan untuk mengusap perut Ariel, sebelum merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukan.
***
“Dia berani membuangku!” geram Meta sampai membanting vas yang ada di meja. “Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadanya!”
Meta tentunya tak akan tinggal diam, cepat-cepat dia menghubungi orang kepercayaannya.
“Aku ingin kamu menyebarkan foto-foto Gagah dan wanita sialan itu!” Meta langsung memberi perintah begitu panggilannya dijawab. Dia berniat menjatuhkan Gagah dengan foto-foto yang dimiliki oleh orang kepercayaannya.
“Maaf Bu, saya tidak berani,” jawab pria kepercayaan Meta dari seberang panggilan.
__ADS_1
Terang saja Meta kaget, biji matanya hampir copot mendengar ucapan pria itu.
“Apa maksudmu, hah?” tanya Meta dengan nada membentak.
“Saya takut. Pak Gagah sekarang adalah wali kota, kalau saya ketahuan menyebar foto itu, hidup saya bisa jadi akan menderita. Maaf saya tidak bisa.”
Panggilan itu berakhir, membuat Meta terkejut dengan mulut menganga. Ia megap-megap dan hanya bisa memandang ponselnya di tangan.
“Sialan!” umpat Meta semakin geram.
***
Di sisi lain, orang kepercayaan Meta memang takut berurusan dengan Gagah karena status dan posisi pria itu sekarang. Setelah mengakhiri panggilan dari Meta, dia lantas menghubungi Gagah.
“Halo, Pak Gagah?” tanya pria itu saat panggilannya dijawab.
“Ini siapa?” tanya Gagah balik dari seberang panggilan.
“Saya adalah orang kepercayaan Bu Meta. Saya menghubungi Anda karena memiliki foto-foto hubungan Anda dan ...." Orang itu bingung harus menyebut Ariel apa.
"Intinya Bu Meta berniat menyebar foto-foto itu untuk menjatuhkan Anda."
Pria itu akhirnya membocorkan rencana Meta, terlalu takut jika harus terlibat masalah dengan sang wali kota. Bisa-bisa dia dicoret Gagah sebagai warga.
__ADS_1