
Gagah pun menutup telepon dari Roni karena pria itu memintanya bertanya pada Ariel, dia lantas menoleh sang istri yang berada di sampingnya dengan raut muka kebingungan.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang tidak boleh aku ketahui?” tanya Gagah, dia merasa tidak senang karena ada yang ditutup-tutupi darinya.
Sementara itu, Ariel berpura-pura gusar. Meski di dalam hatinya dia senang karena Gagah terpancing.
“Riel, apa kamu tidak mau cerita?” tanya Gagah karena istri mudanya itu masih diam.
Ariel menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, sebelum akhirnya membuka mulut untuk bicara.
“Om Roni diminta istri Mas memberikan racun ke aku, tapi ternyata itu bukan racun. Hanya cairan biasa. Mungkin itu dilakukan mamanya Azka untuk menjebak Om Roni, sepertinya dia ingin tahu apakah om Roni setia kepadanya atau tidak. mungkin dia curiga kalau om Roni menjadi kaki tangan mas Gagah” Ariel menjelaskan dengan ekspresi wajah yang dibuat sedih dan takut.
__ADS_1
Gagah begitu murka mendengar penjelasan Ariel, satu tangannya bahkan nampak mengepal karena geram. “Keterlaluan dia!”
“Tenang, Mas.” Ariel mencoba menenangkan sang suami yang sudah terpancing emosi, padahal di dalam hati di tertawa karena memang inilah yang dia harapkan.
“Bagaimana jika nantinya Meta benar-benar memberikan racun, lalu meminta Roni atau orang lain untuk meracunimu? Tidak bisa dibiarkan!” Gagah tampak panik, dia berjanji di dalam hati tidak akan pernah membiarkan Meta sampai melukai Ariel.
“Kamu harus pindah dari sini, aku akan mencarikan tempat yang aman untukmu,” ucap Gagah kemudian.
“Pindah ke mana, Mas?” tanya Ariel berpura-pura bingung, meski di dalam hati dia merasa sangat senang karena Gagah pasti akan semakin membenci Meta. Di matanya sekarang, Gagah nampak kebingungan dan ketakutan. Pria itu tidak tahu jika sebenarnya Ariel tengah bersandiwara agar semakin menjeratnya.
Ariel tampak berpikir, hingga menggunakan kesempatan ini untuk bisa kembali mengambil rumah orangtuanya seperti yang dia impikan.
__ADS_1
“Kalau boleh memilih, aku ingin rumah orangtuaku saja, Mas. Aku akan merasa aman dan nyaman di sana. Aku juga tidak suka rumah besar dan mewah, lebih baik kecil tapi nyaman ditempati,” ujar Ariel dengan senyum di wajah dan bola mata sedikit berkaca.
Gagah tidak percaya Ariel hanya minta rumah kecil itu, hal ini membuatnya semakin yakin jika Ariel bukan gadis matre yang hanya mengincar hartanya. Dia pun semakin cinta pada gadis yang dijadikannya istri siri itu.
“Apa boleh, Mas?” tanya Ariel karena Gagah malah terdiam.
Gagah yang sedang mengagumi betapa sederhananya gadis itu pun terkejut. “Ya, tentu saja boleh,” jawabnya.
Ariel menatap Gagah, hingga kemudian melancarkan aksinya lagi untuk membuat pria itu semakin simpati dan terus membelanya. “Maaf ya Mas, karenaku hidup Mas jadi sulit. Sekarang Mas harus memikirkan di mana aku tinggal, memikirkan keselamatanku di saat Mas sendiri memiliki banyak beban dan urusan. Maaf karena sudah hadir dalam kehidupan Mas dan mba Meta, bahkan aku mungkin akan menghancurkan masa depan Azka karena hubungan Mas dan ibunya yang renggang. Kenapa aku harus bertemu dan mencintai saat Mas sudah menjadi suami orang? Aku menyesali ini, maaf!” ucap Ariel panjang lebar, dia kembali berpura-pura memasang wajah sedih bahkan hampir menangis setelah bicara seperti itu.
Gagah terkejut mendengar ucapan Ariel, dia bahkan merasa bersalah karena gadis yang dicintainya itu merasa sebagai perusak hubungan rumah tangganya dengan Meta. Dia pun merengkuh tubuh Ariel, memeluk gadis itu untuk menenangkan perasaannya. Ariel tersenyum mendapatkan pelukan hangat dari sang suami, sedangkan sorot matanya menunjukkan kesombongan karena rencana balas dendamnya ke Meta semakin berjalan mulus.
__ADS_1
“Kamu tidak perlu memikirkan apa pun lagi, karena semua yang terjadi juga pilihanku, bukan kesalahanmu semata,” bisik Gagah.
Setelah berbicara dengan Gagah. Ariel bergegas mengirimkan pesan ke Roni, dia meminta pria itu menyampaikan ke Meta jika sudah mengirimkan makanan yang sudah dicampur racun. Roni pun paham dan berkata akan memberi tahu Meta persis seperti yang sang keponakan minta.