
Rehan memanggil pembantu rumah, memintanya menyiapkan dan membawa barang ke kamar, juga mengajak Abil. Bocah itu nampak kebingungan dan hanya menurut. Langkah kecilnya lantas mengikuti pembantu rumah Rehan menaiki anak tangga rumah yang terbilang cukup mewah itu.
Sementara, Rika masih terus memandang Ariel dengan perasaan heran, apalagi Rehan langsung meminta pembantu membawa masuk Abil.
“Siapa dia, Re?” tanya Rika lagi.
Ariel menunduk karena takut, dirinya tidak siap jika tiba-tiba wanita yang ada di hadapannya itu mengamuk dan mencakarnya.
“Perkenalkan, dia Ariel—istriku, Ma.” Rehan menjawab sambil merangkul pundak Ariel senatural mungkin.
Ariel sendiri sedikit terkejut saat mendapat perlakuan seperti itu dari Rehan, tapi dia tahu jika itu hanya sebuah sandiwara agar Rika percaya.
“Apa? Tidak! apa kamu bercanda? April mop sudah lewat Re.” Rika menolak pengakuan putranya dengan sedikit emosional. Ia terus mengamati wajah Ariel, merasa pernah melihat gadis itu tapi lupa di mana.
“Dia benar-benar istriku, bahkan Ariel sedang mengandung anakku,” ujar Rehan untuk meyakinkan sang mama.
__ADS_1
Rika begitu syok mendengar ucapan Rehan, hingga terhuyung dan limbung, beruntung Ariel bergerak untuk menahan punggungnya. Ariel pun membantu ibunda Rehan itu untuk duduk di sofa.
Melihat ibundanya syok, Rehan sendiri langsung berlari ke dapur untuk mengambil minum, meninggalkan Ariel dan Rika berdua.
Rika terus memegangi kepalanya yang terasa pening, memandang Ariel yang berdiri di hadapannya dengan wajah panik.
“Apa yang dikatakan Rehan benar?” tanya Rika dengan suara bergetar karena syok.
Demi memuluskan sandiwara, tentu saja Ariel harus berbohong dengan berkata ‘iya’ ke wanita itu. “Iya tante, saya memang istrinya Mas Rehan. Saya juga sedang mengandung anak Mas Rehan,” jawab Ariel dengan suara lembut.
Rika semakin tak habis pikir, kepalanya benar-benar terasa berat mengetahui fakta yang baru saja disampaikan oleh Rehan dan dipertegas oleh Ariel. Dia tidak menyangka jika Rehan akan memiliki istri bahkan sudah mengandung tanpa sepengetahuannya. Putranya itu memang sedikit tertutup, tapi tetap saja hal seperti ini tidak dia harapkan terjadi.
“Kamu sudah menikah dan kini wanita ini sedang hamil. Lalu bagaimana dengan Arumi, Rehan? Kamu hampir menikah dengannya, apa kamu ini bercanda atau apa? bagaimana dengan Arumi? Kamu sedang mempermainkan perasaannya?” tanya Rika yang emosi karena tak habis pikir dengan perbuatan Rehan.
“Aku menyayangi Arumi, Ma. Tapi aku juga tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Aku sebenarnya pergi ke luar kota, hanya untuk melihat kondisi Ariel yang sedang hamil anakku. Bagaimanapun aku harus memperhatikan dia,” jawab Rehan menjelaskan, meski alasan itu hanya sebuah kebohongan.
__ADS_1
Rika megap-megap mendengar jawaban Rehan, seolah oksigen menolak untuk dihirup masuk ke paru-paru. Kepalanya semakin terasa pening, kenapa semuanya jadi seperti ini. Ia melirik Ariel, yang hanya diam menunduk tak berkata sepatah kata pun, gadis itu merasa takut dan bersalah karena telah berbohong hingga membuat Rika begitu syok.
Hingga tak Rehan dan Ariel sangka, Rika tiba-tiba ingat di mana pernah melihat wajah Ariel. Dia lantas memandang Ariel dengan seksama, dia yakin jika pernah melihat Ariel di salah satu siaran berita di televisi.
“Tunggu! Bukankah kamu yang digosipkan berselingkuh dengan wali kota baru saat ini?” tanya Rika setelah mengingat.
Ariel sangat terkejut mendengar pertanyaan Rika, foto dirinya memang tersebar luas, tak heran jika Rika sampai tahu.
“Berita itu bohong, Ma. Itu hanya taktik agar menjatuhkan wali kota, memanfaatkan siapa saja untuk disangkutpautkan, padahal sebenarnya tidak saling kenal. Ariel adalah istriku dan bukan selingkuhan siapapun.” Rehan pun membela karena tak mungkin tinggal diam dan membiarkan rencananya gagal.
“Jika Mama masih tidak percaya jika kami menikah di Jogja, aku bisa tunjukkan buku nikah kami,” imbuh Rehan karena merasa sang ibu takkan percaya begitu saja.
Ariel sangat terkejut dan merasa was-was dengan keberanian Rehan. Mana mungkin mereka memiliki buku nikah, sedangkan keduanya sama sekali tidak pernah mengurusnya. Saat kondisi sedang genting dan tegang. Ariel melihat hidung Rehan mengeluarkan darah, tentu saja hal itu membuat Ariel begitu panik.
“Mas Rehan!”
__ADS_1
***
Scroll ke bawah 👇