
Gagah tanpa sengaja bertemu dengan saingannya di pemilihan hari itu, mereka tengah berada di pertemuan rutin untuk membahas kesiapan serta pemantauan kegiatan para calon wali kota. Gagah memandang Faisal, pria yang menjadi saingannya serta yang diduga telah mengirim mata-mata untuk memantau dirinya dan Ariel.
Saat acara formal selesai, mereka pun bercengkerama saling membahas keseharian atau saling menjilat untuk mendapat dukungan dari parlemen.
Gagah mendekati Faisal, tersenyum ke arah yang lain hingga sedikit merapat ke saingannya itu.
“Kemarin aku menangkap basah seorang pria yang memata-matai keseharianku,” bisik Gagah. Pria itu bicara sambil tersenyum ke arah orang-orang yang ada di sana juga.
Faisal membulatkan bola mata, kemudian melirik Gagah yang ada di sampingnya. Saingannya itu bersikap santai sambil menyesap minuman di tangan.
“Apa hubungannya denganku? Kamu pikir aku peduli jika kamu dimata-matai,” elak Faisal untuk menutupi kegugupannya karena ketahuan memantau Gagah.
Gagah tersenyum sinis, dia sudah bisa menebak jika Faisal pasti gugup karena ucapannya.
“Memang tidak ada, tapi sayangnya aku mendapat info jika pria itu mengenalmu. Bagaimana ini?” Gagah memperhatikan ekspresi wajah Faisal yang tampak gugup.
“Seharusnya masalah seperti ini tidak perlu sampai menyangkut ke hal pribadi. Jika aku ingin, aku bisa bertindak hingga membuat nama baik lawanku hancur,” bisik Gagah meski lirih tapi mengandung nada mengintimidasi.
__ADS_1
Gagah menghabiskan minumnya, lantas pergi meninggalkan Faisal menuju ke apartemen setelah pertemuan itu.
Di sana Ariel langsung menyambutnya dengan senyum merekah. Gadis itu membuatkan kopi untuknya, menyuguhkan ke meja, kemudian ikut duduk di sebelahnya.
“Bagaimana tadi pertemuan Mas Gagah?” tanya Ariel.
“Seperti biasa, hanya pengecekan dan pembahasan persiapan pemilu,” jawab Gagah sambil memandangi Ariel. Entah kenapa melihat wajah istri sirinya itu membuat pikirannya sedikit tenang, setelah tadi sempat memanas.
Ariel mengangguk paham, hingga melirik Gagah yang sedang meminum kopi buatannya.
Gagah menoleh Ariel, raut wajah pria itu berubah cemas, takut jika Meta melakukan kekerasan lagi kepada sang istri muda.
“Dia tidak menganiayamu, ‘kan?” tanya Gagah.
“Tidak,” jawab Ariel sambil menggelengkan kepala.
Gagah bernapas lega mengetahui Meta tidak bertindak brutal ke Ariel, dia kemudian bertanya kenapa dan apa yang Meta bilang saat datang menemuinya.
__ADS_1
“Dia meminta aku untuk meninggalkan Mas Gagah, karena takut hubungan kita tersebar keluar. Aku bertanya-tanya, kenapa mba Meta sangat mencemaskan hal itu, sedangkan selama ini hubungan kita tertutup rapat. Aku pun tidak bercerita atau memberitahu tentang Mas Gagah ke siapapun,” ujar Ariel penasaran.
Gagah terdiam, mungkinkan Meta sampai bicara begitu ke Ariel karena masalah mata-mata tempo harim. Mungkin ada baiknya Gagah bercerita ke Ariel tentang pria yang memata-matai mereka agar gadis itu bisa sedikit waspada.
“Ada hal yang Mas nggak cerita ke kamu, takut kalau kamu cemas,” ucap Gagah sambil menatap Ariel.
“Cerita apa, Mas?” tanya gadis itu penasaran.
Gagah pun menceritakan tentang pria mata-mata yang memantau apartemen Ariel, juga bercerita Meta yang sudah menanganinya.
“Jadi, menurut Mas Gagah, mba Meta ke sini karena takut jika ada mata-mata lagi yang memantau hubungan kita?” tanya Ariel menebak.
“Ya, mungkin seperti itu,” jawab Gagah. “Tapi kamu jangan cemas, apa pun yang terjadi, aku juga tidak akan peduli dengan hal lainnya selain kamu,” kata Gagah sambil mengusap lembut rambut Ariel.
Ariel tersenyum lebar, lantas memeluk pinggang Gagah. Ia menyandarkan kepala dengan manja di dada suaminya itu.
“Aku akan waspada, Mas. Akan terus berusaha menjaga nama baik, Mas Gagah. Tenang saja!" bisiknya mesra.
__ADS_1