
Hari itu langit tampak begitu cerah, angin sepoi menerpa lembut. Deburan ombak memecah pantai, mendengungkan suara yang menyelinap di telinga.
Gagah mengajak Ariel, Abil, dan Azka pergi ke pantai. Menikmati kebersamaan setelah banyaknya kejadian yang menguras emosi dan tenaga.
Gagah berjalan bersama Ariel, mereka menautkan jemari dan langkah kecil kaki mereka menapaki pasir putih yang bersih.
Abil dan Azka berlarian saling mengejar, tak sekali dua kali Azka terjatuh tapi kemudian tertawa bersama Abil.
“Azka, Abil! Hati-hati!” teriak Ariel yang cemas karena kedua anak itu tidak mau berhenti berlari.
“Kakak tenang saja!” teriak Abil sambil melambaikan tangan, sebelum kemudian kembali mengejar Azka.
Ariel menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Azka dan Abil, sedangkan Gagah tertawa kecil.
“Kita sudah punya anak dua, ‘kan.” Gagah bicara sambil menatap Abil dan Azka yang masih berlarian.
__ADS_1
Ariel tertawa kecil mendengar ucapan Gagah, kemudian menghela napas lega karena mereka bisa berkumpul seperti ini.
“Ya, dua anak yang sebentar lagi beranjak dewasa,” balas Ariel yang juga menatap ke arah dua bocah itu yang masih berlarian.
Gagah menoleh Ariel, lantas melepas tautan jemari mereka, kemudian memindahkan tangan ke pundak istri sirinya itu dan merangkul dengan erat.
“Apa Pak Pradana tidak menginginkan merawat Azka?” tanya Ariel.
Dia dan Gagah masih terus mengayunkan langkah, mengikuti ke mana Abil dan Azka berlari.
“Tentu dia ingin, tapi aku tidak akan memberikan Azka kepadanya. Lagi pula Azka juga berkata ingin tinggal bersamaku, bagaimana bisa aku membiarkan Pradana membawanya,” jawab Gagah yang diakhiri suara helaan napas berat.
Gagah menoleh Ariel, memandang wajah wanita itu yang tertutup helaian rambut yang terkena angin. Dia menghentikan langkah begitu juga dengan Ariel. Ditatapnya lekat wajah sang istri, kemudian mengulurkan tangan dan menyingkirkan helaian rambut dari wajah, menatap lembut wanita itu penuh kasih sayang.
“Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita ke KUA, setelah ini kita akan dipandang sah di mata hukum dan masyarakat,” ucap Gagah, kemudian meraih telapak tangan Ariel dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
Ariel mengulas senyum dan mengangguk mendengar ucapan Gagah, setelah semua yang dilalui, kini dia dan Gagah bisa bersama tanpa ada berita buruk di luaran sana. Meskipun mungkin masih akan ada orang yang mengungkit masa lalu tentang dirinya yang menjadi orang ketiga, tapi itu tak masalah bagi Ariel, karena yang diinginkannya sekarang adalah hidup bahagia bersama Gagah.
“Nanti kita ambil buku nikahnya bersama,” kata Gagah kemudian.
Ariel begitu senang, hingga kemudian memeluk pinggang Gagah dan menyandarkan kepala di dada pria itu.
Gagah membalas pelukan Ariel, kemudian meletakkan dagu di pucuk kepala wanita itu.
“Terima kasih, Mas. Kamu sudah mencintaiku dengan tulus, membelaku meski aku salah dan mungkin cap pelakor tidak akan pernah hilang dari diriku,” ucap Ariel sambil menghidu aroma tubuh suaminya itu.
“Kamu tidak perlu berterima kasih. Apa pun yang akan orang katakan tentangmu, semua itu takkan mengubah penilaianku serta cintaku kepadamu,” balas Gagah.
Ariel mengangkat wajah hingga menatap Gagah, keduanya pun kini saling tatap dengan senyum penuh kebahagiaan.
Gagah mendekatkan wajah, hingga mendaratkan sebuah kecupan penuh kasih sayang di kening Ariel.
__ADS_1
“Terima kasih telah masuk datang kehidupku.”
TAMAT