
[ Papa ingin bertemu, sempatkan ke kantor Papa hari ini ]
Muka Gagah yang baru saja kembali dari acara bersama pendukungnya langsung masam, dia memasukkan ponsel ke kantung jas lalu membuang muka ke luar jendela. Roni yang melihat hal itu pun yakin ada sesuatu yang tidak beres, dia pun bertanya apa mungkin ada masalah.
“Tidak, aku hanya sedikit malas,” jawab Gagah. “Kita putar balik, aku harus menemui mertuaku,” titahnya ke sang asisten.
Roni pun melakukan perintah Gagah, kini dia tahu kenapa tiba-tiba saja wajah bosnya itu berubah masam. Sejujurnya Roni ingin sekali menyampaikan saran, bagaimanapun juga dia merasa bersalah ke Gagah karena memanfaatkan pria itu sebagai alat balas dendam sama seperti Ariel. Kemarin, Roni baru saja mendengar isi hati Ariel, dia merasa sangat kasihan ke sang keponakan.
“A … ku, menyukai mas Gagah. Ah … tidak Om, aku mencintainya. Semakin mengenalnya aku semakin tahu bahwa dia juga sangat menderita. Dia hanya ingin membalas budi ke pria yang merawatnya selama ini dengan menikahi Meta, tapi saat tahu dia bukan anak kandung Pak Wiryawan mertuanya berubah.”
“Tapi Riel, jika Gagah tahu awalnya kamu mendekatinya dengan niatan lain, apa kamu tidak takut jika dia akan membencimu?”
__ADS_1
“Aku takut, sangat takut. Untuk itu aku akan menutupi alasan sesungguhnya darinya seumur hidup, akan lebih baik jika dia menganggapku pelakor.”
Roni menginjak pedal rem bersamaan dengan akhir dari lamunannya. Ia pun melihat Gagah turun dari mobil dan masuk ke gedung perusahaan Pradana setelah memintanya menunggu. Roni memarkirkan mobil, setelahnya mematikan mesin dan membuka sedikit jendela. Pria itu mengirim pesan ke Ariel, mengadu bahwa Gagah tiba-tiba saja diminta datang oleh Pradana.
_
_
“Anda tahu saya sibuk dengan pemilihan.” Gagah tak memanggil mertuanya itu dengan sebutan ‘papa’ ini karena Pradana sendiri yang memintanya.
“Kamu tahu ‘kan kalau kamu tidak terpilih kamu harus meninggalkan Meta dan Azka.” Pria tua berhati jahat itu mengancam, seolah dirinya yang paling berkuasa dan benar. Pradana agak terkejut karena Gagah malah tersenyum dengan sudut bibir seperti sedang mencibir ancamannya.
__ADS_1
“Kenapa repot-repot menunggu, Saya akan meninggalkan putri dan cucu Anda sebelum pemilihan.” Gagah memulas smirk di bibir.
“Apa?” Pradana cukup terkejut karena pria di depannya ini berani balas mengancam.
“Apa Anda pikir saya masih berminat menjadi kuda tunggangan? Jika tidak terpilih saya harus bercerai, jika terpilih saya harus tetap bersama Meta? Menjadi menantu pria yang sudah tidak menginginkan saya di keluarganya?” Gagah berani, dia bahkan kembali tersenyum menghina Pradana. “Saya akan bicara pada Meta kalau …. “
“Beraninya kamu!” potong Pradana cepat, pria tua itu bahkan menggebrak meja.
“Jika Anda meminta saya datang hanya untuk membicarakan hal seperti ini, mengirimkan pesan saja sudah cukup, waktu saya sangat berharga.” Gagah menatap tajam Pradana sebelum memutar badan dan pergi dari sana. Ia berharap pria itu terkena serangan jantung dan mati setelah dia berani melawan seperti ini.
Gagah masuk ke dalam lift, tatapannya sangat dingin. Hingga sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Perlahan urat di wajah Gagah mengendur, dia tersenyum melihat pesan dari Ariel yang menggodanya dengan sebuah pesan dan dua buah gambar.
__ADS_1
[ Lingerie, aku mau beli di Be Shopping tapi bingung pilih yang mana, kalau Mas Gagah sedang tidak sibuk, pilihkan untukku ]